Hal yang unik dari tempat makan Sunda (atau mungkin juga tempat lain di Indonesia), adalah tempat duduk dengan meja besar ala sekolah Hogwarts, dimana kita bisa makan berhadapan dengan orang yang tidak kita kenal.

Kemarin siang, saya makan di tempat seperti itu. Di hadapan saya ada dua orang anak muda yang baru lulus SMA (saya tahu dari percakapan mereka) yang terlibat pembicaraan yang cukup seru.

Sekalipun pembicaraan mengenai prestasi-prestasi mereka menggombal pada wanita-wanita di sekolah cukup menarik, namun bukan itu yang ingin saya soroti di sini.  

Hal yang menurut saya cukup menarik dan membuat saya tersenyum simpul sendiri, sementara teman saya cepat-cepat menghabiskan makanannya dan pergi karena tidak tahan, adalah cara mereka bicara.
Mereka menyebut diri mereka sendiri “aing” namun menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, dan menempelkan kata “anjing” sebelum atau setelah kata “maneh” (kamu). Jadi, kurang lebih percakapan mereka seperti ini, “aing kemaren datang ke rumah si dewi. Anjing maneh ga tau dia seneng pisan”.

Saya benar-benar menganggap bahwa ini sesuatu yang lucu dan unik… menyebutkan kata “anjing” sebagai pemanis kalimat.

Sorenya, saya mendapat informasi dari murid saya bahwa di kalangan remaja Sunda saat ini memang sebutan “aing” yang disertai kalimat berbahasa Indonesia memang sesuatu yang sedang trend.

Bagi Anda yang bukan berasal dari suku Sunda, saya akan menjelaskan sesuatu. Dalam bahasa Sunda, dikenal berbagai macam sebutan untuk orang pertama. Dimulai dari “abdi”, merupakan sebutan yang paling halus (yang digunakan untuk berbicara dengan orang yang dihormati), kemudian “urang” yang digunakan untuk berbicara dengan orang yang setara atau lebih rendah, dan terakhir “aing” yang biasanya digunakan untuk bicara dengan orang yang dinilai memiliki kasta sangat rendah.

7Namun, sesuatu yang saya pelajari dalam pelajaran Bahasa Indonesia saat saya SMA adalah, sebutan untuk orang pertama (diri sendiri) merupakan cerminan dari bagaimana kita menilai diri kita sendiri, disamping juga kita menghargai orang yang kita ajak bicara.

Menurut guru saya, orangtua yang menyebut dirinya sendiri dengan panggilan yang benar di hadapan anaknya (Papa, Mama, Ibu atau Bapak), menempatkan dirinya sebagai pemilik otoritas atas anak-anaknya.

Bayangkan betapa ‘harkat manusia’ anak muda kita sekarang sudah sangat rendah, karena menyebut dirinya dengan sebutan paling kasar.
Lepas dari itu, yang tidak saya mengerti adalah, mengapa dibedakan cara kita bicara dengan orang yang lebih tua, sepantar atau yang lebih muda… Bukankah sebagai bangsa yang beradab seharusnya kita menghormati semua orang? Apakah orang yang lebih tua akan merasa dirinya “hina” atau “rendah” jika menyebut diri “abdi” saat bicara dengan orang yang lebih muda dari dirinya, atau yang kedudukannya lebih rendah.

Begitu juga dengan bagaimana kita menyebut orang lain… Panggilan sangat halus untuk orang kedua adalah sapaan (Bapak, Ema, Ibu, Umi, dll), panggilan untuk orang yang setara atau lebih muda adalah “anjeun” atau “maneh” (dalam bahasa Sunda), dan panggilan paling kasar untuk orang yang dianggap jauh lebih rendah adalah “sia”.

Saya tidak habis pikir mengapa membedakan memanggil orang yang kita hormati atau tidak… Bolehlah kalau sampai penggunaan untuk kesetaraan supaya lebih akrab… Tp menggunakan bahasa sangat kasar untuk menunjukkan bahwa kedudukan kita lebih tinggi daripada orang lain adalah hal yang aneh…

Ketika saya memikirkan hal ini, saya melihat iklan kampanye politik dimana Capres no urut 1 mengatakan dengan nada mengejek bahwa kesantunan bukanlah masalah penting dalam menjadi Presiden…

Ah, jika orang seperti ini jadi Presiden, akan jadi seperti apa akhlak bangsa ini?

Advertisements