Kemarin saya dan beberapa teman remaja menonton sebuah film yang ide ceritanya (kelihatannya) dari Alkitab: Exodus.
image

Jika Anda seorang Kristen, Anda akan langsung mengetahui bahwa film ini (seharusnya) diambil dari kitab Keluaran (Exodus), dimana Musa memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, lepas dari penjajahan bangsa Mesir.

Tulisan saya kali ini kemungkinan sangat panjang karena akan berisi review film (maaf buat yang belum menonton) dan beberapa pandangan saya mengenai beberapa bagian dari film itu. Jadi, buat Anda yang penasaran dengan pandangan saya… Eh, maksud saya dengan film itu.. Selamat membaca!

Exodus the movie diawali dengan adegan demi adegan yang menunjukkan keakraban antara Musa, anak Putri Firaun dengan sepupunya, Ramses, anak dari Firaun yang berkuasa saat itu.

Musa digambarkan sebagai seorang yang baik sekali dalam berperang dan berstrategi, menyayangi Ramses seperti saudara kandungnya sendiri,  bahkan menyelamatkan hidup Ramses dalam sebuah pertempuran.
image

Kemudian diceritakan bahwa Musa menemui para penatua dalam kunjungannya ke Pitom, kota perbekalan yang dibangun bangsa Ibrani di Mesir. Penatua memberi tahu Musa bahwa ada ramalan (nubuat)  bahwa akan ada penyelamat bangsa Israel dan bahwa Musa sebenarnya adalah salah satu dari mereka,  orang Ibrani.
image

Mereka menceritakan bahwa saat dilahirkan Musa diserahkan kepada Miriam, kakaknya… Agar luput dari pembunuhan bangsa Israel.  Miriam menaruhnya di keranjang dan menghanyutkan keranjang itu hingga ditemukan oleh putri Firaun yang kemudian mengangkatnya menjadi anaknya dan menjadikan Miriam sebagai hambanya yang bertugas mengasuh Musa dan Ramses.

Musa menolak untuk mempercayai cerita ini dan tetap yakin bahwa dirinya adalah anak dari Bithia,  putri Firaun dan ayahnya adalah jendral Mesir yang hebat.
image

Kegagalan pertama cerita ini menurut saya adalah menghilangkan tokoh ibu Musa. Dengan hilangnya tokoh ibu Musa, maka hilang juga harapan bahwa Musa dibesarkan dalam pengenalan akan Yahweh, Tuhan Abraham,  Ishak,  dan Yakub.

Dengan hilangnya tokoh ibu Musa, hilang juga harapan bahwa Musa mengetahui jati dirinya sebagai bangsa Ibrani.

Kisah berlanjut ketika ternyata ada mata-mata Ibrani yang mendengar saat penatua Israel menceritakan jati diri Musa.  Mata-mata itu juga melihat bahwa Musa membunuh orang Mesir yang mengatainya “budak” (bandingkan dengan kisah AlKitab dimana Musa membunuh orang Mesir untuk membela bangsanya)

Mata-mata Ibrani itu kemudian menceritakan kepada gubernur Pitom yang tidak disukai oleh Musa yang kemudian menceritakannya kepada Ramses yang saat itu sudah jadi raja Mesir menggantikan ayahnya.

Di sini kita akan melihat bagaimana Musa tetap yakin pada pendiriannya bahwa ia adalah orang Mesir.
image

Ramses kemudian memanggil Miriam dan menanyainya perihal hubungannya dengan Musa dan Miriam menyangkal bahwa ia adalah kakak Musa,  mungkin untuk keselamatan nyawa mereka berdua.

Ketika Ramses menyadari bahwa Miriam berbohong (dengan menggunakan metode melihat pupil mata Miriam), ia berniat memotong tangan Miriam.  Tidak tega melihat tangan pengasuhnya dipotong,  akhirnya Musa berteriak bahwa Miriam adalah kakaknya.  Namun saat itu ia melakukannya untuk membela pengasuhnya dan sama sekali belum menerima kenyataan bahwa ia adalah orang Ibrani.

Ia baru menerimanya dengan berat hati ketika akhirnya Bithia menceritakan bahwa Musa memang bukan anak kandungnya. Bithia menceritakan kisah ini sebelum Musa ditinggalkan dalam pembuangan di gurun.

