Kita diajarkan mengenai alat indera saat duduk di bangku Sekolah Dasar. Guru kita saat itu mengatakan bahwa alat indera (yang biasa disebut juga panca indera karena ada lima bagian) merupakan bagian tubuh yang berfungsi mengetahui keadaan di luar tubuh. Saat kita berada di sekolah menengah, guru biologi kita memberikan penjelasan lebih mendetil mengenai kelima alat indera ini, bagaimana bagian-bagian tubuh saling terkoordinasi satu dengan yang lain, dan sebagainya.

Saya ingin mendefinisikan fungsi alat indera dengan kalimat lain. Fungsi ‘Alat Indera’ adalah membantu kita memiliki persepsi pada sekeliling kita. Anda mungkin berkata “otak yang membentuk persepsi” Betul sekali! Itulah kenapa saya mengatakan Alat Indera MEMBANTU kita memiliki persepsi terhadap sekeliling kita. Otak kita membentuk persepsi setelah mata kita melihat sesuatu, atau setelah telinga kita mendengar sesuatu, atau setelah kita meraba sesuatu, atau setelah kita mencium sesuatu, atau setelah kita merasakan sesuatu di lidah kita.

Kita melihat dua orang pria dan wanita bersama, maka tanpa sadar otak kita memproses apa yang kita lihat dan menjadikannya sebuah persepsi. Kita mendengar keributan di rumah seseorang, maka tanpa sadar otak kita memproses apa yang kita dengar dan menjadikannya sebuah persepsi, dan seterusnya.

Kemudian, persepsi yang dihasilkan oleh otak tersebut akan diproses lagi menjadi sebuah tindakan atau perkataan. Pertanyaan saya sekarang adalah, jika seseorang memikirkan, atau melakukan, atau mengatakan hal yang buruk… apakah itu karena alat inderanya menangkap hal yang buruk atau karena otaknya membuat persepsi yang buruk terhadap apa yang ditangkap oleh alat indera ? Keduanya, atau tidak keduanya?

Baik, sambil Anda memikirkan hal itu, saya akan melanjutkan tulisan saya. Saya teringat seorang pendeta berkata bahwa di jaman Pasca Modern ini, manusia akan mencari sesuatu yang dapat memuaskan inderanya. Mereka akan tertarik pada sesuatu yang sedap dilihat, indah didengar, dan apapun yang dapat memuaskan inderanya. Dengan pertimbangan tersebut, maka pendeta tersebut memiliki sebuah pemikiran bahwa ibadah yang baik adalah ibadah yang dapat memuaskan indera jemaat yang hadir, dan gedung tempat ibadah itu berlangsung pun haruslah gedung yang dapat memuaskan indera jemaat.

Dengan pemikiran bahwa panca indera merupakan alat bantu dalam pembentukan persepsi, maka pokok permasalahannya sekarang adalah Ibadah dan Gedung seperti apa yang akan memuaskan jemaat? Atau jika dibalik, persepsi seperti apa yang akan terbentuk dalam diri jemaat yang menghadiri ibadah pemuas indera di gedung pemuas indera?

Tentunya variablenya akan banyak sekali, karena manusia memiliki standar kepuasan yang berbeda… Ada banyak faktor yang memengaruhi tingkat kepuasan seseorang.

Papa saya suka mengajak keluarganya liburan, sejak saya kecil. Dulu, saat kami masih kecil… hampir setahun sekali kami mengadakan perjalanan jauh dengan mobil, dari Bandung ke Surabaya. Papa saya bukanlah tipe pengendara cepat yang dapat menempuh Bandung-Surabaya dalam waktu 13 jam saja. Papa ingin perjalanan itu sendiri merupakan liburan yang tak terlupakan. Jadi, kami pasti harus menginap satu malam di Jawa Tengah atau Jawa Timur bagian barat.

Karena tujuan kami menginap di hotel hanya untuk istirahat dan bukan semacam “liburan di vila”, dan karena saat itu Papa saya adalah seorang karyawan, maka hotel yang biasa dipilih hanyalah hotel kelas melati, tentu saya Papa tetap mempertimbangkan kebersihan dan keamanan. Satu kali, karena tidak mendapat hotel di Solo (di masa liburan), kami mendapat hotel yang sangat murah, kotor, bau dan tidak aman. Sudah pasti Papa akan berkata “jangan nginep di sini lagi”.

Persepsi bahwa itu hotel murahan timbul bukan karena harga yang murah tentu saja. Toh beberapa hotel berbintang pun suka memberi promo harga murah pada beberapa kali kesempatan. Persepsi bahwa itu hotel murahan dan keputusan bahwa “jangan nginep di sini lagi” muncul karena kami melihat hotel tersebut kotor, kami mencium bau apak, kami merasa selimut yang kasar dan bau. Tahun kemarin, kami kembali ke kota Solo dan mendapat hotel yang sangat baik dengan harga yang bersahabat (walau tidak semurah di hotel murahan itu). Sarapan paginya luar biasa, kamar tidurnya wangi, kasurnya besar dan enak, air hangatnya mengalir dengan deras. Perfect! Sudah pasti kami akan berkata “lain kali kalau ke Solo kita nginep di hotel ini lagi ya”

Keputusan kembali atau tidak ke suatu tempat dipengaruhi oleh persepsi kita akan tempat tersebut. Persepsi kita akan suatu tempat dipengaruhi oleh apa yang diterima oleh alat indera kita.

