Minggu-minggu ini adalah minggu-minggu yang melelahkan sekaligus menyenangkan bagi saya. Setelah dua tahun akhirnya kami berhasil menyelesaikan paket “the Witnesses”.

Begitu banyak halangan hingga akhirnya paket yang berkisah tentang kasih karunia Tuhan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib ini selesai diproduksi.

Saya selalu mengatakan bahwa kita bisa melihat segala sesuatu dari dua sudut pandang yang berbeda. Di tengah-tengah pergumulan kami menyelesaikan paket ini, kami bisa saja mengatakan bahwa “sepertinya memproduksi paket the Witnesses ini bukanlah kehendak Tuhan, mengingat begitu banyak kesulitan yang dihadapi. Kalaupun jadi, itu karena kami nekad”

Kami juga bisa mengatakan “mengabarkan kasih karunia ini mendapat perlawanan dari si jahat. Toh akhirnya Tuhan membantu kami menyelesaikannya”

Pemikiran itu membawa saya pada perenungan mengenai “nama siapa yang dimuliakan?” Dan kami mendedikasikan album ini untuk Kristus yang telah memberikan nyawa-Nya bagi kami. Karena bukankan “jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan Firman Tuhan; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Tuhan, supaya Tuhan dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.” (I Petrus 4:11)

Baiklah, dalam rangka promo album ini, kami mengunjungi berbagai gereja, dengan doktrin yang beraneka ragam dan pengkotbah yang juga beraneka ragam.

Salah satu kotbah (mengenai Paskah) yang saya ingat di salah satu gereja adalah mengenai kasih karunia.

Saya katakan pada teman saya yang bersama saya saat itu, bahwa secara theologi, jika saya menggunakan akal dan pengetahuan saya (yang terbatas ini), tampaknya tidak ada yang salah dengan kotbah bapak pendeta itu, tapi dalam hati saya merasa “ada yang kurang”

Bapak Pendeta mengatakan bahwa orang Kristen hidup karena kasih karunia. Jangan kuatir akan dosa-dosa kita karena semua sudah ditebus. Bapak pendeta juga mengatakan bahwa kematian Kristus di kayu salib adalah penebusan dosa satu kali untuk selamanya. Dia mengetahui keterbatasan kita, bahwa manusia memiliki kecenderungan berbuat dosa, jadi kematian-Nya juga menebus bahkan dosa yang belum dilakukan.

Saya setuju sekali dengan theologi kasih karunia ini. Manusia diselamatkan bukan karena perbuatan baiknya. Siapa manusia hingga merasa bahwa ia cukup baik untuk Sang Pencipta. Dibutuhkan kasih karunia yang begitu besar untuk dapat diselamatkan.

Bapak pendeta kemudian juga melanjutkan bahwa manusia tidak akan sanggup hidup dengan mengandalkan hukum taurat, karena hukum Taurat itu begitu berat, mata ganti mata, hukum rajam, dan lain-lain…

Kemudian ia memberikan kami beberapa perbedaan antara hukum taurat dan kasih karunia, dan menantang jemaat untuk tidak hidup di bawah hukum Taurat.

Di sini saya no comment, karena saya bukanlah seorang mahasiswa theologia. Mungkin suatu saat saya akan meminta waktu seorang Hamba Tuhan untuk berdiskusi mengenai hal ini.
(Walau saya pun mempertimbangkan perkataan Yesus
“janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi…”
Matius 5:17-18)

Berikutnya yang mengganggu saya adalah ketika Bapak Pendeta berkata bahwa “kekristenan bukanlah masalah norma, tidak ada norma kekristenan, yang ada hanyalah kasih karunia”

Di sini hati saya mulai tergelitik dan ada semacam diskusi ringan antara otak dan hati saya. Di satu sisi saya meyakini bahwa kekristenan adalah masalah kasih karunia. Tapi di sisi lain saya tidak setuju jika kekristenan bukan masalah norma. Di sisi yang lain lagi saya agak ragu, apakah norma kekristenan dan kasih karunia dapat disandingkan dalam sebuah kalimat.

Sampai sini, saya paham jika Anda ingin menghentikan membaca tulisan saya. Mungkin pikiran saya terlalu membingungkan. Saya pun merasa bingung, sama seperti Anda… Itu sebabnya saya berusaha menguraikan pikiran saya melalui tulisan ini he he he

Ayat favorit yang selalu saya ajarkan pada anak-anak saya pelajar Kristen SD Negeri adalah “kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi…. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Sorga” (Matius 5:14, 16)

Bapak Pendeta itu mengatakan bahwa “tidak mungkin manusia mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi,… Namun mungkin jika Tuhan mengasihi manusia dengan segenap hidup-Nya”

Di sini saya speechless. Sepertinya memang tidak ada yang salah dengan kalimat itu, namun saya merasa sesuatu tidak beres di sini.

