Ketika kemiskinan menjadi inspirasi


Tadi pagi saya memposting di twitter mengenai sebuah stasiun tivi yang kerap menayangkan tayangan-tayangan yang mengangkat kemiskinan masyarakat Indonesia.

Terus terang saya tidak suka tayangan yang ujungnya tidak memberikan solusi dan nilai tambah apapun pada masyarakat yang menontonnya (hanya sekedar menuai kasihan dan ucapan syukur sinis karena merasa diri lebih beruntung).

Kemudian seorang jurnalis menanggapi cuitan saya tersebut. Mengatakan bahwa acara yang menunjukkan kemiskinan cukup menolong dan mempertanyakan apakah saya sudah membantu sebanyak mereka atau tidak. Beliau kemudian juga melanjutkan bahwa acara tersebut bertujuan menginspirasi masyarakat bahwa orang miskin masih bisa berusaha.

Baik, tulisan saya kali ini tidak bermaksud membela diri, klarifikasi, apalagi menyerang pihak tertentu. Saya hanya ingin menyampaikan pandangan saya terkait masalah yang saya angkat (sekarang kan lagi musim tuntut menuntut… Yah, siapa tahu saja tulisan ini berguna hehehe).

Banyak orang mengkritik saya karena ketidaksukaan saya pada acara yang mengangkat kemiskinan masyarakat. Menurut mereka saya adalah seorang yang tak berperasaan dan tidak memiliki empati. Sesungguhnya tidak begitu… Saya memiliki empati yang besar dan belas kasihan pada mereka yang mengalami kesulitan dalam hidupnya.

Namun kemudian saya berpikir, apakah empati dan belas kasihan dari penonton yang pada akhirnya merasa bersyukur dengan kondisinya (yang mana menurut saya ini adalah sikap yang egois, ketika kita bersyukur karena membandingkan diri kita dengan orang lain), akan membantu mereka yang ditayangkan? Apakah perasaan kasihan itu membantu, baik orang yang menjadi obyek maupun mereka yang menonton?

Jika kemudian dijawab bahwa kemiskinan itu menginspirasi orang untuk terus berusaha, bukankah tepat penilaian saya bahwa kemiskinan mereka di”jual” demi pihak lain yang mendapat “inspirasi”. Namun apakah setelah mereka tahu bahwa ada orang yang tetap berusaha dalam kemiskinan mereka kemudian akan berusaha lebih keras? Atau…??

Ketika KPI menegur TransTV karena menayangkan pernikahan Raffi – Gigi, bukankah alasannya karena tayangan itu dianggap tidak bermanfaat bagi penonton? Saya bisa saja mengatakan bahwa tayangan itu menginspirasi… Tapi kemudian kita akan dihadapkan pada kenyataan bahwa inspirasi yang ditimbulkan tidaklah signifikan.

Saya mengerti, sebagian Anda mungkin berkata “kalau tidak suka ya jangan nonton, gitu aja kok repot”. Anda benar sekali. Tapi yang sedang kita bahas bukanlah preferensi menonton saya, tapi sebuah tanggungjawab sosial atas kondisi bangsa ini, yang saya paham tidak banyak orang memilikinya.

Presiden kita dengan kabinet kerjanya sedang menggalakkan “revolusi mental”. Menurut Anda apa mentalitas paling merusak dari bangsa ini? Betul, di kalangan atas adalah KORUPSI. Lalu apa di kalangan bawah? Entah apa menurut Anda, menurut saya sih kebodohan!

Bangsa kita tidak malas, mereka hanya bodoh. Tapi kebodohan bukanlah penyakit tak terobati, kebodohan bisa diperangi. Menurut saya, itu tanggungjawab media.. Mereka yang dapat menjangkau banyak orang.

Saya sadar ada banyak masyarakat kita yang miskin, tapi mempertontonkan kemiskinan mereka dan kemudian memberi sedikit uang tidaklah membantu banyak.

Jika ingin berpartisipasi dalam revolusi mental dengan media yang Anda miliki, beri solusi yang dapat mencerdaskan bangsa.

Saya beri contoh: Seorang ibu perawat kambing orang. Daripada menunjukkan kesulitan beliau mencari makanan kambing dan membersihkan kotorannya, bukankah lebih baik mengajarinya tentang beternak kambing? Daripada mengasihani anak peternak bebek, bukankah lebih bermanfaat memberinya harga diri dan mengajarinya menjadi enterpreuner cilik?

“Mental bodoh” menurut saya adalah tetap menggunakan cara lama walau ada cara baru yang lebih baik. Adalah menjadi penonton ketika memiliki potensi untuk menjadi solusi.

Saya rasa, saya tidak perlu lagi memperpanjang tulisan ini. Saya tidak dapat memaksa Anda menyetujui sudut pandang saya. Tapi setidaknya saya memiliki sebuah pendapat untuk dibagikan.

Mohon maaf bagi pihak yang tersinggung, anggaplah ini adalah voice of customer.

Advertisements