Mungkin pemikiran seperti itulah yang melatarbelakangi pendeta tersebut mengatakan bahwa ibadah yang baik adalah ibadah yang dapat memuaskan indera jemaat dan gedung tempat ibadah yang baik adalah gedung yang dapat memuaskan indera jemaat.

Pertanyaan paling mendasar menurut saya adalah, “apakah keputusan yang bersifat rohani dapat didorong atau dipicu oleh rangsangan indera?”. Baik, saya permudah,”apakah ibadah yang sejati dapat terwujud jika indera manusia dipuaskan?” . Saya permudah lagi, “apakah kehadiran Tuhan dapat dirasakan oleh indera manusia?”

Apakah Anda tahu jebakan tikus? Di dalam jebakan tikus yang kita lihat di film Tom and Jerry, terdapat sepotong keju yang tampaknya lezat. Tujuan dari potongan keju tersebut adalah agar ketika dilihat oleh mata si tikus, maka akan terbentuk persepsi bahwa jebakan itu aman, Harapan Tom adalah agar Jerry mengambil keju itu dan dia terkena jebakan. Tapi kenyataannya? Jerry bisa mengambil keju tanpa terkena jebakan.

Saya pun memasang lem tikus di kantor (sekarang lagi musim tikus, bukan?) Jebakan pertama saya mengena, lem tikus berikutnya? tidak! Tikus berikutnya tahu bahwa ia akan mati konyol seperti temannya, makanannya hilang, tikusnya tidak kena!

Mengapa saya membahas tentang tikus?

Begini, saya mengerti sebagian pendeta berpikir “yang penting datang dulu ke gereja, setelahnya biar Roh Kudus yang bekerja”. Saya sama sekali tidak mengecilkan karya Roh Kudus. Saya percaya bahkan di gudang pengap pun Roh Kudus bisa bekerja dengan luar biasa. Hal yang ingin saya tekankan adalah, “Jerry ingin keju, maka ia akan fokus dan mengambil hanya kejunya saja”. Apa Anda menangkap maksud saya? Si A ingin mendengar “musik keren”, maka dia akan fokus pada musiknya saja. Si B ingin mendengar kotbah yang membuatnya tenang dan termotivasi, maka dia akan fokus pada kotbahnya saja.

Saya tahu tulisan saya kali ini agak rumit, Saudara… Saya pun mengalami kesulitan dalam menguraikan pikiran saya dan menjadikannya tulisan seperti ini. Baik, mari kita coba lanjutkan.

Jika tujuan seseorang hadir ke tempat ibadah adalah untuk memuaskan inderanya, maka fokusnya hanya pada inderanya, yaitu kepentingannya sendiri.

Anda datang ke rumah makan untuk memuaskan lidah dan perut Anda. Maka Anda akan datang ke sana, memesan menu favorit Anda, makan, bayar, pulang. Katakanlah sepulang dari rumah makan favorit Anda kemudian saya bertanya, “Apa Anda memperhatikan orang yang duduk di meja 23?” Reaksi Anda? Mengerutkan kening, menaikkan bahu dan berkata “Tidak, memangnya meja 23 itu sebelah mana ya?”

Berbicara tentang alat indera juga adalah berbicara tentang sensor. Anda merasa makanan ini enak, maka Anda akan makan ini lagi. Anda merasa bahwa musiknya keren, maka Anda akan datang lagi. Anda merasa bahwa hotel itu tidak enak, maka Anda tidak akan datang lagi. Anda merasa ditegur oleh Firman Tuhan yang keras, maka Anda tidak akan datang lagi. Yup! That’s so simple! Alat indera membuat manusia memilah-milah sesuai dengan persepsi dan keinginan pribadinya.

Bagaimana dengan segala sesuatu yang berhubungan tentang Tuhan? Apakah ibadah bertujuan memuaskan alat indera kita? Atau memuaskan Tuhan? Apakah agama dibuat untuk memuaskan manusia, atau mengendalikan manusia?

Saya sudah lelah berbicara bahwa organisasi gereja harus begini atau begitu. Saya rasa saya pun tidak memiliki hak untuk berkata begini atau begitu. Saya sudah lelah berkata bahwa pendeta ini begini atau begitu, saya pun tidak memiliki hak untuk menilai mereka yang (merasa) diurapi.

Satu hal yang saya ingin sampaikan melalui tulisan ini adalah, ibadah bukanlah untuk memuaskan indera kita. Justru dalam ibadah kita harus  mengendalikan keinginan jasmani kita (Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang – I Timotius 4:8)

Jika kita melakukan sesuatu untuk kepuasan indera kita, maka sudah pasti kita akan kecewa… Tapi dalam ibadah kekecewaan kita tidak penting! Hal paling penting dalam ibadah bukanlah apakah indera kita puas atau tidak, tapi apakah Tuhan senang atau tidak! Hal terpenting dalam ibadah adalah apakah kita melakukan kehendak Tuhan atau tidak!

Kabar baiknya, dalam ibadah yang sejati, gedung megah dan ritual pemuas indera bukanlah hal yang penting. Hal terpenting adalah bagaimana seluruh elemen bertujuan untuk memuaskan hati Tuhan.

Jika ibadah berusaha memuaskan manusia, maka tempat ibadah tak ada bedanya dengan tempat hiburan… Selain ini merupakan hal yang salah, kita akan sulit membuat standar yang benar.

Jika ibadah bertujuan menyenangkan Tuhan, maka tempat ibadah adalah tempat di mana umat sedang bersama-sama memberi persembahan dan pemujaan kepada Tuhan. Standar nya pun jelas: Ibadah yang sejati adalah ketika kita merendahkan hati, mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Tuhan.

Advertisements