Kurang lebih perasaan saya sama seperti ketika saya mendengar dari seorang pengusaha mengenai “manusia tidak dalam kapasitas menyebut Tuhan ‘layak dipuji’ karena Tuhan itu memang sudah layak dipuji tanpa kita harus menyebut Tuhan layak dipuji.”

Ada suatu perasaan geli di perut saya, yang menjalar hingga ke dada dan akhirnya membuat otak saya hampir radang (maaf agak berlebihan).

Permasalahannya menurut saya, manusia berbeda dengan anjing budug yang kita ambil dari pinggir jalan, kemudian kita rawat dan pelihara selayaknya anjing rumahan.

Dengan mudah anjing itu akan membalas kebaikan tuannya, namun manusia dikarunia akal budi dan hikmat dengan pilihan dan kehendak bebasnya. Mohon maaf, tapi manusia tidak se’polos’ anjing yang dengan mudah menunjukkan rasa terimakasih dan taat pada tuannya.

Perlu aturan dan norma bagi mereka yang sudah menerima kasih karunia secara cuma-cuma. Menurut saya (sekali lagi… Menurut saya… Jika Anda tidak sepaham dengan saya, saya sangat mengerti), Kekristenan berbicara soal kasih karunia dan norma. Itulah kenapa Tuhan Yesus mengatakan “jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli taurat sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”

Bapak pendeta itu mengatakan bahwa kita tidak mungkin menaati perintah “jangan membunuh” karena Firman Tuhan mengatakan “barangsiapa membenci saudaranya ia sudah membunuh”. Jadi menurutnya, manusia tidak mungkin bisa menaati Taurat dan hanya butuh kasih karunia.

Saya kemudian membuka sumbernya yang berbunyi “tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! Harus dihadapkan ke Makhamah Agama dan siapa yang berkata: “jahil!” Harus diserahkan ke dalam neraka”

Ini bukan soal mungkin atau tidak mungkin manusia melakukannya, ini soal perintah dan norma! Yesus memerintahkan kita untuk secara aktif berusaha untuk tidak membenci sesama kita.

Sungguh benar bahwa Kristus telah memberi kasih karunia yang begitu rupa pada kita, dan tanpa melakukan sesuatu apapun kita tinggal menerimanya. Tapi bukan berarti bahwa Kekristenan tidak mengatur norma.

Saya beri contoh, apakah di gereja saudara ada lift? Di beberapa gereja ada, dan jemaat diperkenankan untuk menggunakannya. Anggaplah tidak ada elevator, pilihannya hanya lift ke lantai 10 atau tangga jalan.

Apa yang akan Anda temukan di depan lift tersebut saat bubaran gereja? Apa yang akan Anda temukan ketika lift itu terbuka, ada seorang bapak tukang angkut berusaha keluar membawa dus yang besar?

Tepat sekali! Anda akan menyaksikan sejumlah besar jemaat tidak peduli pada si Bapak, mendesak maju untuk mendapat tempat dalam lift, bahkan tidak mempedulikan jika si Bapak terjatuh.

HEY!! Di mana kasih karunia berbicara jika kondisinya seperti ini???

Apakah Bapak Pendeta lupa mengenai “hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2:3-4)

Dalam salah satu promo kami, saya pernah mendengar di salah satu gereja sepulang sekolah minggu anak-anak bermain dan banyak mengeluarkan bom “An****” dan “gob***”.

Apakah guru SM nya lupa bahwa anak-anak yang telah mendapat kasih karunia ini perlu diajar mengenai menjaga lidah?

Bagaimana dengan perlakuan para jemaat Tuhan yang terkasih kepada cleaning service dan satpam di gereja?

Apakah para pendeta lupa bahwa kasih karunia semata-mata tidak akan membuat orang lain “mempermuliakan Bapa di Surga”. Dan apakah Bapak Pendeta lupa bahwa Yesus pernah berfirman “dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Tuhan pun berbuat demikian?” (Matius 5:47)

Bagi saya, tanpa mengurangi penghargaan saya terhadap kasih karunia yang Tuhan berikan, merupakan suatu bentuk sikap egoisme jika orang Kristen yang mengagungkan kasih karunia tanpa mau berusaha untuk sempurna seperti Bapa yang di surga. (Matius 5:48)

Jika “sempurna” adalah perintah, bukankah artinya kita harus mengusahakannya? Dan jika kita mengusahakannya, bukankah artinya kita sedang mengusahakan etika / norma kekristenan yang sesuai dengan karakter Kristus?

Permasalahannya sekarang adalah:
1. Apakah orang Kristen otomatis, begitu saja, tiba-tiba tahu bagaimana bersikap segera setelah ia menerima kasih karunia?
2. Siapa kira-kira yang akan didengar dan ditaati jemaat sebagai wakil Tuhan untuk mengajar mereka tentang bagaimana sikap-sikap yang diharapkan dari terang dunia seperti mereka?

Advertisements