Antara Melayani dan Menjual Jasa


(Untuk kalangan sendiri)

Terbangun di tengah malam karena tiba-tiba terpikir sesuatu bukanlah hal yang aneh untuk saya… Tapi topik yang saya pikirkan kali ini agak aneh, namun menarik.

Sebuah topik perdebatan yang cukup menarik di antara beberapa gereja adalah mengenai “persembahan kasih”. Sebagian gereja setuju (dan melakukannya) jika para pelayan yang melayani mendapat “persembahan kasih” atas apa yang sudah mereka lakukan, baik di hari Minggu maupun hari lainnya, sementara gereja lain tidak setuju jika para pelayan (yang masih jemaat gereja ybs) terkesan “dibayar” untuk sebuah pelayanan.  

Uang memang sesuatu yang sensitif, itu sebabnya Tuhan Yesus membandingkan uang dengan Tuhan sendiri. Ia mengatakan bahwa seorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan, kepada Tuhan dan mamon (uang).

Ketika Tuhan memanggil Suku Lewi untuk pekerjaan di rumah Tuhan, Tuhan memeliharanya dengan sepersepuluh dari penghasilan para jemaat. Tujuannya bukan supaya suku Lewi menjadi kaya raya, tentu saja. Tujuannya adalah supaya suku Lewi dapat FOKUS melayani di rumah Tuhan.

Seiring dengan perkembangan jaman, beberapa gereja merasa bahwa diperlukan cukup banyak “Suku Lewi” untuk menjalankan urusan administrasi dan beberapa bidang/departemen di gereja. Urusan hidup para Lewi itu merupakan tanggungjawab gereja lokal. Gereja lokal akan mengelola uang yang masuk (dari jemaat) untuk didistribusikan dan menghidupi para ‘Lewi’.

Nah, permasalahannya sekarang adalah, sejauh apa para Lewi itu melayani, dan bagaimana dengan jemaat lain (yang notabene tidak bekerja di gereja) ketika mereka mengambil bagian dalam pelayanan.
Saat saya masih kuliah dan melayani (dengan semangat) dulu, saya merasa bahwa pergi ke gereja di hari-hari sibuk adalah suatu ‘kehormatan’. Saya ke gereja sepulang kampus dan bertahan di sana membantu pekerjaan ‘Lewi’ sampai sore (tentu saja tanpa bayaran, dan saya pun tidak menuntut bayaran sama sekali).

Suatu saat menjelang acara besar, saya ke gereja dan berencana menyelesaikan pekerjaan untuk acara besar tersebut sampai agak sore. Saya dibantu beberapa anak SMP dan beberapa teman. Ketika jam pulang kantor, ‘Lewi’ yang bertugas di departemen tempat saya melayani memutuskan untuk pulang ke rumah, sementara kami masih bekerja.

Anak SMP yang saat itu membantu saya dengan polos berkata “kok pulang sih? Oh iya, kalau Kak (nama) sih di sini kerja ya, kalau kita kan pelayanan”. Kami yang sudah lebih dewasa saling berpandangan dan tertawa.

Entah bagaimana, kalimat polos anak SMP ini bermakna begitu dalam untuk saya hingga saat ini. Menimbulkan sebuah topik menarik untuk didiskusikan, “mana yang seharusnya lebih excellent bekerja dalam sebuah kegiatan gereja, mereka yang ‘makan dari uang gereja/jemaat’ atau mereka yang melayani sebagai volunteer?”

Anak-anak muda seumur saya saat itu yang menjadi volunteer tentu saja dapat menjadi pengecualian. Karena mereka dalam usia ketika ‘aktualisasi diri’ menjadi begitu penting.   Namun seiring dengan perkembangan usia, kita menjadi lebih hitung-hitungan, dan pemikiran ‘dia kan dibayar, aku engga… Harusnya dia kerja lebih banyak’ menjadi suatu pemikiran yang biasa di kalangan orang dewasa.

