Saya benci mati lampu! Sejak dulu saya selalu membenci mati lampu. Walau saya suka tidur dalam kegelapan, tapi kehilangan aliran listrik saat sedang beraktivitas adalah suatu kejadian yang menyebalkan setengah mati.

Seperti saat ini, lagi enak-enaknya nonton reunion extravaganza di net TV, tiba-tiba saja saya menemukan diri saya berada dalam kegelapan total.

Ya, mati lampu adalah hal menyebalkan! Apalagi jika terjadinya di malam hari, belum waktunya tidur, kemudian Anda menemukan bahwa sepertinya Anda akan berada di dalam gelap cukup lama, Anda tidak memiliki lilin atau pembuat api di rumah, dan handphone Anda dalam keadaan tidak full… Selamat datang di kegelapan!

Ketika memberitahu keadaan saya yang menyedihkan ini pada adik saya, dia meminta saya melihat token saya… Apakah saya sudah mengisi listrik atau belum. Ironisnya, saya baru mengisi token listrik jam 6 sore tadi. Jadi kalau mau dibandingkan dengan gadis-gadis bodoh, jelas saya gadis bijaksana (letak kebodohan saya adalah karena tidak memiliki senter, lilin, dan lampu khusus mati lampu).

Kalau dipikir-pikir, untunglah kisah mengenai gadis bodoh dan bijaksana adalah sebuah perumpamaan. Jika dalam kisah nyata tentunya saya bisa berandai-andai bebas akan apa yang mungkin bisa terjadi, seperti “bagaimana jika gadis-gadis itu membawa minyak tapi kemudian tumpah di jalan?” Atau “bagaimana jika gadis-gadis itu membawa minyak tapi ternyata pelita mereka rusak dan mereka tidak membawa pelita cadangan”

Bagi Anda yang belum mengetahui mengenai kisah gadis bijaksana dan bodoh, akan saya ulas sendikit. Alkisah 10 orang gadis pergi ke pesta Tuan Besar. Pesta ini aneh karena jam dimulainya tidak diberitahukan di undangan. Tak ada yang tahu kapan pesta ini dimulai, hanya Tuan Empunya Pesta yang tahu.

Lima orang di antara mereka membawa minyak cadangan untuk pelita mereka karena mereka takut jika sembari menunggu, minyak di pelita mereka habis. Lima orang lagi tidak membawa pelita, mungkin mengasumsikan bahwa di sekitar pesta akan ada tukang minyak lewat, atau mengasumsikan bahwa pestanya akan segera dimulai.

Tidak dijelaskan apakah membawa pelita adalah sebuah syarat atau tidak, yang jelas suatu waktu lima gadis yang tidak membawa cadangan minyak mulai menyadari bahwa minyak mereka akan habis dan setelah bujukan mereka pada lima gadis lain untuk berbagi tidak berhasil, mereka memutuskan untuk pergi mencari minyak.

Ketika mereka sedang mencari minyak, tiba-tiba pesta dimulai. Hal yang menarik tentang pesta itu, pintu hanya dibuka sebentar dan kemudian ditutup lagi… Zapp… Lima gadis itu tidak berhasil masuk ke pesta.

Jika dianalisa, kisah di atas akan menimbulkan banyak pertanyaan, seperti “apakah diharuskan membawa pelita?”, “apa yang terjadi jika lima gadis itu tidak perlu pergi mencari minyak, akankah ia ditolak?”

Apakah kisah di atas hanya bicara soal “cadangan” atau apa? Apakah kelima gadis yang diterima memenuhi syarat karena ia memiliki cadangan minyak, atau karena pelitanya tetap menyala?

Kisah di atas merupakan perumpamaan tentang Kerajaan Surga, bahwa kita harus berjaga-jaga dan senantiasa siap sedia akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya.

Dalam kegelapan mati lampu saya menyadari… Tidak enak hidup dalam kegelapan. Dalam kegelapan tiba-tiba saja kita merasa sendiri, hampa dan kedinginan.

Memiliki pelita yang selalu menyala mungkin bicara soal hidup dalam terang. Yesus pernah menyebut bahwa kita adalah terang dunia. Sebagai terang dunia, kita harus senantiasa hidup dalam terang karena kita sendiri diharapkan menjadi terang.

Kita mungkin dapat mengapresiasi para gadis yang menyadari minyak dalam pelitanya habis kemudian berinisiatif untuk pergi membeli minyak.

Bayangkan jika ada yang bahkan lupa membawa pelita, atau diam saja ketika pelitanya hampir kehabisan minyak, atau membiarkan saja pelitanya mati.

Bicara soal terang adalah bicara soal dampak. Bagaimana terang kita bisa menerangi sekeliling kita.

Kisah mengenai sepuluh gadis ini tidak bicara tentang backup atau cadangan… Tapi kesiapsediaan. Pertanyaannya sekarang mungkin adalah, “bagaimana jika pengaruh luar yang membuat terang kita mati… Angin begitu besar meniup api kita, orang lain berusaha merebut atau memadamkan terang kita?”

By the way, aliran listrik di tempat saya sudah menyala lagi dan saya sudah merasa “hidup” lagi.

Satu hal yang harus kita semua sadari, jika kita selalu terhubung dengan Kristus Sang Terang, tak ada seorang pun yang dapat mematikan terang di dalam diri kita. Hal yang harus kita lakukan adalah selalu siap sedia, waspada agar “aliran listrik” kita tidak terputus dari sumbernya.

Advertisements