Antara hukum probabilitas, logika dan iman


Pagi tadi saya dikejutkan dengan berita dari tante saya di Surabaya yang mengabarkan hilangnya pesawat Air Asia QZ 8501 jurusan Surabaya-Singapore hilang.

Hal yang menarik dari berita itu adalah bahwa besok hari tante saya akan naik pesawat yang sama dengan tujuan sama dan jam keberangkatan yang sama. Tante saya mengaku gemetar mendengar berita itu… Mungkin karena membayangkan dirinya menjadi bagian dari penumpang yang ada di pesawat iti, atau membayangkan bagaimana jadinya jika memutuskan berangkat satu hari lebih awal.

Berusaha berpikir positif saya mengatakan pada tante saya bahwa hal positif dari kejadian ini adalah mereka akan memastikan bahwa keberangkatan besok akan melewati rute yang aman dengan pesawat yang diperiksa berkali-kali. Kemudian saya juga mengatakan bahwa takdir berada di tangan Tuhan. Suka atau tidak, siap atau tidak, saat waktunya tiba, kita akan dipanggil pulang, dengan cara apapun.

Setelah itu saya merasa apakah saya jahat… Saya pernah berkata bahwa alasan bersyukur bukanlah krn apa yang terjadi pada orang lain, tapi karena apapun yang kita terima seharusnya tidak kita terima, tapi Tuhan tetap memberikannya. Namun kemudian saya berpikir…. Beberapa hal dalam hidup memang berada di luar jangkauan kita, entah itu akibat dari sebuah kesalahan atau terjadi begitu saja. Justru saat-saat seperti itu kita harus makin menyadari bahwa hidup manusia berada di tanganNya.

Pulang ke rumah saya bertemu dengan Mama saya yang juga sedang mendengarkan berita menyedihkan itu di TV. Saat saya mengatakan hal serupa pada Mama, Mama berkata: “iya. Masa sih dua hari berturut-turut  ada dua pesawat hilang.” Saya tertawa mendengarnya dan berkata, “ya, itu hukum probabilitas yang bagus”.

Tak lama saya mendapat bbm dari teman saya yang mengetahui kepergian saya dan keluarga besok. Saya menjawab, “Menurut hukum probabilitas, kecil sekali kemungkinan sebuah peristiwa dengan peluang kejadian kecil terjadi dua kali berturut-turut.

Menurut logika, besok crew Air Asia akan mengecek dengan baik seluruh pesawat dan rutenya, baik untuk Bandung-Singapore maupun Surabaya-Singapore.

Menurut iman, takdir itu ada di tangan Tuhan. Jika sudah waktunya, maka jangankan pesawat, angin pun bisa menjadi cara kematian kita.”

Saya tidak bermaksud mengecilkan peristiwa hilangnya Air Asia QZ 8501. Sejujurnya, saya benar2 berdoa agar pesawat itu selamat. Tapi ini termasuk kejadian yang berada di luar jangkauan manusia. Pasrah dan berharap merupakan cara terbaik menanggapinya.

Lagipula,
“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6:27

Oya, besok saya tidak akan dapat dihubungi melalui BBM atau WA, kecuali saya menemukan wifi. Kami sekeluarga dan Tante-Om saya dari Surabaya akan menghabiskan akhir tahun di Vietnam.  Saya bisa dihubungi melalui email ke contact@greissia.com.

Menutup tulisan ini saya akan mengutip apa yang imam Eli katakan, “Dia Tuhan, biar diperbuatNya apa yang dipandangnya baik”

Advertisements