Mencuci kaki dan pameran kerendahan hati


Kemarin saya terlibat percakapan dengan seorang sahabat terkait dengan “membasuh kaki”. Bagi Anda yang belum tahu apa itu membasuh kaki, saya akan jelaskan secara singkat.

Dalam Yohanes 13 dicatat sebuah kisah yang luar biasa. Saat itu acara makan malam sebelum hari Raya Paskah. Yesus sedang makan malam bersama dengan murid-murid-Nya. Ia tahu bahwa waktunya akan segera tiba, Ia akan diserahkan dan dibunuh.

Jadi, ia berdiri, menanggalkan jubah-Nya, mengikat pinggangnya seperti yang dilakukan budak jaman itu, mengambil air dan mencuci kaki murid-muridNya.

image

Murid-murid-Nya kaget melihat apa yang dilakukan Yesus. Petrus bahkan hampir menolak ketika kakinya akan dibasuh Yesus. Namun Yesus berkata bahwa suatu saat Petrus akan mengerti dan bahwa saat itu Yesus harus melakukan itu untuk memberi teladan agar selanjutnya murid-murid dapat melakukan hal itu.

Selanjutnya saya akan menjelaskan tradisi basuh kaki di Israel saat itu. Israel merupakan sebuah negara di Timur Tengah, panas dan berdebu. Jika Anda baru berjalan kaki, maka dapat dipastikan kaki Anda dipenuhi debu, apalagi mengingat jaman itu alas kaki yang digunakan bukanlah sepatu tertutup, melainkan kasut yang menyerupai sandal.

image

Biasanya di depan setiap rumah, terdapat tempat untuk mencuci kaki. Tugas para budaklah mencuci kaki tuannya dan kemudian mengelapnya sampai kering.

Membasuh kaki adalah simbol dari “saling melayani” dan kerendahan hati yang diteladani oleh Kristus kepada murid-muridNya.

Sampai dengan jaman sekarang, orang Kristen dan Katolik sering menggunakan “basuh kaki” sebagai simbol. Beberapa gereja masih menyelipkan upacara membasuh kaki yang biasanya dilakukan petinggi (pimpinan/ketua) kepada anak buahnya.

Paus dan pemimpin Katolik lain pun melakukan hal ini saat dia akan dilantik, menunjukkan komitmennya untuk melayani dan merendahkan hati (beliau bahkan berimprovisasi dengan mencium kaki).

image

Bagi saya meminta pemimpin jemaat untuk melakukan ritual membasuh kaki adalah hal yang cukup masuk akal. Mengingat seringkali, sebagian besar… Baik, hampir semua… Hamba Tuhan besar yang sudah berkotbah kemana-mana memiliki kecenderungan ingin dilayani.

Saya pernah mendengar langsung dari mulut pendeta besar di Bandung bahwa baginya, mentalitas kerajaan adalah tunduk pada pemimpin. Ia melihat mentalitas kerajaan ini di Korea saat jemaat menghormati pemimpin gereja dengan menundukkan badan serendah-rendahnya.

Sebuah hal yang ironis, ketika pendeta yang bersangkutan mencuci kaki anak buahnya (biasanya hanya penatua, bukan jemaat… saya juga tidak yakin dia mau mencuci kaki jemaat yang kakinya terkena kutu air), namun di saat lain ia menuntut penghormatan, pelayanan dan pengagungan demikian besar dari anak buahnya.

Hal yang saya diskusikan dengan teman saya kemarin adalah soal Pameran Kerendahan Hati. Saya pernah menulis bahwa karakter kerendahan hati adalah karakter yang membingungkan. Anda mengaku terang-terangan bahwa Anda rendah hati, dan tidak ada seorang pun yang akan percaya. Anda mengaku bahwa Anda tidak rendah hati, dan semua orang akan langsung percaya.

Di jaman sekarang, ketika mencuci kaki tidak berarti apapun dalam tatanan masyarakat kita, menurut saya agak susah jika gereja tetap menggunakannya sebagai simbol. Karena maknanya tidak dapat diserap dengan maksimal oleh jemaat (mungkin jemaat lebih akan merasa terpukau jika melihat Bapak Pendeta mau mengambil sampah yang tercecer atau membantu anak sekolah minggu yang hampir muntah.)

Maksud saya begini:
Katakanlah gereja mengadakan sebuah ritual pembasuhan kaki, di mana Bapak Pendeta membasuh kaki penatua (atau baiklah, kita anggap saja beliau mau membasuh kaki jemaat yang memiliki masalah kutu air sekalipun). Lalu apa? Apakah hal ini lantas menunjukkan bahwa Bapak Pendeta yang baik ini memiliki hati yang melayani dan kerendahan hati.

Baik, jika ini dijadikan semacam pegingat dan pernyataan komitmen agar Bapak Pendeta yang terhormat ini rendah hati dan mau melayani, saya cukup bisa terima. Tapi apakah benar untuk memiliki kerendahan hati dan siap melayani dibutuhkan upacara semacam ini? Bukankah kerendahan hati dan sikap melayani itu hanya dapat dirasakan orang lain, dan bukan untuk diumumkan.

Saya mendengar kisah tentang seorang Pendeta besar yang menyuruh anak laki-lakinya mencuci kaki anak buahnya jika dia mau diberi kepercayaan berkotbah. Tidak masalah bagi si anak… Hal terburuk adalah bau kaki, toh yang penting mimbar sudah didapat dan dampak dari kotbah di mimbar adalah penghormatan yang lebih besar dari jemaat?

Jika memang demikian, apa artinya upacara membasuh kaki?

Pertanyaan penutup saya adalah, jika Anda mau mendapat pangeran, apakah Anda harus menjadi upik abu alias pembantu dulu?

Jika Anda ingin dilihat rendah hati di jaman sekarang, haruskah Anda membasuh kaki dahulu?

Saya yakin inti dari perintah Yesus bukanlah mencuci kaki, tapi saling melayani saling mendahulukan dan rendah hati.

Advertisements