Kegagalan berikutnya dari kisah ini adalah kegagalan menceritakan tokoh Musa yang memiliki jiwa nasionalis tinggi terhadap Israel dan bukan Mesir.  Tentu saja ini merupakan akibat dari kegagalan pertama yang sudah saya bahas di atas.

Dalam Taurat (yang ditulis oleh Musa sendiri) diceritakan bahwa Musa lari ke Padang gurun setelah membunuh orang Mesir dan menemukan kenyataan bahwa justru bangsanya tidak mengenalnya dan sama sekali tidak menghargai pembelaan Musa.

Dalam Taurat dikisahkan bahwa dengan kekuatan sendiri Musa tidak akan sanggup menyelamatkan bangsanya (yang diceritakan juga oleh film ini tapi dengan cara berbeda… Nanti kita akan bahas)

Tanpa Musa yang memiliki nasionalis tinggi kepada bangsanya,  akan sulit untuk penokohan Musa berikutnya, dan memang itu akan kita lihat kemudian. 

Dengan menggambarkan Musa sebagai pribadi yang sombong dan arogan,  kita sekali lagi menghadapi persimpangan jalan antara benar dan salah kisah ini… Dan sayangnya kisah ini makin tersesat karena kegagalan kedua yang diakibatkan kegagalan pertama ini.

Musa kemudian berjuang antara hidup mati di gurun sampai dia berjumpa dengan Ziphora,  putri Yitro. Selebihnya hingga pernikahannya,  kisah ini sesuai dengan apa yang kita temui di Taurat.

Kisah ini sesuai dengan Taurat sampai kita menemui keanehan dan kegagalan selanjutnya.  Ketika Musa diceritakan tetap tidak mengenal Tuhannya orang Israel.

Suatu saat Musa penasaran dengan Gunung Tuhan (Horeb)  yang diceritakan anaknya. Ia kemudian menggembalakan ternak ke gunung itu namun kemudian dihadang dengan badai yang menyebabkan kepalanya terantuk batu dan dia terjebak dalam lumpur,  dalam keadaan telentang.

Dalam posisi demikian ia melihat semak terbakar dan suara yang memanggil “Musa”. Tak lama kemudian ia melihat seorang anak kecil emosional yang mengatakan dia membutuhkan seorang jenderal yang dapat memimpin umat yang besar. 

Saya menemukan bahwa anak itu ternyata digambarkan sebagai Tuhan (atau utusan-Nya,  entahlah). Ketika ditanya “Who are you?” oleh Musa, anak itu menjawab “I Am” kemudian layar gelap dan tiba-tiba Musa sudah berada di kamar dalam keadaan menggigil dan dirawat oleh Ziphora.

Kegagalan ketiga dari film ini adalah kegagalan mereka menggambarkan kekudusan Tuhan.

Mereka menggambarkan Tuhan sebagai pribadi pemarah yang tidak perlu diperlakukan hormat. Pribadi yang tidak memperkenalkan diriNya dengan benar. Pribadi yang bahkan tidak menuntut rasa hormat.

Tidak ada tongkat yang berubah menjadi ular dan tangan yang menjadi kusta dalam film ini.  Rupanya si pembuat film tidak melihat pentingnya demonstrasi kuasa Tuhan yang akan membangun iman Musa untuk langkah berikutnya.

Hingga akhir kisah kita akan melihat Tuhan yang seperti apa yang saya gambarkan di atas.  Tuhan yang dimarahi Musa berkali-kali dan senang karena walau Musa sering tidak sependapat dengan Dia (dan sebaliknya)  namun Musa tetap menemuinya di atas gunung.

Kegagalan ketiga ini kembali membawa kita ke sebuah persimpangan yang akan membawa kita ke kegagalan berikutnya.

Kemudian entah karena pemikiran apa,  Musa pamit pada istri dan anaknya untuk pergi ke Mesir karena tugas menjadi jenderal yang diberikan kepadanya. Bandingkan dengan apa yang Musa tulis di Taurat di mana ia membawa serta istri dan anaknya kembali ke tanah Mesir.

Entah mengapa tapi saya melihat alasan Musa menerima tugas itu karena kerinduannya menjadi jenderal, dan bukannya taat kepada Tuhan.  Film ini jelas menyebutkan jenderal sementara Alkitab menyebutnya utusan..

