Habis manis, sepah (memang harus) dibuang


Anda semua pasti pernah (atau mungkin sering) mendengar istilah “habis manis sepah dibuang” bukan? Hampir semua menggunakan istilah ini sebagai sindiran kepada orang yang setelah “memeras” keuntungan dari orang lain kemudian meninggalkannya begitu saja, atau kepada orang yang terkesan hanya memanfaatkan orang lain untuk keuntungan pribadinya saja.

Beberapa hari yang lalu saya bergurau dengan teman saya mengenai topik ini. Saya katakan bahwa tidak ada yang salah dengan kalimat “habis manis sepah dibuang”, dan saya bingung kenapa kalimat itu digunakan untuk sesuatu yang bernada negatif atau sindiran.

Jika Anda mau berpikir cukup bijak, mari kita pikirkan baik-baik. Apakah Anda pernah makan permen karet? Apa yang Anda lakukan setelah karet di mulut Anda kehabisan manisnya? Tentu saja Anda membuangnya dan tidak terpikir sama sekali mengenai “aduh, kasihan sekali karet ini jika harus dibuang”. Atau pernahkah Anda menghisap tebu? Apa yang Anda lakukan dengan ampasnya? Apakah Anda simpan untuk Anda hisap-hisap lagi lain waktu? Tentunya tidak! Anda pasti langsung membuangnya.

Lalu apa yang salah dengan kalimat “habis manis, sepah dibuang”??

Sebelum kita membahas lebih jauh, saya ingin mengajak Anda melihat salah satu ayat dalam Firman Tuhan kita

Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api. (Yohanes 3:9)

dan ayat ini:

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Lukas 13:6-9)

Apa yang mau saya sampaikan di sini adalah mengenai “MANFAAT”.

Seorang anak muda pernah bertanya pada saya begini, “kenapa yang di gereja yang dipakai untuk pelayanan itu pasti yang punya keahlian atau yang cantik, atau yang berprestasi”. Untungnya saya bukan tipe orang yang menjawab sebelum dipikir. Saya menjawab “ya, memang manusiawi semua orang begitu”, walau dalam hati saya menjawab “ya iyalah… kalau ga ada gunanya sih buat apa. Makanya jadi orang itu harus berguna”.

Ada perbedaan cukup besar antara dimanfaatkan dan bermanfaat, walau secara struktur bahasa Indonesia seharusnya dua kata itu hanya berbeda Subyek dan Obyek saja: ketika kita bermanfaat, maka artinya kita siap dimanfaatkan. Namun kenyataannya makna konotatif “dimanfaatkan” begitu negatif.

Namun yang sedang kita bahas di sini bukanlah perbedaan dua kata tersebut. Dalam perumpamaan mengenai pemilik kebun anggur yang saya kutip di atas, Yesus ingin menyampaikan bahwa HIDUP HARUS MEMILIKI MAKNA. Jika seseorang hidup tanpa hasil / buah / makna, maka ‘ditebang’ adalah satu-satunya pilihan yang harus diambil.

Jika Anda tidak ingin menjadi sepah yang dibuang, pastikan Anda selalu memiliki rasa manis dalam hidup. Jika Anda tidak mau menjadi dahan yang ditebang, pastikan Anda memiliki buah. Jika Anda tidak mau ditebang dan dibuang dalam api, pastikan Anda menjadi pohon yang berbuah lebat.

Saya pernah berpikir bahwa kata ‘negatif’ memang dibuat supaya kita bisa menghargai kata ‘positif’. Selalu ada ‘pahit’ agar kita bisa menghargai ‘manis’. Ada ‘jelek’ supaya kita bisa menghargai bagus, dan ada ‘salah’ supaya kita bisa mengerti ‘benar’. Berbeda dengan permen karet atau batang tebu yang tidak memiliki pilihan, kita memiliki pilihan untuk tetap manis, bagaimana? Saya mungkin bisa memberikan beberapa pemikiran saya:

  1. Kenali dirimu, kekuatan-kekuatanmu dan bakat-bakatmu! Jangan memiliki keinginan untuk hidup dalam hidup orang lain. Jangan sirik dengan bakat mereka. Jangan iri dengan kemampuan mereka. Kenali diri kita dengan baik, apa yang kita sukai dan apa yang kita kuasai.
  2. Berlatihlah! Tidak ada yang bisa menguasai sesuatu dengan cara yang instan. Setelah mengenali diri kita dan kekuatan-kekuatan kita, berlatihlah dengan baik. Semakin kita berlatih, maka kemampuan kita akan bertambah…
  3. Rajin! Masih ingat dengan hamba yang dibuang tuannya karena tidak mau menjalankan talentanya? Dia terlalu malas untuk menjalankan kemampuannya. Akibatnya? Tuannya membuangnya, tidak ada manfaat yang dapat diambil daripadanya.
  4. Kenali tuanmu! Cerdiklah seperti ular, namun tetap tulus seperti merpati. Banyak orang jaman sekarang memang berusaha memanfaatkan (secara tidak sehat) kemampuan orang lain. Jadilah cerdik! Ketika Anda merasa ada yang tidak beres dengan orang yang menggunakan kemampuan Anda dengan cara yang salah, segeralah minta hikmat Tuhan dan ambillah tindakan bijak. Gunakan keahlianmu hanya untuk orang yang tepat! (Ingat, Tuhan selalu menjadi pribadi yang tepat!)
  5. Melekat pada “sumber yang tepat”. Yesus berkata bahwa ketika seseorang memiliki Kristus dalam hatinya, maka daripadanya akan mengalir air hidup yang tidak pernah berhenti. Ketika suatu ranting melekat pada pokoknya, maka ia akan menghasilkan banyak buah. Jika Anda ingin selalu memiliki buah dan rasa manis, pastikan Anda melekat di sumber yang tepat.

 

Jadi, jika suatu saat ada orang berkata “habis manis sepah dibuang”, katakan padanya “sepah memang sudah sepantasnya dibuang. Kalau tidak mau dibuang, berusahalah untuk tidak menjadi sepah”

Saya harap, Anda mengerti maksud saya 🙂

Advertisements