Gratifikasi dan bendahara korup


Beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah tayangan di salah satu tv swasta yang menghadirkan Jokowi dan slank sebagai bintang tamunya. Ketika saya menonton, mereka tengah membahas mengenai gratifikasi yang ditakuti oleh Jokowi dan hampir sejumlah pejabat yang “bersih”.

Konon, Jokowi mengembalikan dua buah benda yang diberikan kepadanya oleh dua orang tokoh dunia yang cukup terkenal. Sebenarnya yang mengherankan saya adalah jenis dari kedua benda yang diberikan kepada Jokowi ini sepertinya kurang nyambung dengan Jokowi, baik sebagai gubernur maupun pengusaha mebel. Kedua benda tersebut adalah gitar yang katanya diberikan oleh seorang personil Metalica dan kacamata hitam yang diberikan oleh seorang pembalap sepeda.

Dengan alasan kedua benda tersebut tidak diberikan langsung oleh si pemberi, melainkan melalui orang lain, Jokowi dengan segera memberikan barang tersebut kepada KPK (yang entah melakukan apa kepada dua barang tersebut) karena khawatir benda tersebut merupakan salah satu bentuk gratifikasi.

Bagi Anda yang belum terlalu paham akan makna gratifikasi, saya akan menjelasnnya dengan sebuah kisah mengenai seorang bendahara. Dia diberi kuasa oleh tuannya akan sejumlah surat tagihan. Dia merupakan tangan kanan tuannya dalam menagih mereka yang punya hutang pada tuannya. Tuannya ini mungkin seorang pengusaha yang menjual barang-barang dan berbaik hati mengijinkan para pembeli membayarnya secara kredit.

Bendahara ini rupanya tergiur untuk “memakai dulu” dana yang sudah disetorkan oleh pembeli kepada tuannya. Begitu banyak tagihan kartu kredit, tapi gaji yang diterimanya tidak cukup untuk membayar bahkan cicilan minimum sekalipun. Jadi sedikit demi sedikit uang tuannya dipakainya dulu untuk pembayaran kartu kredit dan beberapa kebutuhan hidupnya.

Waktu demi waktu berlalu, bulan demi bulan berlalu.  Tuannya mulai merasakan adanya ketidakberesan dalam laporan keuangan yang diberikan oleh bendaharanya. Dia mulai mengadakan pemeriksaan dan akhirnya memutuskan untuk memanggil bendaharanya. 

Mencium adanya ancaman pemecatan, bendahara korup ini mulai menyusun rencana.  Didatanginya mereka yang berhutang kepada tuannya, selagi ia memiliki otoritas akan surat hutang tuannya. “Berapa hutangmu pada tuanku?” Tanyanya pada seorang yang berhutang pada tuannya.

“Lima puluh juta” jawab orang itu.

“Ini, aku kurangi hutangmu. Hutangmu 25 juta saja.” Katanya sambil memberikan revisi surat hutang pada orang itu.

Begitulah dia mendiskon hutang orang-orang itu pada tuannya, toh tuannya tidak akan tahu dengan pasti jika ia merevisi semua surat hutang itu. Hingga akhirnya tuannya tidak tahan lagi, dipanggilnya bendaharanya dan dipecatnya.

Setelah dipecat, ia kemudian mendatangi orang yang surat hutangnya direvisi dan berkata, “aku sudah pernah membantumu, dapatkah kamu kini membantuku?”

Apakah Anda sudah menangkap maksud saya? Cerita yang saya berikan tadi kurang lebih mirip dengan perumpamaan yang pernah diberikan oleh Guru Besar kita, Yesus Kristus dalam Lukas 16:1-8. Dalam bagian tersebut Tuhan Yesus bicara mengenai mengikat persahabatan dengan mamon yang tidak jujur. Dalam hal ini saya bicara soal Gratifikasi.

Oya, gratifikasi adalah menerima pemberian secara cuma-cuma (ada usulan bahwa pemberian dianggap gratifikasi jika di atas 250.000), khususnya kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara apabila berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya.

Apakah Anda pernah menerima sesuatu dari orang lain hingga merasa sungkan jika Anda menolak ketika suatu saat orang tersebut meminta bantuan dari kita. Itulah makna dari gratifikasi dan poin dari mengikat persahabatan dengan mamon yang tidak jujur.

Saya pernah menulis tentang ini, dan saya memutuskan untuk kembali menuliskannya berkaitan dengan pemilu yang sebentar lagi diadakan. Banyak orang mengikat persahabatan dengan mamon yang tidak jujur. Memberi dengan suatu agenda tersembunyi dan motivasi terselubung di baliknya.

Di ayat-ayat selanjutnya, Yesus berkata, “setialah dalam perkara kecil…. jika kamu tidak setia dalam hal mamon yang tidak jujur, siapa yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?”

Negara kita memang sedang krisis kepercayaan. Rakyat merasa apatis dengan para pemimpin. Saking apatisnya, rakyat hanya memilih berdasarkan siapa yang sanggup memberi mereka manfaat paling besar (baca:uang suap). Para wakil rakyat itu menggunakan uang negara jatah kampanye untuk mempromosikan dirinya. Saat mereka terpilih, mereka menggunakan uang rakyat untuk memperkaya diri.

Kali ini, saya tidak akan memanjangkan tulisan saya. Apa yang ingin saya tekankan di sini adalah gratifikasi ada di sekitar kita, dan tanpa sadar sering kita lakukan. Ketika kita memberi dengan agenda tersembunyi, ketika kita menolong dengan motivasi lain…

Banyak orang berkata “lalu untuk apa kita berbuat baik atau memberi jika kita tidak mengharapkan balasan”. Hmm… mungkin ayat ini akan membantu kita memahami mengapa kita harus berbuat baik: “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” dan ayat ini akan membantu kita memahamu mengapa kita jangan menjahati orang “perbuatlah kepada orang lain apa yang kamu ingin orang lain perbuat padamu”

Advertisements