Idul Fitri tiba… Ketika seluruh umat muslim di dunia merayakan hari kemenangan, walau tak seluruhnya menjalankan ibadah puasa sebulan penuh.

Saat kecil saya benci hari Idul Fitri karena membuat saya tidak bisa tidur semalam menjelang perayaan… Begitu banyak takbir dikombinasikan dengan kembang api dan petasan, benar-benar membuat tidurmu dihiasi dengan mimpi buruk.

Namun seiring dengan pertambahan umur, saya belajar suatu kalimat yang bernama “toleransi”. Ketika menerima perbedaan merupakan kata kuncinya.

Saya seringkali merasa kesal di bulan puasa kami, non-muslim, dituntut untuk bertoleransi kepada umat muslim yang menjalankan puasa sementara umat muslim tidak memiliki toleransi kepada kami yang tidak puasa… Saya selalu bertanya, apakah toleransi selalu berlaku satu arah, dari minoritas kepada mayoritas?

Namun pada akhirnya saya diingatkan, bahwa kita tidak bisa mengendalikan orang lain… Kita hanya bisa mengendalikan diri kita sendiri, … dan memiliki toleransi kepada orang lain yang berbeda merupakan sesuatu yang dapat dikendalikan.

Satu hal yang paling menarik dari Idul Fitri bagi saya saat kecil adalah ketika saya berkeliling membagikan kue kepada tetangga-tetangga yang muslim, di mana kemudian mereka membalasnya dengan ketupat lebaran…

Tapi itu dulu, ketika toleransi dan kehidupan bertetangga masih merupakan sesuatu yang indah. Saat ini, tradisi membagikan kue kepada tetangga tidak lagi kami lakukan, demikian juga dengan tradisi memberi ketupat…

Saya ingat-ingat, mungkin sejak isu keagamaan muncul dengan hebat,… Orang mulai takut mencampuri urusan agama orang lain, bahkan memberi selamat saja akhirnya menjadi pertimbangan.

Namun setelah saya dewasa, hal menarik dari Idul Fitri adalah kebiasaan saling memaafkan yang dilakukan saudara-saudara muslim…

Bagi saya, mengkhususkan satu hari untuk saling memaafkan adalah sesuatu yang unik…memperkuat tali persaudaraan (semoga saja).

Namun sebagai orang dewasa, terkadang beberapa hal dalam hidup tidak dapat dimaafkan begitu saja. Sakit hati yang ditimbulkan dan kepahitan yang begitu mendalam menjadi alasan seseorang tidak bisa memaafkan.

Sebelum tidur malam ini (dengan ditemani suara kembang api dan takbir), saya membayangkan apa yang sedang dirasakan Pak Prabowo… Di satu pihak saya merasa bahwa Pak Prabowo sudah berlaku tidak adil terhadap dirinya sendiri… Di pihain saya merasa bahwa kepahitan yang dirasakan Pak Prabowo kepada Pak Jokowi sama sekali tidak beralasan… Memenangkan pilpres bukanlah sebuah kesalahan.

Kemudian saya berpikir mengenai memaafkan diri sendiri… Seringkali lebih mudah bagi kita untuk memaafkan orang lain daripada diri sendiri. Terlintas di benak saya bahwa sesungguhnya Pak Prabowo sedang merasa marah dan kesal kepada dirinya sendiri…kepada masa lalunya, kepada keputusan-keputusannya menjelang pilpres,… Ya, marah pada dirinya sendiri.

Ketika Anda saling memaafkan satu dengan yang lain, pernahkah Anda terpikir untuk memaafkan diri Anda sendiri? Ya, ini adalah hal paling sulit untuk dilakukan…namun tidak ada salahnya dicoba…

Mengenai memaafkan orang lain, Tuhan Yesus yang saya percayai pernah memberikan perumpamaan mengenai pengampunan… Alasan mengampuni bukanlah supaya kita diampuni… Tapi karena kita sudah terlebih dahulu diampuni…dan pengampunan yang diberikan kepada kita, jauh lebih besar dari pengampunan yang harus kita berikan…

Ketika seorang murid-Nya bertanya, sampai berapa kali kita dapat memberi maaf, apakah tujuh? Sang Guru menjawab “tujuh puluh kali tujuh kali”… Pernahkah Anda terpikir untuk memberi maaf pada orang yang sama sebanyak 490 kali? Atau kita sudah marah besar ketika orang yang sama bersalah pada kita sampai 7 kali saja?

Selamat Idul Fitri, sahabat-sahabat muslim.. Jika saya ada salah, baik dalam tulisan maupun perkataan… Saya mohon dimaafkan.. Semoga damai dan sukacita menyertai Anda di hari kemenangan Anda ini. Tuhan memberkati!

Advertisements