Selanjutnya kemudian Musa kembali menemui Nun, penatua Israel yang menceritakan soal jati dirinya.  Ia kemudian diperkenalkan kepada Harun,  yang entah mengapa di film ini tidak memiliki peranan yang cukup besar dalam pembebasan bangsa Israel… Dan tidak memiliki tongkat.

Dalam film ini Musa kembali ke Mesir bukan dengan tongkat mujizat dan penyertaan Tuhan sebagai senjatanya,  tapi pedang pemberian Firaun yang selalu dibawanya kemana-mana dan masa lalunya sebagai anak putri Firaun, arogansinya dan kemampuannya berperang.
image

Setelah mengancam Ramses dengan pedang jika tidak melepaskan bangsa Israel,  kemudian Musa mengatur rencana.  Dibakarnya lumbung-lumbung persediaan orang Mesir dan kapal-kapal perangnya. 

Bukannya menuai keberhasilan,  akibat perbuatannya dari demi satu keluarga Israel dibunuh dan mereka dipekerjakan lebih keras dari sebelumnya hingga kemudian Musa menjumpai anak kecil yang digambarkan sebagai Tuhan.

Tuhan mengatakan bahwa rencana Musa bisa saja berhasil,  tapi akan memakan waktu yang sangat lama sementara Dia sudah tidak sabar.  Dia kemudian berkata pada Musa bahwa mulai saat itu Dia ambil alih.  Lucunya,  sampai detik ini itu penonton masih melihat Musa yang bimbang dan tidak sepenuhnya beriman pada Tuhan.  Tentu saja,  karena kegagalan tiga tadi… Musa belum diperlihatkan Kuasa Tuhan yang sebenarnya.

Sejak itu kemudian datanglah tulah demi tulah. Dimulai dari nelayan yang dimakan buaya dan buaya yang saling menggigit hingga menyebabkan seluruh air di Mesir berwarna merah darah.

Saya melihat di sini pembuat cerita berusaha memasukkan logika ke dalam kejadian hebat yang ditimpakan Tuhan atas Mesir.  Dengan efek yang luar biasa diperlihatkan air laut yang menjadi merah dan ikan-ikan mati.
image

Kemudian,  tanpa ada negosiasi dari Musa dan Ramses,  katak keluar dari dalam air yang berbau amis itu (kemungkinan besar karena tidak tahan akan bau amisnya).

Selanjutnya tanpa diberi kesempatan berpikir dan membuat keputusan, tiba-tiba datanglah bilatung dari bangkai katak (sebagai pengganti nyamuk agar bisa dijelaskan kemunculannya secara ilmiah) dan lalat pikat akibat bau amis.

Tanpa ada negosiasi dan demonstrasi kuasa Tuhan,  datanglah tulah demi tulah hingga tulah ke sembilan. Semuanya dijelaskan secara ilmiah oleh penasihat Firaun,  dan hal itu membuat Firaun berkeras hati. 

Setelah tulah ke sembilan,  Musa menghadap Tuhan…  Mengatakan bahwa rencanaNya juga tidak berhasil karena Firaun tidak juga melepaskan orang Israel dan juga karena orang Israel juga mengalami hal buruk seperti yang dialami orang Mesir.

Kegagalan keempat adalah mengenai di mana sisi Musa berdiri.  Karena harapannya adalah menjadi Jenderal,  maka fokus Musa adalah dirinya sendiri.  Setelah melihat sembilan tulah yang ditimpakan Tuhan,  bukannya percaya dan berada di sisi Tuhan, ia justru berpihak kepada “kemanusiaan”.  Di sini kita sedang melihat Musa humanis yang mempertanyakan kebesaran Tuhan.

Kegagalan kelima adalah mengenai kuasa Tuhan.  Jaman sekarang kita tidak banyak melihat mujizat.  Tapi jaman dulu,  saat pemerintahan Israel masih Teokrasi, mujizat adalah cara Tuhan menyatakan diriNya. Semua bencana yang terjadi dijelaskan dengan cara ilmiah seolah-olah kuasa Tuhan dibatasi oleh akal budi manusia. 

