Publik baru saja dikejutkan dengan berita penangkapan Muhamad Arsyad yang dituduh telah melecehkan Presiden Jokowi. Dia adalah seorang anak muda berusia dua puluhan dan berprofesi sebagai tukang tusuk sate yang berpenghasilan Rp.35.000 per hari.

Jika Anda bertanya pendapat saya, maka saya setuju dengan penangkapan itu. Bukan karena saya membela Jokowi dengan membabi buta. Tapi jika revolusi mental sedang ingin diterapkan, maka seorang yang dengan sadar mengedit gambar Calon Presiden dan menjadikannya gambar porno merupakan seseorang yang butuh revolusi mental (tidak terkecuali mereka yang berbuat serupa dengan gambar Prabowo).

Ketidaksukaan terhadap tokoh tertentu adalah hak setiap orang. Berpendapat tentang tokoh tertentu pun merupakan hak setiap orang. Dalam iklim demokratis dan kebebasan berpendapat seperti sekarang ini bahkan berpendapat negatif terhadap tokoh tertentu pun merupakan kebebasan setiap orang. Namun ada satu hal yang dilupakan oleh orang-orang Indonesia yang mencoba berpolitik tapi kebablasan… Rakyat kita yang masih berada di bawah garis kebodohan seringkali tidak mengerti perbedaan antara menyerang secara pribadi dengan memberi kritik.

Menyerang secara pribadi merupakan bentuk kesukaan terhadap seseorang yang diwujudkan dalam caci maki dan kata-kata atau perbuatan yang menyerang pribadi orang yang bersangkutan, sedangkan memiliki kritik merupakan bentuk ketidaksepakatan atau ketidakcocokan terhadap perbuatan seseorang.

Hal yang lucu dalam kasus penghinaan terhadap Presiden Jokowi adalah apa yang ditayangkan berulang-ulang oleh TVone (yang ternyata belum berubah juga). Mereka terus menerus menyarkan kemiskinan dan keadaan tukang tusuk sate yang sangat memprihatinkan. Belum lagi ibu MA yang meminta maaf dan memohon-mohon. Beberapa pertanyaan konyol yang dilontarkan adalah: “apakah Presiden Jokowi tega memasukkan orang seperti itu ke penjara” atau “kenapa itu hanya dilakukan pada orang yang menghina Jokowi dan tidak diterapkan juga pada yang menghina Prabowo”.

FYI, Muhamad Arsyad mengedit foto Jokowi dan Mega menjadi sebuah foto porno, kemudian mempublikasikannya melalui media sosial. Beberapa dari Anda mungkin berkata, “ada banyak yang seperti itu di media sosial, lalu kenapa hanya satu yang dipermasalahkan”. Tentu saja! Karena dia melakukan itu pada PRESIDEN INDONESIA. WIbawa bangsa ini terletak pada Presidennya. Coba saja Anda ke Inggris dan menghina Ratu Inggris, maka tidak usah dihitung jam, Anda sudah akan ditangkap dan diproses oleh kepolisian Inggris.

Mungkin Anda bertanya lagi “lalu kenapa hanya dia yang diproses”. Tentu saja! Karena ada orang yang melapor, dan polisi harus memproses terhadap pelaporan seseorang. Jika Anda melaporkan adik Anda ke polisi dengan sebuah bukti, maka polisi sudah pasti menjemput dan menanyai adik Anda, setidaknya 3 x 24 jam. Setelah adik Anda terbukti tidak bersalah, maka polisi akan membebaskannya.

Di sini kita melihat ada seorang melaporkan MA karena foto porno yang dibuatnya, kemudian polisi menjemput MA lalu karena ini berhubungan dengan Presiden Jokowi maka media memuatnya,dan karena ada beberapa media TV yang menjadi pihak oposisi Presiden Jokowi, maka kasus ini berkembang semakin besar.

Sebagian Anda mungkin masih berusaha membelanya dan bertanya “apa karena dia miskin dan tak berdaya”. Percayalah, saya rasa jaman sekarang seseorang tidak dihakimi berdasarkan kondisi ekonominya, tapi apa yang dia perbuat. Katakanlah dia kaya, maka sebelum dia sempat menyogok polisi, media sudah memblow upnya (apalagi media seperti TV One dan RCTI). Selain itu, saya rasa pihak pelapor pun belum mengetahui kondisi ekonomi MA pada saat dia melaporkan perbuatannya.

Belum puas juga Anda mungkin bertanya lagi, “apa Presiden Jokowi tidak kasihan dan tidak akan memaafkan melihat ibunya dan MA yang depresi”? Saya rasa memaafkan berbeda dengan memberi pelajaran. Tips mendidik anak yang berhasil adalah Anda memaafkan perbuatan salah anak Anda namun tetap mengajari arti konsekuensi kepadanya…. kasih dan adil harus berjalan bersama.

Lalu pertanyaan berikutnya, “kok seperti Orde Baru, menghina presiden langsung dijemput”. Saya setuju jika orang yang menghina Presiden secara pribadi mendapat ganjaran. Sekali lagi ada perbedaan antara menyerang secara pribadi dengan memberi kritik. Kita bisa mengatakan bahwa SBY itu hobinya curhat, tapi mengata-ngatainya dengan sebutan yang tidak pantas adalah hal lain lagi.

Revolusi mental adalah membiasakan kebiasaan baik, terutama dalam generasi muda. Menjaga pikiran, perkataan, perbuatan, dan kebiasaan akan membentuk karakter positif dari bangsa. Suatu bangsa yang memiliki karakter positif adalah bangsa yang besar.

Akhir kata, Presiden adalah pemimpin suatu negara. Nama baik pemimpin negara merupakan nama baik negara itu sendiri. Saya terharu melihat pelantikan Jokowi dan Pesta Rakyat minggu lalu. Beliau adalah Presiden yang begitu dikasihi rakyatnya. Walaupun kita semua harus sadar bahwa tidak semua rakyat mengasihinya. Namun bukankah kita semua memberinya kesempatan, setidaknya dalam satu tahun pertama kepemimpinannya.

Bukankah Tuhan berkata, “berikan kepada kaisar apa yang harus diberikan kaisar dan kepada Tuhan apa yang harus diberikan kepada-Nya”. Jika Presiden layak mendapat penghormatan, berikan penghormatan yang layak.

Advertisements