Mungkin hal itu juga yang menyebabkan beberapa gereja akhirnya memberlakukan “persembahan kasih” untuk para jemaat yang melayani (di luar para ‘Lewi’).   Beberapa gereja dengan segera mengamplopi para pelayan, menghitung pemasukan, pengeluaran dan profit saat itu juga, sementara gereja lain memiliki sistem keuangan yang lebih baik, mentransfer persembahan kasih di akhir bulan.

Jumlah persembahan kasih itu bervariasi tergantung tingkat ‘kesejahteraan’ gereja. Gereja besar dapat memberi hingga tujuh digit untuk satu orang selama sebulan, sementara gereja lain hanya dapat memberi “pengganti transport”.

Nah, pertanyaan klasik itu kembali muncul, “kapan seharusnya seorang pelayan melayani dengan lebih excellent, saat menerima persembahan kasih, atau ketika melayani secara cuma-cuma”   Well, dalam usia saya saat ini daripada memilih salah satu saya lebih suka menganalisanya berdasarkan apa yang terjadi di lapangan:
-Seorang pelayan yang menerima persembahan kasih biasanya tidak mau kerja “lembur” karena tidak ada “PK overtime”

-Seorang pelayan yang menerima persembahan kasih biasanya mulai mengukur segala sesuatu dari besarnya persembahan kasih yang diberikan. Jujur saja, saya pun mengalaminya. Ketika pertama saya diajak senior saya melayani di luar gereja, saya sama sekali tidak terpikir untuk menerima persembahan kasih. Namun ketika saya melayani sendiri dan menerima persembahan kasih, secara tidak langsung saya mulai memasang tarif pada diri saya sendiri dan membanding-bandingkan antara satu gereja dan gereja lain.

-Seorang pelayan yang menerima persembahan kasih biasanya akan mengukur pelayanannya sendiri berdasarkan rupiah yang diterima.

-Seorang pelayan yang menerima persembahan kasih akan memiliki mental “pekerja”, selama saya dibayar saya akan bekerja, selama tidak dibayar, maaf saja. Mereka berpikir bahwa melayani adalah seperti menjual jasa.

Bagaimana dengan pelayan yang tidak menerima persembahan kasih?

-Seorang pelayan yang tidak menerima persembahan kasih akan berpikir “udah bagus gua kerjain juga… Dibayar juga engga”

-Seorang pelayan yang tidak menerima persembahan kasih akan berpikir bahwa gereja mengeksploitasi tenaganya.

-Seorang pelayan yang tidak menerima persembahan kasih akan menyusun skala prioritas dan menempatkan pelayanan di prioritas paling bawah

-Seorang pelayan yang tidak menerima persembahan kasih akan membandingkan dirinya dengan pelayan di tempat lain yang menerima persembahan kasih, dan akhirnya berpikir untuk pindah gereja.

Anda bingung dengan analisa saya?
Tunggu dulu! Jangan berpikir saya melihat segala sesuatu dari kacamata negatif. Saya akan menjelaskan.

Analisa saya di atas itu terjadi ketika kita menempatkan Mamon di atas Tuhan. Sehingga kita menganggap bahwa pelayanan lebih penting dari Tuhan yang dilayani.   Pernahkah Anda melihat pembantu yang marah karena lantai yang baru dipelnya dikotori oleh tuannya sendiri? Jika Anda pernah melihatnya atau dapat membayangkannya,… itulah contoh dari hamba yang menganggap bahwa pelayanan lebih penting dari Dia yang dilayani.

Analisa saya di atas itu terjadi ketika kita memiliki motivasi yang salah dalam melayani. Ketika kita melayani dengan berpusat pada diri sendiri, sebenarnya kita sedang tidak melayani Tuhan, tapi kita hanya sedang berorganisasi atau sebatas aktualisasi diri (baca: mejeng, numpang tenar, dll) saja.

Analisa saya di atas itu terjadi ketika kita merasa bahwa kita melayani karena kita “layak melayani” dan bukan karena Anugerah dan kesempatan yang diberikan Tuhan.

Jadi kembali lagi ke masalah di atas, apakah melayani seharusnya “dibayar”?? Hmm, apakah Anda merasa bahwa apa yang Anda lakukan ketika melayani sudah cukup excellent dan pantas menerima bayaran? Ini pemikiran sederhana yang sulit, bukan?

Advertisements