Antara Insting, Emosi, Logika, Iman dan Seorang Gadis Bernama Novela


Saya suka sekali dengan drama pilpres tahun ini. Bagi saya, drama pilpres ini memberi banyak pelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia. Ketika Sang Macan tidak terima kekalahannya dan membawa kasus kekalahannya ini ke Makhamah Konstitusi. Kemudian masyarakat disuguhi lagi pelajaran mengenai sidang konsititusi yang menarik untuk disimak. Mulai dari saksi-saksi yang bodoh, tidak relevan, hingga ketua MK yang berwibawa dan para hakim anggota yang pintar benar-benar menarik perhatian.

Hari ini, kita disuguhi komedi dalam Sidang MK, ketika seorang saksi yang didatangkan kubu Prabowo Hatta berani membentak setiap orang yang bertanya padanya, mulai dari pengacara, hingga hakim ketua MK sendiri.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=zCzie9pHBtM]

Baru saja saya berpikir, ada yang salah dengan drama ini. Apakah memang para hakim yang mulia tersebut akan merespon dengan tersenyum dan tertawa seperti itu kepada setiap saksi yang bertindak kurang ajar seperti Novela Nawipa dari Papua ini? Jika ya, maka bukankah Majelis Hakim tidak layak dikatakan Yang Mulia. Namun jika tidak, maka apa yang melatarbelakangi mereka mengalah begitu saja, tidak ambil pusing ketika seorang wanita Papua bernama Novela Nawipa membentak mereka?

Apakah Novela Nawipa memiliki karisma luar biasa? Apakah dia wanita dengan IQ di atas 150? Apakah dia seorang pendidik atau telah berbuat banyak untuk Indonesia tercinta?

Jawaban untuk semua pertanyaan di atas adalah TIDAK!

Novela Nawipa hanyalah seorang warga biasa yang bertugas sebagai saksi mandat pada pemilu tahun 2014 di desa kecil Papua yang bernama Awaputu, Kabupaten Dogiyai. Dia bahkan salah menyebut 300 meter dengan 300 km dan tanpa perasaan malu menyebutkan “saya manusia, punya salah nggak apa apa”.

Apa yang menyebabkan para hakim sekelas Patrialis Akbar dan Hamdan Zoelva tidak marah, mengusir atau memperingatkan Novela?

Mungkin Anda memiliki pemikiran seperti saya. Karena Novela hanyalah seorang gadis kampung yang berasal dari desa terbelakang di pulau paling ujung dan jauh dari pembangunan di negeri ini. Saya tidak sedang bicara rasialis, atau mendiskreditkan Papua. Saya hanya bicara fakta. Para hakim itu memaklumi tingkat pengetahuan, pendidikan, karakter dan life skill Novela dan tidak ambil pusing dengan kekurangajarannya.

Pertanyaan berikutnya adalah, kenapa Novela, si gadis kampung terlihat seperti memiliki pertahanan yang begitu luar biasa? Dia berkali-kali berkata, “Bapak jangan cari-cari kesalahan saya”, memasang wajah begitu garang dan menggunakan nada tinggi.

Pernahkan Anda bertemu dengan macan atau ular? Apa yang akan mereka lakukan dalam keadaan terhimpit? Anda akan mengetahuinya dari bahasa tubuh mereka. Sebelum mereka menyerang mereka akan mengambil ancang-ancang dan ketika mereka merasa saatnya tiba…mereka akan menyerang.

Jawabannya adalah insting. Semua mahluk hidup dari yang terendah hingga manusia memiliki insting. Insting ini diatur oleh bagian dari otak yang bernama otak reptil, yang merupakan fungsi terendah dari otak. Insting ini yang membuat mahluk hidup mempertahankan diri, menyerang atau bersembunyi saat takut Insting ini juga yang membuat mahluk hidup dapat berkembang biak saat berhubungan dengan lawan jenisnya.

Saya seringkali menerangkan hal ini. Otak reptil membuat mahluk hidup dapat bertahan hidup dan berkembang biak. Otak limbik (yang dimiliki mamalia juga manusia) mengatur emosi. Terakhir, otak neo-korteks yang hanya dimiliki manusia mengatur logika dan kendali atas emosi.

