Ketika sesuatu yang salah dilakukan pada waktu yang salah


Saya tadinya tidak ingin mengomentari kasus Florence yang begitu heboh beberapa hari belakangan ini. Kasus yang sebenarnya tidak aneh di era media sosial seperti ini. Seorang wanita perantau temperamental, emosi karena keinginannya mengisi Pertamax di tempat mobil tidak dikabulkan, mungkin tidak memiliki sahabat atau sekedar teman kost yang dapat dijadikan tempat menumpahkan kekesalannya, sehingga memutuskan melampiaskan emosinya di media sosial Path.

Kemarin saya menonton Suara Anda di Metro TV yang membahas kasus Florence. Seorang ibu yang berasal dari Jogja menelepon dan mengatakan bahwa dirinya merasa puas karena Florence menjadi tahanan Polda setempat. Saya merasa bingung dengan ibu ini dan juga Warga Jogja lain yang merasa senang karena penahanan Florence. Si Ibu berkata bahwa tidak semestinya Florence memaki kota Jogja di Media Sosial di mana banyak orang yang melihat.

Saya ingin membahas beberapa hal. Tapi ijinkan saya membahas mengenai media sosial bernama PATH terlebih dahulu. Berbeda dengan Facebook, Twitter, Instagram dan Media Sosial lain, Path memiliki sedikit eksklusifitas… Path adalah PRIVATE Social Network yang memungkinkan penggunanya hanya memiliki 150 teman dalam satu account (bandingkan dengan Facebook yang memungkinkan kita memiliki ribuan teman).

Ketika Florence menshare kemarahannya di Path, maka yang membacanya adalah 150 temannya di Path. Dari 150 orang itu, beberapa mungkin melakukan re-path sehingga ada kemungkinan orang lain pun bisa melihat status yang berisi kemarahan ini. Entah itu temannya atau orang yang melihat repath ini telah sengaja mengcapture atau membagikan status makian ini kepada publik. Maksud saya adalah, menurut saya, orang yang memulai masalah ini bukanlah Florence, tapi orang usil yang memutuskan untuk menshare makian Florence kepada publik.

Saya tidak mengatakan bahwa apa yang dilakukan Florence adalah hal yang benar. Sejak dulu saya tidak suka orang memaki di media sosial. Sekedar menumpahkan kekesalan adalah hal yang lumrah karena jaman sekarang jumlah teman seseorang semakin sedikit sehingga kebanyakan orang yang merasa perlu pelampiasan atau curhat, melakukannya di media sosial dengan harapan ada satu atau dua orang yang peduli dan mau membaca uneg-unegnya.

Namun, saya juga adalah seorang yang suka menulis. Saya suka menuliskan pandangan, pikiran bahkan perasaan saya di blog pribadi saya ini. Makanya saya sering mengatakan bahwa seluruh tulisan saya di blog ini merupakan opini pribadi saya, tidak ada paksaan bagi pihak manapun untuk mempelajari, apalagi meyakini tulisan ini.

Hal berikutnya yang saya ingin bahas adalah soal makian di media sosial. Ayolah, setiap orang yang memaki di media sosial tentunya memiliki alasan. Saya pun muak dengan kota Bandung yang merupakan kota kelahiran saya. Kenapa? Begitu banyak sampah dan orang-orang yang tidak peduli dengan kebersihan membuang sampah begitu saya di got. Belum lagi supir angkot yang seenaknya memotong jalan dan berhenti di tengah jalan. Jika Anda mencari satu persatu makian terhadap komunitas atau kota, Anda akan menemukan ratusan makian yang tidak terekspose seperti makian Florence.

Sekali lagi bukan berarti apa yang dilakukan Florence benar, namun tindakan yang dilakukan warga Jogja dan aparat yang melakukan penahanan terhadap Florence merupakan hal yang absurd dan tidak masuk akal. Penuhi penjara dengan orang-orang yang memaki organisasi, komunitas, kota atau negara dan Anda akan mendapati bahwa negara ini butuh pembangunan penjara besar-besaran.

Ada yang membahas bahwa kesalahan yang dilakukan Florence adalah mengeneralisasi sebuah kesalahan menjadi kesalahan publik sehingga orang yang merasa dirinya merepresentasikan kota Jogja merasa tersinggung dan marah. Negara ini memang aneh… Mereka toleransi kepada orang-orang tidak memiliki etika yang jelas-jelas merugikan (seperti tukang becak yang melawan arus lalu lintas), namun tidak bisa toleransi kepada seorang perempuan pemarah yang sudah minta maaf.

Negara ini memang aneh, bukan? Mereka bisa toleransi kepada Prabowo yang menyulitkan seluruh negara, mengatakan bahwa bangsa Indonesia naif dan goblok, mengikutinya hingga ke MK, namun tidak bisa toleransi kepada seorang perempuan temperamental yang sudah mengakui kesalahannya.

Negara ini memang aneh, bukan? Mereka menghukum Ratu Atut yang menyuap dan melakukan money laundry dan politik uang lainnya selama 4 tahun, namun menuntut 6 tahun pada seorang perempuan emosional yang menyesali perbuatannya.

Kesimpulan saya… Florence hanyalah seorang wanita yang melakukan suatu kesalahan di waktu yang salah. Banyak orang yang melakukan kesalahan seperti Florence, memaki suatu organisasi, orang, golongan, bahkan Presiden di media sosial. Namun beruntungnya, mereka melakukan hal yang salah tidak di saat yang salah.

Kesimpulan berikutnya… hati-hati dengan teman Anda… Mereka mungkin menjerumuskan Anda. Karena itu, berusahalah hidup benar, agar tak ada seorang pun yang memiliki bukti dan perkara untuk menyudutkan Anda.

Advertisements