Hati-hati jika Menulis


Suatu nasihat yang sering disampaikan oleh mama dan keluarga saya yang lain adalah “hati-hati kalau menulis, jangan sembarangan. Nanti ada yang menuntut”. Maklum saya ini penulis yang ‘sembarangan’, menulis hal-hal ironis yang terjadi di sekitar saya. Saya merasa hal-hal ironis sangat menarik untuk diangkat, bisa digunakan untuk cerminan maupun pembelajaran baik bagi saya maupun pembaca.

Pembelaan yang sering saya kemukakan adalah, “ini kan blog diary saya, terserah dong saya menulis apa … Saya berhak berekspresi di blog pribadi saya sendiri” Namun beberapa orang tua dan yang merasa bijak suka berkata bahwa hal-hal ironis itu tidak perlu dipublikasikan dan disebarluaskan dalam sebuah blog seperti ini.

Tulisan-tulisan saya yang cukup kontroversial adalah tulisan-tulisan yang berkaitan dengan organisasi gereja saat ini, seperti contohnya “Gereja Bintang Lima“. Beberapa orang bahkan menuduh saya admin dari @Gereja_Palsu (percayalah, saya bukan admin gereja_palsu walaupun sebenarnya saya akan sangat bangga sekali jika mendapat kesempatan menjadi admin dari akun twitter tersebut).

Saya tidak pernah menghiraukan nasihat dari mama saya dan keluarga saya yang lain karena sampai saat ini saya merasa bahwa saya memiliki kebebasan berekspresi, apalagi di jaman modern sekarang ini. Dalam kaitannya dengan gereja, saya merasa sejauh apa yang saya tuliskan tidak bertentangan dengan Buku Panduan Utama, yaitu Alkitab, maka tulisan saya sah-sah saja.

Walaupun sampai sekarang saya masih tidak kuatir dengan tulisan-tulisan saya, namun berita yang tadi siang saya baca cukup mengejutkan juga. Berita itu sebenarnya sudah lama, setahun yang lalu. Namun tetap saja berita itu mengejutkan saya betapa gereja telah bersikap begitu picik dan berpikiran begitu sempit. Anda dapat membaca tulisan tersebut di sini.

Saya akan mencoba merangkum berita dari Tempo tersebut. Jadi ceritanya ada seorang Kristen yang juga adalah kolektor benda bersejarah, Johan Yan, menulis di akun Facebooknya seperti ini: ‘korupsi atau money laundry yang dilakukan oleh ulama bukan ajaran agama Kristen’. Tulisannya ini tidak mengungkapkan nama, organisasi atau apapun yang menyudutkan sebuah organisasi atau gereja manapun. Status tersebut diunggah oleh Johan untuk mengomentari santernya pemberitaan di media online tentang dugaan korupsi dana jemaat Rp 4,7 triliun di Gereja Bethany Surabaya.

Salah seorang jemaat (yang hobby menjilat pendeta – sebutan dari saya – tanpa sensor), berinisiatif melaporkan Johan Yan ke polisi. Akhir dari cerita ini begitu tidak memuaskan:  Masalah ini dimediasi oleh penyidik, Johan meminta maaf kepada pimpinan Gereja Bethany, Pendeta Abraham Alex Tanuseputra. Setelah permintaan maaf Johan diterima oleh Abraham, pihak pelapor bersedia mencabut perkaranya di kepolisian.

Namun menurut Penasihat Hukum Johan, ternyata pelapor hanya mau mencabut laporan kalau ada kompensasi materi. Mereka bahkan punya bukti rekaman skenario pemerasan itu. Saya akan langsung mengutip berita itu di sini:

Kuasa hukum Gereja Bethany, Sumarso, menyatakan bahwa sebenarnya perkara itu sudah dicabut pada Senin kemarin, 12 Agustus 2013. Sumarso justru balik mempertanyakan sikap Sholeh yang mempermasalahkan lagi kasus tersebut. “Maunya apa sih kok diungkit lagi,” kata Sumarso.

Adapun tuduhan Sholeh bahwa pihak pelapor hendak memeras Johan, Sumarso juga membantah. Namun ia tak memungkiri bahwa pernah mengucapkan permintaan kompensasi kepada Johan bila menginginkan laporan itu dicabut. “Itu kan bahasa hukum untuk negosiasi, jadi bukan secara eksplisit meminta imbalan,” ujar Sumarso.

Lihat cetak tebal dari saya… saya menganggap ini semacam pembelaan diri yang aneh. Menurutnya PERMINTAAN KOMPENSASI BILA MENGINGINKAN LAPORAN ITU DICABUT merupakan bahasa hukum untuk NEGOISASI! Benar-benar JENIUS!

Berkaitan dengan tulisan saya Gereja Bintang Lima, seorang teman pernah bertanya pada saya (karena sampai saat ini saya tidak mencabut tulisan tersebut dari blog saya, dan tidak berniat mencabut tulisan itu kalaupun seseorang melaporkan saya ke polisi), “apakah saya tidak takut jika saya dilaporkan ke polisi”. Saya kemudian menjawab “saya sama sekali tidak takut bahkan jika harus dipenjara karena tulisan saya itu.”

Jika para pemimpin gereja tidak bisa menerima kritik yang membangun dari beberapa orang yang jengah dengan apa yang terjadi di gereja saat ini, maka apa bedanya mereka dengan orang Farisi. Bukankah menurut Yesus orang-orang Farisi adalah seperti kuburan yang dicat putih di luar?

Jika para pemimpin gereja memilih untuk melapor ke polisi daripada introspeksi, apa bedanya mereka dengan orang Farisi yang menyerahkan Yesus ke Pilatus. Saya tidak sedang mempersamakan diri saya dan para kritikus lain dengan Yesus. Namun bukankah kebenaran harus disuarakan?

Jadi, jangan repot-repot untuk menasihati saya mengenai tulisan-tulisan saya yang tajam untuk gereja. Selain karena saya pun sudah bertobat (tepatnya apatis) untuk tidak menulis lagi tentang organisasi gereja, saya juga tidak takut sama sekali jika harus berurusan dengan polisi karena tulisan-tulisan saya. Tegur saya jika apa yang saya tulis tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Tegur saya jika apa yang saya tulis adalah sesuatu yang menyesatkan jemaat. Namun jangan tegur saya mengenai sesuatu yang bisa membuat orang-orang Farisi panas telinganya (atau mungkin matanya, atau kepalanya).

Maafkan jika tulisan saya kali ini terdengar arogan… Saya hanya ingin mengutarakan sikap hehehe… Gut nite!

Advertisements