Jangan salah paham, saya tidak sedang berusaha menyamakan Novela (atau warga Papua) dengan hewan. Saya menyadari banyak sekali juara-juara berasal dari Papua. Bahkan suatu kali, anak Papua pernah memenangkan olimpiade Fisika dan saya angkat topi.

Hal yang ingin saya sampaikan di sini adalah, jika manusia hanya diberi makan, tapi tidak diberi pendidikan dan pengetahuan yang layak.. Maka pada akhirnya kita akan bertemu dengan seorang manusia yang memiliki insting lebih tinggi dari logika, dan tidak memiliki kendali atas emosinya.

Masalahnya adalah, tidak meratanya pembangunan di Indonesia dan tidak dibarenginya pendidikan akademis dengan pendidikan karakter menciptakan manusia-manusia seperti Novela. Manusia-manusia yang walau berpotensi untuk mengembangkan logika (karena mereka memiliki otak neo-korteks), tapi tidak mengasahnya dan lebih banyak menggunakan insting untuk hidup. Mungkin hal ini terjadi tidak hanya di Papua. Mungkin juga terdapat orang-orang seperti Novela di Pulau Jawa (hanya saja biasanya, insting mempertahankan hidup orang-orang di Pulau Jawa adalah bersembunyi dan bukannya menyerang).

Memiliki insting bukanlah hal yang salah, namun kodrat manusia adalah menggunakan logikanya di atas instingnya, bahkan di atas emosinya (walau memang ada beberapa waktu di mana insting Anda akan lebih membantu, seperti di saat-saat darurat).

Saya beri contoh… Anda baru saja melakukan kesalahan di jalan raya ketika Anda melihat polisi siap memberhentikan Anda. Apa yang Anda akan lakukan? Insting akan memberitahu Anda untuk “LARI”, emosi akan membuat Anda takut, logika akan membuat Anda mengatur strategi bagaimana caranya lepas dari polisi itu (entah itu mengikuti sidang atau menyogok).

Contoh lain adalah Hamdan Zoelva… Dia yang seorang Doktor, dibentak oleh seorang gadis tak berpendidikan bernama Novela. Instingnya pasti memberitahunya untuk balik menyerang. Emosinya membuatnya memiliki perasaan tersinggung (atau kasihan) mungkin. Logikanya membuatnya berpikir dari sudut pandang latar belakang saksi.

 

Terlepas dari masalah insting dan logika, jika kita melihat dari sudut pandang lain, maka kita akan mendapat sebuah analogi yang bagus sekali. Seorang Dr. Hamdan Zoelva yang dipanggil Yang Mulia pada akhirnya sama sekali tidak emosi, menggunakan logikanya dengan baik dan kemudian hanya tersenyum penuh pengertian kepada seorang gadis dari dusun bernama Novela Nawipa

Ketika membayangkan bahwa bisa saja perasaan Hamdan Zoelva kepada Novela sama seperti perasaan Tuhan saya terhadap saya, maka saya mengubah sudut pandang saya 180 derajat.

Bukankah seringkali kita bersikap seperti itu kepada Tuhan dan kehidupan? Ketika Tuhan ingin berbuat sesuatu dalam kehidupan kita, kita menjawab-Nya seperti Novela “kenapa Kau seperti mencari-cari kesalahanku” atau “apa salahku sehingga mendapat masalah seperti ini”. Kemudian, bukannya marah, Tuhan malah melihat kita dan tersenyum penuh pengertian, seolah Ia mengerti mengapa kita menjawab seperti itu.

Namun masalahnya, seringkali urusan kita dengan Tuhan terjadi bukan karena kita tidak menggunakan logika kita… tapi karena kita terlalu menggunakan logika dan melupakan iman.

Saya merenungkan, apakah iman ini berada di atas otak neo-korteks atau seimbang dengan otak neo-korteks. Saya tergoda untuk menjawab “tidak bisa dibandingkan”, namun saya akhirnya memutuskan bahwa iman kepada Tuhan seharusnya berada di atas logika kita.

Jadi setelah tulisan ini… saya akan menambahkan ke dalam bahan-bahan saya… Urutan yang benar adalah otak reptil yang dimiliki oleh seluruh hewan dan manusia, otak limbik yang dimiliki mamalia dan manusia, otak neo-korteks yang hanya dimiliki manusia dan membedakannya dengan hewan, dan IMAN kepada Tuhan yang membedakan antara manusia beradab dan tidak.

Advertisements