Kematian terkadang datang dengan cara yang tidak terduga… Beberapa dari kita meratapi kematian sebagai hukuman dari Sang Khalik, ketika sebuah aturan dilanggar atau ketetapan diabaikan.

Kematian tidak memandang usia. Mendatangi orang yang sudah renta itu pasti, tinggal menunggu hari. Namun bukannya tak mungkin mendatangi seorang yang masih muda belia, berenergi atau bahkan masih bayi.

Beberapa hari yang lalu seorang teman membacakan Broadcast Message tentang seorang bayi yang hilang karena diculik. Dari isi pesan tersebut kita dapat mengetahui bahwa pembuatnya sedang mengalami emosi campur aduk… Antara sedih, marah, mengecam, putus asa jadi satu. Satu kalimat ia mendikte, kalimat lain ia memohon.

Saat itu saya begitu heran… Ada orang hilang bayi kok sampai main ancam dan dikte… Tapi kemudian saya berpikir, itulah sikap seorang ibu yang kalut ketika buah hatinya diambil dari dirinya. Marah, sedih, putus asa…

Tadi siang saya mendengar dari adik saya bahwa bayi yang diceritakan dalam broadcast message tersebut sudah ditemukan, dalam keadaan membusuk di belakang rumahnya sendiri.

Bayi itu dibunuh oleh pembantu rumah tangga mereka dengan cara ditusuk, dibungkus terpal dan dibuang begitu saja di belakang rumah… Alasannya? Karena si pembantu tidak diberi rempeyek oleh majikan.

Suatu cara kematian yang begitu tragis untuk seorang bayi yang belum mengerti apa-apa.

Saya termasuk orang yang keras dan emosional. Saya suka terpancing emosi ketika menyetir dan ada becak atau sepeda yang melawan arah dan mengambil jalan seenaknya. Adik saya sering bilang bahwa saat ini orang-orang begitu jahat, membunuh orang lain tanpa perasaan, dan tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Saya tidak dapat membayangkan perasaan orangtua bayi itu… Saya tidak bisa bilang bahwa bayi itu ditukar demi rempeyek… Dan juga tidak dapat menyalahkan si orangtua karena tidak memberi rempeyek pada pembantunya. Tidak adil jika mereka disalahkan setelah kehilangan yang begitu besar…

Lepas dari moral yang bejat dari manusia masa kini, kematian memang terkadang datang dengan cara yang begitu tidak terduga… Seringkali bahkan dengan cara yang membuat kita mempertanyakan kedaulatan Tuhan… Mungkinkah Tuhan merencanakan semua ini… Atau membuat kita mempertanyakan diri kita, “salah apa aku hingga harus dihukum seperti ini”

Kenyataannya, kematian benar-benar merupakan kedaulatan Tuhan, datang dengan cara misterius yang tidak terduga sama sekali.

Hari ini juga saya mendengar kabar kematian yang begitu memilukan hati saya. Teman saya semasa SMP kehilangan suaminya pada saat mereka berada di tempat yang jauh.

Mereka berada di tempat itu karena pekerjaan suaminya. Teman saya seorang istri dan ibu rumah tangga biasa, tidak memiliki saudara atau kerabat di tempat itu, mengurus semua sendiri, mulai dari rumah sakit hingga menemani suaminya selama di rumah sakit.

Dokter menemukan cacing dan larva di otak suaminya, membawanya dalam halusinasi dan sakit kepala berkepanjangan, koma… Dan akhirnya meninggal dunia dalam usia begitu muda.

Bagaimana cacing itu bisa sampai di otak? Sederhana, daging babi dan kodok yang tidak dimasak sampai matang, masih mengandung larva cacing, terbawa melalui pembuluh darah sampai ke otak.

Pertanyaannya, salah siapa? Saya hanya bisa menjawab, “kedaulatan Tuhan”.

Bukannya Tuhan tidak mendengar doa, namun nasib mengenai umur manusia ada di tangan Tuhan, dan manusia tidak berbuat apa-apa.

Terkadang penyesalan datang, seperti “andai saja rempeyek sialan itu aku berikan padanya” atau “andai saja kami tidak terus menerus makan babi itu”… Walau kematian butuh cara, namun kedaulatan Tuhan yang mengetuk palu terakhir.

Saya suka ide film final destination, walau saya pernah walkout dari bioskop saat menonton film tersebut karena tidak dapat menerima cara kematian yang begitu brutal.

Walau saya tidak mempercayai sepenuhnya, namun ide awalnya adalah bahwa kematian adalah kedaulatan Tuhan, tak peduli bagaimana cara yang mengantar manusia pada kematian…

Setiap manusia memang pasti akan menghadapi kematian, namun bukan berarti bahwa hidup di dunia ini adalah hidup menantikan kematian. Kematian hanyalah akhir dari sebuah perjalanan panjang bernama kehidupan… Akhir dari sebuah tugas besar yang Tuhan berikan pada kita.

Sang Rasul Paulus berkata bahwa baginya hidup adalah menghasilkan buah, dan mati adalah sebuah keuntungan…

Kalau kita melihatnya dari sudut pandang bahwa kita hidup untuk menjalankan tanggungjawab besar dari Tuhan dan kematian adalah akhir tugas besar itu… Dan kalau kita tahu pasti kemana kita akan pergi setelah tugas besar itu berakhir… Maka kita akan mengatakan hal yang sama seperti Paulus…

Bagiku hidup adalah bekerja menghasilkan buah, dan mati adalah keuntungan…

Advertisements