Holiday Day 6: Going Home, anak-anak yang menangis, dan muntahan


Akhirnya kami tiba di hari terakhir…hari kepulangan! Hari ini kami menghabiskan sangat banyak waktu di bandara. Kami dijemput pk.08.00, tiba si bandara 40 menit kemudian untuk kepergian pk.11.10.

Jika Anda melihat keluar jendela dari bandara, Anda akan melihat bahwa Vietnam sedang membangun

image

Masih luasnya lahan-lahan di Vietnam, tenaga kerja murah dan pemimpin yang mulai terbuka dengan dunia luar sepertinya akan mengantarkan Vietnam untuk maju… Jika saja Indonesia bersikap seperti kelinci bodoh yang tidur di setengah perjalanan, maka mudah sekali bagi Vietnam untuk mengalahkan kemajuan Indonesia.

Kami tiba di Bandara Changi pk. 15.30 waktu setempat dan baru akan pergi lagi pk.22.40 waktu setempat. Hal lucu dari perjalanan saya adalah banyaknya anak yang menangis. Dimulai dari seorang anak bule berusia sekitar 4-5 tahun yang tiba-tiba saja menangis berteriak di pesawat berkata “huaaa…. I’m hungry…. Huaaaa”. Orang dewasa manapun akan bisa menebak bahwa menangis dijadikan senjata anak ini untuk mendapat apa yang ia inginkan. Lucunya, anak yang sama keluar dari pesawat sambil bernyanyi riang… Entah apa yang terjadi in between.

Anak bule kedua yang saya temukan menangis di bandara. Pertama saya melihat anak berusia 7-8 tahun ini adalah ketika ia diajak ibunya berlari cepat ke toilet. Anak ini terjatuh cukup keras namun tidak menangis, langsung bangkit dan berlari menyusul ibunya. Entah apa yang terjadi sekitar 10 menit kemudian anak ini mengamuk di daerah sekitar ruang tunggu penjemput (rupanya mereka sedang menjemput teman atau keluarga di airport). Ia menangis dengan rebahan di lantai, mengeluarkan seluruh isi tasnya di lantai, membuat neneknya kewalahan dan mamanya melihat ke arahnya dengan putus asa. Kami meninggalkannya dan tidak tahu apa akhirnya. Namun orang dewasa manapun akan tahu bahwa anak ini menangis marah, ia sedang protes akan sesuatu.

Anak ketiga yang saya temukan menangis berusia sekitar 3-4 tahun. Seorang anak China lucu yang saya lihat sambil menunggu Check In, menangis tanpa suara. Saat mamanya membuka mantelnya, tiba-tiba saja ia memuntahkan sesuatu seperti bubur ke Lantai bandara. Dapat Anda bayangkan? Changi yang megah dimuntahi? Bukannya segera membawa anak ini ke Toilet, ayahnya malah menepuk-nepuk punggungnya hingga anak ini muntah banyak sekali dua kali lagi.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan orang China, keluarga ini pergi begitu saja tanpa peduli dengan muntahan yang mereka tinggalkan… Tidak ditutup tissue ataupun menghubungi petugas. Saya yang berada di dekat situ merasa bertanggungjawab memberitahu siapa saja yang hampir menginjak muntahan itu untuk berhati-hati. Akhirnya saya tidak tahan dan memberitahu bagian information yang berada dekat situ (dan seharusnya melihat kejadian itu) bahwa ada muntahan di dekat situ. Ia memasang wajah terkejut dan berjanji akan memanggilkan cleaning service untuk membersihkannya.

Lucunya, hingga 45 menit kemudian tidak ada satu pun cleaning service yang datang, hingga saya akhirnya meninggalkan tempat itu untuk makan malama. Saya pikir jika itu terjadi di Indonesia, kita akan mudah sekali memanggil Cleaning Service untuk membersihkan muntahan itu.

Anak yang paling saya kagumi adalah yang ketiga. Air mata dan wajah memerah seharusnya merupakan bentuk komunikasi bahwa ada sesuatu yang salah sedang terjadi. Anak ini tidak sedang pura-pura atau marah… Anak ini berusaha memberitahu, sayangnya orangtuanya gagal untuk memahami maksud anak mereka.

Setelah makan, menunggu, mengamati keadaan dan membaca-baca, akhirnya tiba juga waktu kami pulang ke Bandung.

Dapatkah Anda bayangkan perasaan saya dan semua orang lainnya ketika memasuki bandara Bandung dari Changi? Tanpa Garbarata, kami berjalan kaki cukup jauh ditemani gerimis dari pesawat ke bagian imigrasi yang kecil dan sempit.

Hal menarik lainnya adalah prinsip gotong royong yang diusung di tempat pengambilan bagasi. Jika Anda menunggu bagasi, Anda harus dapat bergotong royong membantu menggeserkan tas yang keluar agar ada tempat untuk tas yang baru keluar.

Kami keluar dari bandara dalam keadaan malu… Entah apa yang ada di pikiran warga negara lain jika kota pertama yang mereka datangi di Indonesia adalah Bandung (belum lagi toilet sempit yang masih jongkok, becek dan tidak ada tissue).

Okay, saya merasa sangat lelah dan butuh istirahat… Sekian tulisan tentang liburan… Holiday is over, hari Senin, we’ll back to work… Gut Nite

Advertisements