Ketika Manusia Aus dan Rusak (seri 2)


Setelah menulis dan mengepost tulisan “Ketika Manusia Aus dan Rusak”, saya baru sadar bahwa banyak yang kurang dalam tulisan itu. Saya agak kuatir Anda, pembaca tidak bisa mendapat gambaran jelas dari apa yang saya maksudkan.

Saya memikirkan ulang mengenai “siapa yang bertanggungjawab atas kerusakan atau keausan manusia?”. Saya berpikir itu adalah tanggungjawab masing-masing, tapi kemudian berpikir bahwa bukankah setiap orang diberi tanggungjawab berbeda? Bukankah manusia adalah mahluk sosial?

Kemudian saya mengobrol dengan adik saya, dan akhirnya memutuskan untuk menuliskan seri 2 dari tulisan ini.

Beberapa waktu lalu, saya cukup pusing dengan urusan beberapa lagu saya yang statusnya saat itu saya anggap tidak jelas. Kemudian seorang kenalan berkata seperti ini “sudahlah, kalau menurut saya sih pemutihan saja. Greis itu kan sangat berbakat. Dia kan bisa bikin lagu lagi… Udah relain aja lagu2 yang dulu mah”. Yang sedang dia bicarakan adalah lagu Ku Istimewa dan teman-temannya.

Saya, adik saya dan orang-orang yang dekat dengan saya menertawakan ide gila pemutihan dari kenalan ini. Apakah dia menganggap bahwa sebuah karya itu seperti pisang goreng?

Adik saya berkata, penjual pisang goreng pun akan marah jika tiba-tiba ada orang yang mencomot satu pisang goreng kemudian berkata, “kamu kan punya banyak pisang gorengnya, saya cuma minta satu kok”

Berkaitan dengan tulisan saya yang pertama, adik saya berkata bahwa jaman sekarang itu orang-orang sibuk, lebih rasional meninggalkan domba kecil yang masuk ke jurang dan “beralasan” menjaga 99 domba lainnya. Apalagi jika domba itu kurus, kecil, dan tidak berbulu… Tidak berharga untuk diperjuangkan, apalagi sampai mempertaruhkan nyawa.

Apakah hal ini akan berbeda jika si gembala hanya memiliki dua ekor domba? Jika satu hilang atau masuk jurang, apakah si gembala akan mati-matian mencarinya. Atau memilih untuk mencari ke kandang lain dan membujuk domba di sana dengan rumput yang lebih hijau?

Selanjutnya saya bertanya, bagaimana jika seorang ibu yang memiliki anak 12 orang (Papa saya 12 bersaudara, lho), kemudian salah satu anaknya yang paling nakal, sudah tidak naik kelas 3 x, dan kurus kering karena tidak mau makan, karena kenakalannya tersesat dan hilang. Apakah ibu (atau bapak) itu akan berjuang agar menemukan anaknya? Atau berpikir, “sudahlah, masih ada 11 orang yang lebih baik”

Jika 12 terlalu sedikit, bagaimana jika anaknya ada 100? Apakah hilang satu akan tidak berarti apa-apa?

Bagaimana dengan uang. Jika Anda memiliki 100 juta, apakah Anda akan pusing jika 5 ribu rupiah hilang? Apakah berbeda jika Anda hanya memiliki 10 ribu saja?

Maksud saya begini. Apakah jumlah orang atau jumlah hak milik berpengaruh pada perasaan seseorang terhadap apa yang dimilikinya? Apakah perasaan yang dipengaruhi itu adalah “sayang” atau sekedar “perasaan memiliki” saja?

Ya benar, ini adalah hal yang tertinggal di tulisan saya sebelumnya… Berbicara tentang manusia adalah bicara tentang kasih.

Jika Anda memiliki kasih terhadap domba-domba Anda, maka yang Anda pedulikan bukanlah jumlah domba-domba Anda. Maksud saya, jika yang Anda pedulikan hanyalah jumlah, maka jika satu domba tersesat atau hilang, maka yang perlu Anda lakukan hanyalah membeli satu domba lagi. Atau Anda tidak perlu mengenali mereka satu persatu, yang perlu Anda lakukan hanyalah menghitung mereka satu persatu seperti Anda menghitung uang.

Ketika kenalan saya mengatakan agar saya melakukan “pemutihan”, saya memiliki pengertian mengenai gembala dan domba… Dan bagaimana perasaan Tuhan terhadap ciptaannya.

Di mata orang lain, lagu-lagu saya hanyalah sekedar ciptaan. Tapi di mata saya, itu adalah milik saya. Di mata Anda, mungkin manusia hanyalah sekedar orang-orang yang banyak Anda temui. Tidak apa jika hilang satu, toh dengan program yang menarik Anda bisa mendapatkan lebih banyak lagi.

Di mata Anda mungkin jemaat mungkin hanyalah sekedar orang-orang yang mirip satu dengan lainnya. Tak apa si A tidak bisa mengerjakan itu, toh masih ada si B dan C. Tidak apa si Y keluar, masih banyak orang yang mengantri ingin masuk.

Namun tahukah Anda, di mata Penciptanya, setiap orang itu begitu berharga. Namanya dikenalnya satu persatu.

Saudaraku, jika Anda membaca ini dan merasa bahwa di tempat kerja atau bahkan di gereja, Anda hanyalah satu dari sekian banyak “properti orang”, kabar baiknya adalah, bagi Sang Pencipta, Anda begitu penting.

Saking pentingnya sampai Dia tidak akan melakukan “pemutihan” terhadap Saudara. Saking pentingnya sampai Dia tidak akan merelakan Saudara untuk hilang di jurang. Saking pentingnya sampai baginya yang penting bukanlah jumlah, tapi nama.

Gembala kita di dunia rupanya tidak bisa melakukan seperti yang Sang Pencipta lakukan. Mereka tidak sanggup membuat sistem atau mengenali nama Anda. Tapi Tuhan mengenal nama Anda.

Gembala kita di dunia tidak sanggup mengetahui kapan Anda sakit atau sehat, senang atau sedih, terluka atau tidak…mereka bahkan mungkin tidak peduli. Tapi Tuhan tahu dan Dia peduli.

Satu hal yang harus Saudara ingat adalah… Gembala Anda yang sebenarnya tidak ada di dunia. Beberapa orang mungkin diberi karunia sebagai gembala sejumlah kecil orang, tapi kebanyakan mereka tidak sanggup melakukan apa yang Gembala Agung lakukan.

Ketika Yesus menyuruh Petrus menggembalakan domba-domba, sebelumnya Ia bertanya “apa kau mengasihi Aku”. Syarat seseorang dapat menggembalakan orang lain adalah mengasihi Tuhan…

Jika Anda seorang gembala, atau diberi kepercayaan untuk menggembalakan sejumlah orang, maka hal pertama yang harus Anda miliki adalah kasih kepada Tuhan…

Jika Anda tidak dapat melakukannya, jangan menyebut diri gembala… Mungkin Anda hanya seorang guru besar di atas mimbar.

Advertisements