Semua orang normal pasti pernah remaja (dan bahkan sebagian orang merasa kalau usianya tak bertambah lagi sejak remaja). Saya pernah remaja, dan sebagai remaja saya adalah seorang yang cukup menyulitkan orangtua saya. Bukan karena saya suka clubbing, menggunakan obat-obatan, merokok atau pulang malam (terimakasih pada orangtua saya yang sabar mendidik saya untuk tidak menjadi remaja seperti “itu”). Tapi karena saya selalu membantah ketika sesuatu tidak masuk ke dalam logika remaja saya, dan saya suka mengakali mama saya

Mama saya cukup keras dalam hal jam tidur. Hingga kelas 6 SD saya diwajibkan tidur jam 8 malam. Saat SMP jam 9 malam dan saat SMA jam 10 malam. Sebagai seorang anak atau remaja, kita membenci jam tidur, bukankah begitu? Kita begitu antusias terhadap kehidupan, sehingga kita benci ketika malam tiba dan kita harus menghentikan aktivitas kita.

Saya pun benci jam tidur (kecuali saat-saat ujian di mana tiba-tiba mata saya menjadi sangat berat dari sore hari). Saat jam tidur tiba, biasanya saya akan mencuri-curi baca  (ini sebenarnya saya lakukan sejak anak-anak). Jaman saya kecil dan remaja dulu, saya tidak memiliki HP (memang belum masanya) sehingga kalau malam tiba dan mama saya melihat lampu kamar saya sudah 5 watt atau sudah mati, maka artinya saya sudah tertidur. Padahal sebenarnya, saya sedang memaksakan mata saya membaca novel detektif.

Saat mama saya curiga dan tiba-tiba masuk kamar saya, entah dari mana saya memiliki kecepatan, saya akan buru-buru memasukkan buku ke bawah bantal saya dan memejamkan mata saya, pura-pura tertidur. Jujur saja, saat itu saya pikir saya berhasil mengelabui mama saya (walau pernah satu kali mama saya berhasil menemukan novel detektif itu dan menyitanya hingga saya harus membayar denda ke perpustakaan).

Saya benar-benar berpikir kalau saya lebih pintar dan berhasil membuat mama saya percaya kalau saya sudah tertidur. Atau ketika saya menyembunyikan novel detektif itu di balik buku pelajaran saya, saat itu saya benar-benar berpikir kalau mama saya percaya saya belajar dan tidak sedang membaca novel.

Saya baru saja berpikir bahwa kemungkinan sangat besar mama saya sebenarnya mengetahui akal-akalan saya saat remaja. Ya, saya berpikir seperti itu setelah saya melihat anak didik saya yang masih remaja berpura-pura tertidur saat saya melewati tempatnya untuk ke kamar kecil.

Saat ini, saya tinggal dengan anak didik saya yang masih remaja dan merasa kalau saya terkena karma. Bukan karena anak didik saya suka membaca, tapi karena anak didik saya ini berusaha mengakali saya (yang jauh lebih dewasa dan lebih pintar dari dia).

Anak didik saya tidak suka membaca, tapi dia suka sekali melakukan sesuatu dengan gadgetnya, seperti anak remaja yang lain. Entah chatting dengan teman-temannya, ngintip sosial media, atau mengedit foto-fotonya yang aneh-aneh.

Saya tidak sekeras mama saya dalam hal aturan tidur (mungkin kelak kalau saya punya anak sendiri saya akan lebih keras padanya…well, who knows). Saya mengijinkan anak didik saya untuk tidur di atas jam 10 malam. Tapi saya sudah akan cerewet kalau melihat dia belum tidur hingga jam 12 malam.

Ruangan saya bersebelahan dengan ruangan tempat dia tidur, dan saya harus melewati tempat dia tidur untuk pergi ke kamar kecil. Seringkali saya ingin ke kamar kecil sebelum saya tidur (saya sering tidur di atas jam 1, seperti saat ini), dan seringkali saya menemukan anak didik saya sedang berpura-pura tidur dengan handphone layar menyala di tangannya.

Kalau handphonenya layarnya menyala, saya akan segera tahu kalau dia belum tidur dan akan mengomelinya. Namun baru saja, dia mengakali saya dengan cara lebih cerdas. Ketika saya melewati tempatnya, dia tidur tengkurap dengan tangan memegang HP yang dibalik (layarnya menghadap bawah).

Karena mencurigai posisi tidur yang tidak lazim, saya kemudian memanggilnya. Pada panggilan pertama, dia berpura-pura tidak mendengar. Hingga saya memanggilnya yang kedua kalinya, dia baru (berpura-pura) terbangun. Rupanya dia tidak tahu kalau saya pun pernah menjadi remaja yang penuh akal licik hehe…. Saya bisa dengan baik membedakan mata yang baru saja ketiduran dan mata yang baru saja pura-pura tidur.

Saya kemudian berkata “tidak bagus tidur sambil memegang HP”, ketika dia mengangkat HP itu, saya bisa melihat kalau layarnya menyala. Karena sudah malam dan lelah, saya pun malas menegurnya dan langsung melanjutkan pekerjaan saya hingga kemudian saya terpikir “oow, bisa saja dulu ketika saya mengakali mama saya, sebenarnya mama saya tahu dengan baik kalau ia sedang diakali”

Saya pun lantas teringat sebuah ayat dalam buku lagu favorit saya yang berbunyi sebagai berikut:

“Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kau maklumi.” (Mazmur 139:1-3)

Kalimat terakhir dalam bahasa inggris berbunyi “You are familiar with all my ways” (NIV) dan “(you) are acquainted with all my ways.”

Terlepas dari soal akal-akalan, banyak kali saya mendapati Papa dan Mama saya memaklumi saya saat remaja, seperti saya memaklumi anak didik saya dan apa yang dilakukannya.

Kita memiliki Tuhan yang mengenal kita dengan sangat baik. Dia yang Maha mengetahui dan mengerti pikiran kita, yang familiar, kenal baik,… dengan jalan-jalan kita.

Mazmur 139 ini adalah sebuah catatan Daud tentang ke-Maha Tahu-an Tuhan. Intinya adalah Daud hendak mengatakan bahwa apapun yang manusia lakukan, di tempat tersembunyi sekalipun, Tuhan pasti tahu.

Sebagai orang dewasa, seringkali kita mengakali Tuhan seperti saya mengakali mama saya dan anak didik saya mengakali saya. Tapi kabar buruknya (atau kabar baiknya???) adalah, Tuhan mengetahui apapun yang sedang kita perbuat, sekalipun kita melakukannya di tempat tersembunyi.

Saya bersyukur karena Tuhan mengingatkan saya akan hal ini. Bagaimana dengan Anda?

“Selidikilah aku, ya Tuhanku… dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mazmur 139:24)

Advertisements