Holiday day 3: Pemimpin yang dicintai, primitif dengan tujuan dan malam tahun baru


Bagaimana saya dapat menggambarkan kota Hanoi tempat kami menginap?

Rumah-rumah di Hanoi berderet-deret, kecil namun tinggi, demikian juga toko-toko yang ada di pinggir jalan. Malah ada toko yang lebarnya tidak sampai 1 meter.
image

Trotoar yang lebar hampir tidak dapat dipakai jalan karena banyaknya motor yang parkir dan orang-orang yang makan di pinggir jalan (di Vietnam ini orang-orang sepertinya biasa membawa bekal, kursi kecil dan duduk di pinggir jalan untuk makan)

image

Hari ketiga kami dimulai ketika kami dijemput oleh seorang anak muda tampan yang berbicara bahasa Inggris dengan logat Vietnam bernama Tommy. Tommy akan menjadi tour guide kami selama satu hari.
image

Kemudian kami dibawa ke Ho Chi Minh Complex yang terdiri dari Mausoleum dan Presidential Palace. Jika Indonesia boleh berbangga akan keramahannya, orang Vietnam boleh berbangga akan kesetiaannya pada pemimpin besar mereka. Ho Chi Minh Mausoleum adalah persemayaman terakhir Ho Chi Minh, tempat Ho Chi Minh tidur lelap untuk yang terakhir kalinya.

Pertama- tama kami mengantri berdua-dua untuk melewati pemeriksaan. Kami tidak diijinkan membawa kamera saat memasuki Mausoleum. Mereka tidak mengijinkan orang luar mengambil gambar Ho Chi Minh, bukti pertama sikap hormat mereka pada Sang Pemimpin.

Saat mengantri, saya yang waktu itu salah kostum (memakai celana pendek dengan lengan pendek – mengingat saat itu musim dingin) diminta untuk menutupi tangan dan kaki saya. Akibatnya, dengan terpaksa saya menutupi kaki saya dengan Pashmina dan memakai jaket, hingga saya berpenampilan aneh sekali. Rupanya rasa hormat memilih sopan santun daripada mode… Ya sudahlah…

Setelah melewati pemeriksaan, kami berbaris dua-dua, di mana kami tidak diijinkan tertawa, memasukkan tangan ke saku atau memakai topi. Bukti ketiga rasa hormat mereka pada Sang Pemimpin.
image

Saat memasuki Mausoleum kita akan menangkap bau formalin yang cukup menyengat penanda bahwa di atas ada Sang Pemimpin yang dicintai dan akan selalu terlihat hidup.

Di ruangan utama kita akan mengitari Sang Pemimpin yang sedang tertidur pulas. Dia benar-benar terlihat masih hidup sehingga saya hampir yakin kalau dia akan bangun untuk makan siang.

Tandu tempat Sang Pemimpin dijaga oleh empat orang pria berpakaian tentara khas Vietnam yang berdiri di sudut-sudut tandu dengan sikap sempurna (menurut Tante saya ada penjaga yang matanya mengikuti saya karena keanehan pakaian saya).

Keluar dari Mausoleum kami melewati tempat di mana para pengunjung diperkenankan mengambil kamera karena kami bebas berfoto dengan latar belakang Mausoleum.
image

image

Dari situ kami melanjutkan ke Presidential Palace, tapi kami hanya sampai ke pelataran karena gedung itu masih digunakan untuk pemerintahan.
image

Dari situ kami melanjutkan perjalanan ke Vietnam Ethnology Museum, sebuah Museum yang berisi kebudayaan Vietnam.
image

Pertama-tama kita akan menemukan sebuah tiang yang digunakan saat acara perayaan ucapan syukur mereka.
image

Kemudian kita akan melihat kelima etnis yang ada du Vietnam:
image

Orang Vietnam percaya bahwa Vietnam merupakan asal muasal dari negara-negara di Asia Tenggara. Salah satu etnis mereka, Austronesia, merupakan asal muasal Indonesia. Cukup masuk akal menurut saya melihat kemiripan budaya antara Vietnam dengan beberapa suku di Indonesia.

Selanjutnya kita melihat kebiasaan, budaya, produk-produk, dan cara hidup orang Vietnam hingga saat ini.

image

image

image

image

Salah satu bagian di museum itu adalah galeri foto yang merupakan persembahan dari Jean Marie, seorang fotografer Perancis. Foto tersebut diambil pada tahun 1950, menggambarkan kehidupan suku-suku di Vietnam. Percaya atau tidak kehidupan mereka sampai sekarang masih seperti itu.

Berbeda dengan suku-suku pedalaman di Indonesia yang memang tidak terjangkau, suku-suku di Vietnam sering menerima kunjungan wisatawan. Bahkan ada tour yang mengatur ke sana. Mereka memang sengaja dibiarkan seperti itu (tetap terbelakang) untuk menarik wisatawan.

image

image

image

image

Dari situ kami memasuki kompleks yang terdiri dari rumah – rumah suku-suku di Vietnam… Rumah-rumah tersebut menyerupai rumah-rumah yang ada di Jawa Tengah, Papua, Kalimantan.
image

image

image

image

image

image

image

image

Dari situ seharusnya kami ke Temple of Literature. Tapi karena guide kami terlalu banyak bertanya mengenai Indonesia daripada kami dijelaskan mengenai Vietnam, maka kami kehabisan waktu dan tidak sempat ke Temple of Literature (kami rasa dia sengaja melakukannya).

Jadi, dari situ kami buru-buru makan siang. Kalau kemarin kami makan Bun Dau, hari ini kami makan Bun Cha dan Spring Roll. Ternyata orang Vietnam menggunakan Bun (rice noodles / misoa) sebagai ganti nasi karena lebih murah. Bun Cha berarti Misoa daging. Seporsi Bun Cha terdiri dari semangkuk daging babi dan perkedel babi yang bagian bawahnya diberi pepaya mentah, sayur-sayuran khas Vietnam, dan Bun.

Spring Roll adalah makanan seperti Lumpia, berisi bun, daging, dan sayuran dibungkus Rice Paper (berfungsi seperti kulit lumpia, tapi bentuknya seperti kertas roti)

image

image

Setelah makan kami jalan kaki ke Thang Long Theatre, tempat kami menonton Water Puppet Show.

image

image

Water Puppet Show adalah permainan boneka di atas air, digerakkan dengan tongkat oleh beberapa orang dalang. Diiringi oleh sekumpulan pemain musik daerah dengan dua orang sinden.

image

Sebenarnya pertunjukkan ini cukup unik. Hanya saja, tidak dapat dimengertinya bahasa pengantar yang digunakan dan terlalu lamanya satu scene membuat banyak penonton merasa mengantuk.
image

image

image

image

Pertunjukkan ditutup oleh keluarnya para dalang, sekumpulan anak muda yang tampan dan cantik

image

Dari situ kami ke hotel untuk beristirahat dan kemudian keluar untuk membeli souvenir, agak kerepotan dengan bahasa dan pulang kembali ke hotel untuk beristirahat.

Tadinya kami mau merayakan malam tahun baru di Hoan Kim Lake, dekat hotel. Tapi kemudian kami baru tahu bahwa warga Vietnam tidak merayakan tahun baru Gregorian. Mereka merayakan tahun baru Imlek karena menggunakan Lunar Calendar. Jadi, kami memilih tidur di hotel saja.

Besok kami akan dijemput untuk melanjutkan liburan di Halong Bay. Sampe besok

Ps: dipostkan terlambat due to network error

Advertisements