Baru saja saya melihat drama yang luar biasa di rapat paripurna DPR. Jika dipikir-pikir sebenarnya tidak aneh juga hal itu terjadi di negara Indonesia. Rapat yang membahas RUU Pilkada ini berakhir ricuh dengan banyak anggota DPR yang menghampiri meja pimpinan DPR sambil marah-marah, dan sebagian berteriak-teriak di mic-nya menyatakan bahwa pimpinan tidak tegas dan mereka tidak puas dengan rapat itu. Petugas keamanan bersiap-siap dan akhirnya pimpinan yang bingung menyatakan bahwa sidang itu diskors.

Saya merasa malu! Sebagai rakyat Indonesia, yang menurut Pendidikan Pancasila yang saya peroleh saat sekolah merupakan kedaulatan tertinggi dari negara ini, merasa kecewa dengan sikap para elit yang duduk di gedung bernama DPR. Lebih malu lagi karena beberapa hal yang memicu kericuhan ini:

  1. Koalisi merah putih yang “ujug-ujug” mengajukan Pilkada dilakukan oleh DPRD sebagai bentuk kekecewaan mereka karena di pilkada Calon Presiden mereka kalah, namun sadar bahwa di masa yang akan datang kursi mereka di DPRD akan memiliki porsi paling banyak, sehingga jika RUU ini dikabulkan maka para Pemimpin Daerah di Indonesia ini merupakan “antek-antek” dari Koalisi Merah Putih.
  2. Partai Demokrat yang memiliki “gengsi politik” sangat tinggi. Sebagai partai penguasa rupanya Demokrat merasa malu jika harus memilih salah satu pihak sehingga akhirnya mereka mengajukan opsi ketiga, Pilkada langsung dengan 10 syarat.

Hal yang paling membuat malu tentu saja adalah keputusan salah satu anggota DPR untuk mau ke depan yang kemudian diikuti oleh anggota-anggota lainnya.

Hey… apa jadinya negara kita jika para elit politik kita adalah sekelompok orang emosional pemalas dan bodoh yang hanya memikirkan diri sendiri. Tidak sadarkah mereka bahwa rakyat mengawasi? Tidak sadarkah mereka bahwa apa yang mereka lakukan berdampak pada negara ini?

Tapi kalau dipikir-pikir, anggota DPR kita memang tidak semua merupakan orang berpendidikan. Mereka dipilih oleh rakyat yang tidak mengenal mereka dan hanya memilih berdasarkan banyaknya wajah mereka yang ditempel di pohon-pohon saat sedang kampanye. Lihat saja bagaimana tukang ojeg dapat menjadi anggota DPRD.

Bukankah ini lucu?

Saya sepakat bahwa mayoritas rakyat Indonesia bukanlah orang berpendidikan dan berasal dari ekonomi menengah ke atas, tapi apakah itu berarti rakyat kita harus diwakili oleh mereka yang tidak berpendidikan? Jika memang begitu, bagaimana negara ini akan menjadi semakin baik?

Ini sama saja dengan tidak adanya orang pandai yang ingin jadi guru, sehingga guru-guru saat ini adalah mereka yang tidak diterima di jurusan lain atau di tempat kerja lain. Apa jadinya anak-anak kita diajar oleh orang yang tidak pandai?

Rakyat Indonesia sudah terlanjur diwakili oleh orang-orang yang memalukan. Sebagai rakyat yang hanya mewakili diri sendiri atau hanya mewakili keluarga dan organisasi kecil, kita mungkin bersikap apatis terhadap bangsa ini. Mungkin apa yang kita lakukan dampaknya hanya sedikit sekali dibanding dengan para wakil rakyat itu. Tapi hal-hal kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan dan memikirkan dampak perbuatan kita pada negara ini merupakan langkah awal yang baik untuk memajukan bangsa dan tidak membuat malu di mata Internasional: berhentilah saat lampu merah, kantongi saja sampah jika Anda tidak menemukan tempat sampah, jangan menyuiti wanita yang lewat, kendalikan pikiran kotor, bicara dengan santun dan jangan egois…

Saya tidak dapat membayangkan apa yang ada di pikiran para wakil rakyat memalukan yang ada di dalam gedung DPR. Saya hanya bisa berdoa mudah-mudahan saja rakyat Indonesia suatu saat diwakili orang-orang berpendidikan, bermartabat, tidak egois dan santun… Ya, tidak ada salahnya berdoa, bukan?

Advertisements