Membayar Pajak STNK dan berjaga-jaga


Saya sedang berada di Outlet Samsat ketika menulis ini, jadi maklum saja jika tulisan ini tidak akan terlalu panjang.

Saya diminta berkotbah tanggal 14 nanti di perayaan Natal anak salah satu gereja, dan diberi tema soal kedatangan Kristus kedua kali, dan bagaimana saya harus menyampaikan pesan pada anak-anak agar mereka berjaga-jaga.

Dalam proses berpikir mengenai tema tersebut hari-hari ini saya menemukan sebuah contoh yang luar biasa di Samsat Outlet ini.

Pajak Mobil saya jatuh tempo tanggal 6 Desember, yaitu hari ini. Kemarin saya datang ke Samsat BTC pk. 11 kurang 15 dan ditolak dengan alasan mereka sudah akan istirahat (walau tertulis bahwa pendaftaran ditutup jam 11).

Karena malas menunggu 2,5 jam saya memutuskan untuk datang lagi saja esok harinya, yaitu hari ini.

Kebetulan teman kerja saya perlu membayar pajak motornya dan dia memberitahu saya bahwa di ITC Kebon Kelapa juga ada Outlet Samsat. Jadi, saya bersama dengan teman saya ini ke Outlet Samsat ITC untuk membayar pajak.

Teman saya ini adalah orang yang luar biasa ceroboh. Seringkali (hampir sepanjang waktu) saya merasa sangat kesal dibuatnya. Baru saja mengambil nomor antrian, dia sudah bertanya “harus bayar cash ya?” Dalam kamus dia rupanya tidak ada istilah “preparation”. Padahal tadi kami parkir tepat di Depan ATM BCA dan beliau ini sama sekali tidak terpikir untuk ambil uang.

Setelah bertanya pada ibu penerima pembayaran (yang mana sebenarnya saya sudah tahu jawabannya), ia pun turun ke ATM untuk mengambil uang (tanpa tahu berapa uang yang harus dia ambil, saya rasa) dan menitipkan STNK, KTP dan nomor antriannya pada saya.

Saat sedang mengantri saya melihat-lihat STNK motor teman saya, dan… Sesuai perkiraan saya, sudah terlambat lebih dari satu bulan.

Setelah berhasil meyakinkan petugas penerima pendaftaran bahwa teman saya sedang ambil uang dan bahwa saya bukan calo yang membawa dua nomor antrian, saya pun duduk menunggu antrian pembayaran sambil berharap cemas teman saya akan nongol sebelum nomornya dipanggil, karena terus terang saya tidak bawa uang lebih untuk nalangin pajak orang lain.

Sambil berharap cemas itulah terpikir oleh saya bahwa untuk saat ini teman saya berlaku seperti gadis bodoh yang Tidak membawa persiapan minyak (saya pernah menulis ini di post tentang mati lampu)

Apalagi saya tahu jika nomornya terlewat maka dia harus mulai lagi dari pengambilan nomor antrian.

Untunglah dia datang saat nomor antrian 48 dan saat ini sudah bersama saya. Karena saya tipe orang blak-blakan dan menyebalkan, saya langsung membisikinya dan mengatakan padanya bahwa dia berpeluang ketinggalan pesta jika ada di posisi para gadis yang menunggu pintu dibuka.

Kemudian dia menjawab bahwa dia kemungkinan menjadi gadis bodoh yang bisa masuk ke pesta di detik terakhir penutupan pintu.

Baru saja dia berkata akan ke WC di posisi antrian 62 saat nomor antriannya 66… Saya terpaksa memanggilnya dan sedikit memarahinya..

Ah, sudahlah tidak usah diperpanjang..  Saya rasa Anda tahu maksud tulisan saya bukan…?

Advertisements