Ketika Bahasa Ibu menjadi Membingungkan


Waktu SD kita belajar mengenai istilah “Bahasa Ibu”, yaitu bahasa pertama yang dipelajari anak, sesuai dengan bahasa yang digunakan ibunya dan selanjutnya akan menjadi bahasa utama anak tersebut.

Bahasa Ibu saya adalah bahasa Indonesia. Mama saya jarang sekali (malah tidak pernah) berbicara dengan bahasa daerah apalagi bahasa asing pada saya. Mama berbicara pada saya dengan menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari yang mudah dimengerti dan saya gunakan untuk bercakap-cakap dengan teman-teman saya di sekolah.

Istilah yang digunakan adalah bahasa Ibu karena “jaman dulu”, para ayah sibuk mencari uang di luar rumah, dan sebagian besar waktu seorang balita yang belum sekolah dihabiskan bersama ibunya. Mungkin jaman sekarang istilah “bahasa Ibu” tidak lagi signifikan jika digunakan mengacu pada bahasa utama dan pertama yang dipelajari anak.

Walaupun masih ada ibu-ibu yang memutuskan untuk menjadi fulltime mom, namun tidak sedikit juga para ibu yang segera meninggalkan bayinya untuk bekerja di kantor pada saat bayinya baru saja berusia beberapa bulan. Mereka menitipkan bayinya pada orangtua mereka (nenek si bayi), saudara mereka (tante si bayi), babysitter atau penitipan anak (seperti yang ada di sebela kantor saya).

Tidak heran suara yang paling sering didengar anak-anak dan bahasa pertama yang mereka pelajari bukanlah bahasa dari Ibu mereka, tapi dari nenek atau babysitter (yang mungkin juga tidak menggunakan bahasa Indonesia).

Mungkin Anda berkata, “jaman sekarang berbeda, kebutuhan sehari-hari begitu tinggi sehingga saya dan suami (atau dan istri) harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga”. Baik, setiap keluarga memiliki kesulitan dan jalan keluar masing-masing. Saya tidak ingin menilai apakah istri bekerja itu benar atau salah. Tulisan saya kali ini dimaksudkan untuk membahas mengenai sebuah kata yang sangat penting artinya: KOMUNIKASI.

Saya kemarin berkunjung ke rumah seorang teman yang memiliki anak berusia 1 tahun. Si ibu memutuskan untuk membantu suami yang adalah pengusaha, sehingga mereka bebas membawa anak-anak mereka kemana saja mereka pergi. Hal yang menarik menurut saya adalah ketika si Ibu (juga ayah) berbicara dalam bahasa campur aduk kepada anak mereka.

Berbicara dengan bahasa campur aduk kepada seorang anak yang baru belajar menyerap kata dan mengerti bahasa adalah hal yang berbahaya, menurut saya. Ketika anak tersebut menangis, si ibu berkata “shame ih”, ketika si anak bertemu dengan orang baru, si ibu berkata “shake hands”, ketika si ibu ingin menunjukkan kepiawan si anak, ia berkata “what is this”, sementara si ibu tetap menggunakan bahasa Indonesia kepada orang lain yang dia ajak bicara.

Apakah hal ini terdengar biasa bagi Anda? Ya, begitu banyak ibu-ibu muda yang menyiapkan “era globalisasi” kepada anak-anak mereka sejak “terlalu” dini. Mereka membuat bingung anak-anak mereka dengan bahasa yang dicampur aduk tidak keruan. Mungkin Anda berkata “tapi sekolah bagus sekarang menggunakan dua bahasa”.

Baik, saya akan bertanya pada Anda. Apa tujuan Anda mengajari anak Anda bicara? Apakah supaya dia terlihat normal? Atau supaya dia bisa berbunyi? Saya rasa tentunya maksud Anda lebih dari itu, bukan? Anda ingin anak-anak Anda bisa berkomunikasi dengan baik.

Saya pernah berkata pada anak-anak remaja ketika saya sedang membawakan seminar di salah satu sekolah, “apa tujuan kamu belajar bahasa Indonesia”, dan juga kepada para guru saat saya membawakan training, “menurut Anda mengapa siswa-siswi kita harus belajar bahasa Indonesia?” Apakah sekedar memenuhi kurikulum? Apakah sekedar untuk mengisi raport?

Manusia adalah mahluk sosial. Salah satu syarat mahluk sosial adalah sanggup berkomunikasi dengan baik dan benar. Berkomunikasi dengan baik dan benar artinya dapat mengungkapkan apa yang dipikirkan dan dirasakan kepada orang lain dengan cara yang benar dan bahasa yang tepat sehingga si penerima informasi dapat memahami apa yang disampaikan.

Jadi, jika seseorang dapat berkomunikasi dengan baik, artinya ia dapat membuat si penerima informasi memahami maksudnya tanpa merasa tersinggung atau bingung. Bukankah saat ini kita sering melihat anak-anak yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi? Ketika ditanya atau disapa mereka akan bersembunyi, atau malah kurang ajar. Namun mereka mungkin bisa menyebutkan dengan lancar 1 – 10 dengan bahasa Inggris dan Mandarin.

Saya jadi bingung sendiri, kenapa orangtua lebih bangga anaknya menguasai bahasa asing daripada dapat berkomunikasi dengan lugas dan santun kepada orang lain. Kenapa menguasai bahasa asing sejak dini begitu membanggakan orangtua namun kekurangajaran hanya ditertawakan dan dianggap lucu?

Berbicara dengan bahasa campur aduk kepada anak-anak (apalagi jika orangtua mengalami keterbatasan dalam bahasa asing tapi memaksakan diri) justru akan membuat anak-anak bingung dan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.

Kita tinggal di Indonesia. Mengajarkan anak-anak Anda berbahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan sebuah keharusan jika Anda ingin anak-anak Anda dapat menjadi bagian dari masyarakat. Lagipula, jika kita berbicara soal “menjadi berkat”, bagaimana mungkin anak-anak itu menjadi berkat jika mereka mengalami kesulitan dalam berkomunikasi atau memiliki pemahaman yang salah dalam komunikasi.

Saya tidak berusaha mengajari atau menilai. Sekali lagi setiap rumah tangga memiliki kebijakan dan masalahnya masing-masing. Hal yang terpenting adalah membesarkan generasi yang takut akan Tuhan, dan dapat menjadi bagian yang berdampak positif dalam masyarakat.

Advertisements