Semakin lama saya semakin sulit menemukan hal-hal menarik untuk dituliskan di sini. Sayang sekali, bukan? Padahal dulu saya bisa melihat hal menarik dari kejadian setidak penting apapun… Yah, mungkin faktor usia.

Tapi kejadian hari ini harus dituliskan. Sebuah kejadian yang cukup membanggakan dalam hidup saya… Sampai berita ini dituliskan, bibir saya masih jontor dan mati rasa… Sedih sekali..

Akhirnya saya berhasil mengalahkan rasa trauma saya akan operasi gigi…. Yeah, operasi gigi!!!!

Dua belas tahun yang lalu saya menjalankan operasi untuk mengangkat geraham bungsu saya sebelah kanan. Dampak dari operasi tersebut adalah bengkak luar biasa sampai mata kiri saya bisa melihat pipi kanan saya sendiri (coba Anda bayangkan).

Selain itu, saya tidak bisa membuka mulut saya selama 10 hari. Sampai-sampai melepas jahitan operasi ditunda karena saya tidak bisa membuka mulut.

Delapan tahun kemudian, empat tahun yang lalu, geraham bungsu kiri saya sudah tidak tahan ingin menyusul saudaranya. Karena trauma dengan tempat sebelumnya, saya mencari tahu tempat lain yang bisa mencabut geraham bungsu saya bagaimanapun caranya.

Dengan rekomendasi seorang teman, saya pergi ke dokter gigi muda yang katanya bisa mengoperasi. Tanpa meminta rontgen panoramic, beliau berusaha mencabut gigi saya dengan menggunakan semacam cungkil gigi. Bukannya terlepas, gusi saya mengeluarkan banyak darah dan suntik kebal yang diberikan tidak terlalu berpengaruh.

Dokter itu sepertinya ketakutan dan menyuruh saya pulang saja dan kembali lagi lain waktu (padahal saya sudah bayar dan uangnya tidak kembali sampai hari ini karena saya malas datang lagi ke sana).

Beberapa bulan belakangan geraham bungsu ini sangat bermasalah sampai-sampai gusi di belakangnya terus menerus mengeluarkan darah sepanjang waktu.

Setelah bermodalkan keberanian dan mengingat bahwa cepat atau lambat memang si kecil ini harus dicabut, maka kemarin saya berinisiatif merontgen panoramic gigi geligi saya dan tadi saya memberanikan diri untuk ke klinik tempat saya melakukan operasi gigi pertama kali, hanya saja dengan spesialis bedah mulut yang berbeda.

Setelah mendapat tiga kali suntik bius lokal utama dan beberapa kali suntik bius lokal bonus, akhirnya dokter gigi itu mulai mengoperasi saya. Saya kasihan sekali dengan dokter gigi itu. Berkali-kali dia meminta (bahkan setengah memohon) agar saya tidak tegang dan membuka lebar mulut saya. Yah… Sulit memang menghilangkan trauma jika kita sudah memilikinya.

Tapi berita baiknya, tidak ada lagi geraham bungsu yang bisa dicabut dari mulut saya (syukurlah), sehingga saya terpaksa menghilangkan trauma operasi geraham bungsu dari diri saya.

Saat ini saya sudah tidak apa-apa, efek bius lokal masih terasa dan bibir saya masih sedikit sulit meminum dari gelas. Belum tau apakah saya akan bengkak atau tidak, tapi saya sudah bisa membuka mulut dan makan sekarang.

Intinya, kadang kita memelihara masalah karena terlalu takut melepasnya. Kita takut melepasnya karena kita pikir akan sakit saat masalah itu terlepas.

Tapi percayalah, setelah masalah itu diselesaikan, rasa sakit yang ditimbulkannya tidak akan sebesar masalah yang akan timbul karena memelihara masalah yang mungkin akan menimbulkan rasa sakit yang lebih besar (ribet ya… Intinya begitulah)

Disederhanakan, suatu saat masalah harus diselesaikan. Kenapa menunggu nanti jika bisa diselesaikan hari ini. Karena nanti, mungkin masalahnya terlanjur akan lebih besar.

Advertisements