Tadi malam (atau subuh, tepatnya) saya mendengar sebuah berita yang (lagi-lagi) membuat saya berpikir bahwa manusia semakin lama memiliki moral yang semakin rendah.

Berita tentang seorang ibu yang membunuh anak gadisnya berusia 20 tahun, kemudian “menguburnya” di dalan septic tank,… Menggali sendiri menggunakan pisau, dan ditutupi dengan lapisan beton… Semua dilakukan sendiri.

Itu terjadi dua tahun yang lalu, katanya. Alasannya sederhana, si anak menumpahkan makanan saat disuruh mengambil makanan… Si Ibu merasa kesal, memukuli anaknya dengan sandal, dan akhirnya membunuhnya.

Beberapa hari yang lalu juga saya membaca berita tentang remaja Jepang yang memutilasi temannya, menyusunnya di tempat tidur dan mengunggahnya di media sosial dengan tulisan “I do it myself”.

Satu atau dua kejadian gila dalam dunia saat ini tidak dapat masuk ke akal kita yang mengaku waras. Namun jika Anda disuguhi berita seperti itu terus menerus, maka Anda pada akhirnya akan berkata “sebenarnya ini siapa yang gila?”

Dalam dunia yang memang dipenuhi orang gila ini, sering kali kita yang berusaha hidup wajar dan waras merasa begitu lelah… Kemudian menyalahkan bahwa hidup ini tidak adil.

Kalimat yang sering diucapkan orang akhir-akhir ini adalah yang berhubungan tentang keadilan (bahkan seorang seperti Prabowo pun menuntut keadilan… Walau tanpa dasar).

Isu ketidakadilan ini ketika dikembangkan lebih jauh oleh otak waras kita, maka akan. membawa kita dalam depresi berkepanjangan. Kita menolak untuk bekerja karena terlalu banyak korup dan ketidak adilan.

Kita menolak untuk sekolah karena merasa sia-sia dan tidak ada artinya jika pada akhirnya nanti mereka yang sukses adalah yang memiliki koneksi atau ayah yang kaya raya.

Kita menolak untuk ikut suatu organisasi atau badan amal karena kita takut di belakang itu semua ada pemanfaatan dan korupsi.

Kita menolak untuk berteman karena kita takut teman kita itu memiliki maksud yang tidak-tidak pada kita.

Ya, Saudara… Ketika kita mengijinkan otak waras kita dicemari oleh kecurigaan, jangan salahkan orang lain ketika pada akhirnya kita bernasib sama seperti apa yang kita takuti.

Seorang sahabat bercerita tentang temannya, kakak beradik, dari daerah yang hijrah ke Bandung untuk kuliah di ITB dan pulang setelah beberapa semester saja dalam keadaan gila.

Sahabat saya mengatakan bahwa itu karena mereka menemukan ternyata mereka tidak dapat menjadi seperti yang mereka inginkan… Saya katakan itu semacam “bawaan keluarga”

Beberapa orangtua tidak menyiapkan anak-anaknya untuk menghadapi kehidupan. Mereka lupa memberitahu anak-anak mereka bahwa dalam hidup terkadang kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan.

Orangtua lupa memberitahu anak-anak mereka bahwa ukuran keadilan bukanlah “menerima apa yang kita inginkan”, melainkan “mendapat hasil sesuai usaha” dan bahwa keadilan dalam hidup ada di tangan Sang Hakim Agung.

Orangtua lupa memberi pesan pada anak-anak mereka bahwa terkadang Tuhan memberi kita hak istimewa untuk menjaga keadilan itu sendiri… Dengan berbuat baik pada mereka yang berbuat jahat…memutuskan rantai kejahatan. Dengan memberi pada mereka yang kekurangan, menciptakan kebahagiaan.

Orangtua lupa menasihatkan bahwa memberi jauh lebih baik dari menerima, dan bahwa pusat semesta bukanlah diri kita sendiri.

Terkadang kita merasa bahwa hidup tidak layak diperjuangkan… Sama seperti lulusan S2 UI yang meminta pengesahan suntik mati ke MK…

Suka atau tidak, terima atau tidak… Hidup adil dengan misterinya sendiri… Disediakannya tempat untuk orang jahat, namun disediakannya juga tempat untuk orang baik, seperti Anda. Disediakannya tempat untuk orang gila, namun disediakannya juga tempat untuk orang waras, seperti Anda.

Suka atau tidak, kita tidak bisa mengendalikan orang lain… Tapi kita bertanggungjawab atas diri kita, dan anak-anak kita.

Kita tidak bisa mengendalikan orang lain, tapi kita bisa mengendalikan diri… Untuk dapat berpikir, bahkan saat emosi… Untuk dapat berpikir sebelum berbicara, untuk dapat menahan lidah saat ingin memaki.

Beberapa orang mengatakan bahwa kejahatan dilakukan karena pelakunya gelap mata… Bahwa saat itu ia khilaf… Bahwa mungkin saja setan yang mengendalikan dia saat melakukan kejahatan.

Saya katakan, dia tidak mendapat olahraga hati nurani dan didikan yang benar sejak kecil…

Tapi suka atau tidak, kita tidak bisa mengendalikan mata orang lain… Tapi kita bisa mengendalikan diri sendiri, bahkan mengalahkan setan yang berusaha mengendalikan kita…

Seorang Rasul berkata pada koleganya yang masih muda “awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau” (I Tim 4:16)

Yep… Kita tidak bisa berharap diri kita mengubah dunia, jika kita tidak mengawasi diri kita sendiri…

Jadi, saat kita merasa hampir menjadi gila di dunia yang gila ini, mungkin ayat ini dapat menguatkan kita…
“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan kepada barangsiapa yang mengasihi Dia…”

Advertisements