Memberi Pelajaran


Saya sedang melihat acara reka ulang sebuah kejahatan. Seorang anak muda yang membunuh temannya karena merasa dituduh dan dijadikan kambing hitam oleh temannya. Satu kalimat yang menarik perhatian saya adalah ketika si pelaku mengaku “tidak bermaksud membunuhnya, hanya ingin memberi pelajaran”. Siapa dia sehingga berhak memberi pelajaran untuk orang lain?

Saya tidak suka dengan istilah yang menutupi kejahatan seperti “khilaf” atau “memberi pelajaran” atau “tidak sadar” atau apapun yang dimaksudkan untuk meringankan suatu kesalahan. Tapi saya juga sangat sadar bahwa ketika seseorang sedang marah, seringkali emosi mengalahkan akal sehat dan mengambil alih kontrol tubuhnya.

Tubuh manusia itu seperti dikendalikan oleh dua hal: Emosi dan Akal Sehat, atau biasa orang mengatakan “hati” dan “otak”. Hati merupakan pengontrol emosi sedangkan Otak mengontrol akal sehat. Ada orang mengatakan hati boleh panas, tapi kepala tetap dingin.

Permasalahannya sekarang adalah apa hubungan antara hati dan otak? Apa hubungan antara emosi dan akal sehat? Apakah berhubungan atau merupakan dua bagian terpisah?

Sebenarnya emosi yang orang katakan pusatnya di hati merupakan suatu fungsi yang dikendalikan oleh otak juga. Bagian otak yang dinamakan otak limbik, yang juga dimiliki oleh mamalia lainnya mengontrol emosi manusia. Masalahnya bagian otak ini tidak memiliki filter, bagian ini hanya mengatur reaksi marah, senang, sedih, kecewa atau kesal…bagian otak ini tidak sanggup untuk mengendalikan emosi yang sudah dibuatnya. Itulah mengapa singa tidak dapat mengendalikan amarahnya ketika diserang, monyet tidak dapat mengendalikan ejekannya ketika dia menertawakan manusia dan kucing tidak dapat mengendalikan sikap takutnya saat berpapasan dengan anjing.

Akal sehat merupakan pembaharuan dari otak mahluk hidup, bagian otak yang tidak dimiliki oleh mahluk hidup selain manusia. Fungsi utama akal sehat adalah mengendalikan emosi. Anda marah dan ingin mengamuk? Akal sehat membuat Anda sanggup menahannya dan memikirkan ekspresi yang lebih manusiawi daripada mengacak-acak atau melempar-lempar barang.

Anda sangat sedih sehingga tidak sanggup melakukan apapun? Akal sehat membuat Anda bangkit kembali karena kehidupan menanti Anda dan suatu pengertian dibisikkan bahwa hidup Anda tidak berakhir hanya karena sebuah kesedihan.

Mungkin Anda bertanya, bagaimana dengan statement saya sebelumnya bahwa ketika seseorang sedang marah emosi mengalahkan akal sehat?

Pernahkah Anda mendengar seorang bijak berkata bahwa “Latihan badani terbatas gunanya, tapi ibadah itu berguna dalam segala hal karena mengandung janji baik untuk hidup ini maupun kehidupan yang akan datang” ? Dalam terjemahan lainnya, I Timotius 4:8 ditulis sebagai berikut:

“Latihan jasmani sedikit saja gunanya, tetapi kesalehan berguna dalam segala hal, sebab mengandung janji untuk hidup pada masa kini dan masa yang akan datang.”

“Saleh” didefinisikan sebagai melakukan perbuatan yang baik. Hal yang ingin saya sampaikan adalah, mengendalikan diri merupakan suatu akibat dari latihan yang berkesinambungan.

Di sini peran orangtua mengendalikan emosi anaknya sejak dini merupakan hal yang sangat penting. Bagaimana orangtua dapat membantu anak melatih kesalehannya?

  1. Jadilah teladan. Jangan pernah melampiaskan emosi Anda di hadapan anak-anak Anda. Anda sendiri harus berlatih mengendalikan emosi Anda. Saat Anda marah dengan pasangan Anda (atau dengan siapapun) dan merasa perlu mendiskusikannya, ambillah ruangan terpisah, terutama jika Anda tidak yakin dapat mengendalikan emosi Anda.
  2. Jangan selalu menuruti keinginan anak. Begitu banyak anak-anak yang sering mengamuk karena keinginannya tidak dipenuhi. Sebagian dari mereka terbiasa, sebagian lagi menggunakannya sebagai taktik agar orangtuanya memberi apa yang mereka inginkan
  3. Tunjukkan siapa yang berkuasa. Jangan biarkan anak-anak mengambil alih kendali di rumah. Anda adalah orangtua mereka… Dengan mengetahui jenjang otoritas, mereka juga akan belajar untuk mengendalikan diri terutama di hadapan otoritas.

Firman Tuhan tadi berkata bahwa latihan kesalehan berguna baik bagi kehidupan sekarang maupun yang akan datang. Ketika kita melatih emosi kita dan memastikan bahwa tubuh kita dikendalikan oleh akal sehat dibanding oleh emosi, maka kita tidak akan lagi mengalami “khilaf” atau “gelap mata”.

Sulit? Tentu saja, apalagi jika Anda tidak terbiasa melatihnya sejak kecil. Tapi kesalehan diterjemahkan juga sebagai ibadah… Hanya Tuhan yang memampukan kita semua untuk mengendalikan diri dan melatih rohani kita.

Ketika kita pergi ke tempat fitness, kita memiliki model, bukan? Kita tahu seberapa besar lingkar pinggang yang kita inginkan, atau padatnya otot, atau hal lain berkaitan dengan fisik kita. Dengan mengetahui sasaran tersebut, kita akan dapat berlatih dengan lebih terarah.

Ketika Anda memutuskan untuk menjalankan latihan rohani, Anda memiliki seorang model… Kristus. Dia yang tak berdosa dan telah menjadi teladan dalam mengendalikan diri. Walau dianiaya dan disiksa namun tak sekalipun mengeluarkan cacian dan makian.

Jadi tunggu apalagi? Baca Alkitab Anda sebagai buku petunjuk Model yang merupakan sasaran latihan rohani Anda… Selamat berlatih!

 

Advertisements