Alkitab mencatat tulah-tulah itu datang ketika Musa mengulurkan tongkat,  sementara film itu mencatat tulah-tulah itu datang seperti bencana alam.  Baik, kegagalan kelima tidak terlalu fatal…  Toh bencana alam pun merupakan bagian dari kuasa Tuhan.

Selanjutnya Tuhan berkata bahwa Ia akan mendatangkan bencana berikutnya.  Di film ini kita jelas melihat,  bagaimana Musa meragukan Tuhannya. Bagaimana ia berkata “aku tidak mau terlibat dengan pembunuhan ini”.

Tidak dijelaskan apa yang akhirnya membuat Musa taat,  memerintahkan orang Israel untuk mengambil anak domba dan mengoleskan darahnya di palang pintu agar terlepas dari pembunuhan anak sulung.  Namun hal yang menarik adalah keraguan Musa yang diceritakan di film ini, saat ia berkata, “jika aku salah, maka malang bagi domba-domba itu.  Jika aku benar,  maka kita semua selamat dari bencana besar”.

Kegagalan keenam adalah tentang bagaimana film ini melewatkan perayaan Passover atau Paskah yang justru merupakan hal terpenting dari bagian ini. 

Tuhan tidak hanya sekedar menyuruh orang Israel mengoleskan domba dalam waktu satu malam.  Alasan mengapa tulah kesepuluh diberitahukan adalah agar ada cukup waktu bagi orang Israel untuk merayakan iman mereka.

Saya akan kutip satu ayat:

Keluaran 13:3  Lalu berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Peringatilah hari ini, sebab pada hari ini kamu keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan; karena dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN telah membawa kamu keluar dari sana. Sebab itu tidak boleh dimakan sesuatu pun yang beragi.

Dan ini…

Keluaran 13:8  Pada hari itu harus kauberitahukan kepada anakmu laki-laki: Ibadah ini adalah karena mengingat apa yang dibuat TUHAN kepadaku pada waktu aku keluar dari Mesir

.

Paskah merupakan hari raya yang penting bagi orang Israel. Ketika kematian dilewatkan dari siapa saja yang beriman bahwa Tuhan berkuasa atas hidup dan mati dan bahwa Tuhan sanggup melepaskan. Namun hal ini gagal dijelaskan oleh film ini.  Bukannya percaya,  Musa sendiri justru ragu.

Selanjutnya Musa memberi peringatan kepada Ramses,  untuk melepas orang Israel sebelum tengah malam.  Namun Ramses tidak mengindahkan peringatan ini. Malam itu kematian mendatangi kediaman Israel.  Satu persatu anak sulung mati,  termasuk anak sulung Ramses, kesayangannya.
image

Dalam film ini,  di sinilah Musa mulai percaya,  ketika tidak satupun anak sulung Israel mati seperti anak sulung Mesir.

Esoknya dengan dukacita yang mendalam,  Ramses mengusir seluruh orang Israel dari tanah Mesir.  Orang Israel pun meninggalkan Mesir dengan diiringi cemoohan orang Mesir.

Dalam perjalanan menuju tanah perjanjian, Musa mampir ke rumah istrinya.  Tidak dijelaskan apakah kemudian Musa membawa serta istri dan anaknya dalam perjalanan ini atau tidak.
image

Tak lama kemudian Ramses menyesal telah melepaskan orang Israel,  mengumpulkan 1000 pasukan berkuda dengan dia sendiri memimpin di depan dan mengejar orang Israel.

Mengetahui mereka sedang dikejar,  Musa merasa ketakutan.  Ia berkali-kali memanggil Tuhan namun tidak ada jawaban.  Ia menjadi sangat bimbang ketika berada di persimpangan,  antara melewati pegunungan yang sulit atau melewati danau. 

Tanpa jawaban Tuhan akhirnya Musa  memutuskan untuk melewati gunung yang sulit dengan pertimbangan kereta Firaun akan kesulitan melewati jalur gunung yang sempit dan itu akan menghambat mereka.

Kegagalan ketujuh adalah mengenai penyertaan Tuhan.  Dalam film itu Musa lebih banyak mengeluh dibanding orang Israel sendiri,  dan menanggapi itu,  Tuhan diam.

Bandingkan dengan apa yang tertulis di Taurat :

Keluaran 14:19-20  Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka.

Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu.

Perjalanan mereka terhenti ketika mereka menghadapi laut Teberau. Entah kemana Tuhan saat itu, yang jelas Musa putus asa.  Ia putus asa dan melemparkan pedangnya ke laut dengan sekuat tenaga.

Dia benar-benar terlihat begitu lemah di akhir namun kuat di awal kisah.  Berbeda dengan Musa yang kita kenal di Taurat,  Musa yang lemah di awal namun semakin kuat di akhir.

Tanpa perlu repot-repot mengulurkan tangannya seperti yang tertulis di bawah ini:

Keluaran 14:21  Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu.

Musa hanya tidur dan besoknya tiba-tiba saja laut itu menjadi kering. Tak  ada tembok air seperti yang tertulis di Taurat…  Tiba-tiba saja laut itu menjadi kering segera setelah Musa melemparkan pedangnya.
image

Saya begitu bingung dengan peran pedang kesayangan Musa ini.  Jelas-jelas pedang ini menggantikan fungsi tongkat yang sebenarnya dimiliki Musa.
Mungkin sebagian dari Anda tidak mempermasalahkan hal ini,  tapi bagi saya ini jelas suatu kesalahan mayor. Tongkat Musa bukanlah suatu senjata berbahaya bagi manusia,  Musa dan tongkat bukanlah apa-apa tanpa penyertaan Tuhan.

Pedang adalah alat perang manusia untuk menyerang maupun mempertahankan diri.  Dengan pedang seolah-olah film ini menggantikan peran kekuasaan Tuhan dengan kekuatan manusia.  Entahlah,  bagaimana menurut Anda?

Bangsa Israel kemudian berjalan melalui laut kering itu, sementara tentara Mesir semakin dekat.  Dalam perjalanan mengejar bangsa Israel melewati tempat curam,  logika Musa berhasil memusnahkan sebagian tentara yang jatuh ke jurang karena jalanan sempit itu tidak cukup besar dan kuat dilewati kereta kuda begitu banyak.

Sebagian lain yang masih tersisa mengejar bangsa Israel sampai ke laut kering sebelum kemudian air laut kembali entah dari mana dan menenggelamkan mereka.
image

Hal yang menarik dari bagian ini adalah ketika Musa bukannya lari menyelamatkan diri saat air laut datang, ia justru menghampiri Ramses hingga mereka berdua berhadapan di tengah laut dan akhirnya terkena hantaman air laut.

Tapi tenang saja,  Musa selamat dan berhasil berenang ke bagian pantai di mana orang Israel berada sementara Ramses juga selamat dan berhasil berenang ke sisi satunya.

Kemudian tiba-tiba saja kita diperlihatkan Musa yang mengukir 10 perintah Tuhan di atas gunung. Tidak dikisahkan tentang anak lembu emas.

Adegan penutup merupakan keanehan yang paling fatal,  menurut saya.  Ketika Musa tua duduk di dalam kereta bersama kotak kayu berisi 10 perjanjian.  Dia melihat ke luar ke arah anak kecil yang merupakan jelmaan Tuhan. Ternyata selama itu Anak itu ikut berjalan bersama orang Israel. Namun kemudian entah apa maksudnya,  tiba-tiba saja Anak itu berhenti sementara orang Israel terus berjalan.  Seolah-olah menunjukkan bahwa Tuhan tak lagi menyertai mereka.

Well,  bagaimana? Apa tulisan saya cukup memberi Anda gambaran.  Jika Anda tidak percaya,  pergilah ke bioskop terdekat dan belilah tiket Exodus. Tapi saran saya,  bacalah dulu Alkitab saudara sebelum Saudara menonton…  Bukankah di jaman akhir memang banyak penyesat?

Kita senang karena merasa ada sebuah film yang diangkat dari kisah Alkitab,  tapi kemudian kebingungan menemukan bahwa begitu banyak perbedaan dengan cerita Alkitab.

Kemudian Anda melihat bahwa kisah di film lebih dapat masuk akal Anda dibanding apa yang dikisahkan Alkitab… 

Di jaman akhir ini, kita memang harus lebih berhikmat.  Namun,  apakah berhikmat berarti menggunakan logika manusia?  Atau mempercayai Firman Tuhan dan penyertaanNya?

Advertisements