Beberapa minggu yang lalu saya membaca sebuah artikel yang sangat mengejutkan saya. Sebuah artikel mengenai perbedaan antara komunis dan atheis.

Artikel tersebut menyebutkan bahwa selama ini pendidikan di Indonesia telah membodohi siswa/i-nya dengan mengatakan bahwa komunis adalah suatu paham yang tidak mengakui adanya Tuhan (atheis).

Atheis berasal dari kata a (yang berarti tidak) dan theos (yang berarti tuhan). Mereka yang menganut paham atheis adalah mereka yang tidak percaya pada Tuhan, atau dengan kata lain tidak mengakui adanya Tuhan.

Komunis adalah sebuah ideologi politik yang pertama kali dicetuskan oleh Karl Marx. Teorinya yang kemudian disebut Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum buruh. Kondisi kaum
Buruh saat itu sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum sementara hasil pekerjaan mereka hanya dinikmati oleh kaum kapitalis.

Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya “kepemilikan pribadi” dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Menurut Marx, kondisi ini tidak dapat dibiarkan karena suatu saat kaum buruh ini akan memberontak dan menuntut keadilan. Ia berpendapat bahwa paham kapitalisme sebaiknya diganti dengan paham komunisme.

itulah mengapa lambang komunisme adalah palu arit, tidak dimaksudkan untuk kekerasan, namun melambangkan kaum buruh (palu) dan petani (arit) sebagai golongan yang harus dibela.

Komunisme berasal dari kata komunal yang artinya “kebersamaan” dan isme yang berarti “paham”. Komunisme menganut paham bahwa segala sesuatu seharusnya dilakukan bersama dan untuk kepentingan bersama.

Di negara-negara komunis, menurut paham komunis, tidak boleh ada orang yang begitu kaya atau begitu miskin. Semua orang dijamin oleh negara, memiliki suatu kesamaan baik secara milik maupun hak dalam suatu negara.

Terlepas dari buruknya citra komunis di Indonesia (maupun negara-negara penganut ideologi ini), makna komunis secara tata bahasa mengingatkan saya pada sebuah gaya hidup yang ditunjukkan oleh sekelompok orang kira-kira dua ribu tahun yang lalu.

Gaya hidup mereka kurang lebih adalah seperti ini:
“Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42) dan “semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama” (kis 2:44) dan “selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masng” (ayat 45)

Kita tidak sedang bicara money laundry di sini, di mana sebagian kecil uang haram dibagi-bagikan kepada orang miskin (sebagian lainnya masuk kantung sendiri). Kita juga tidak sedang berbicara mengenai panti asuhan, di mana mau tidak mau semua jatah makanan merupakan milik bersama.

Kita sedang berbicara tentang gaya hidup tidak egois. Di mana seseorang yang merasa berlebihan dan memiliki hati nurani merasa tergerak untuk membantu mereka yang kekurangan.

Kita sedang berbicara tentang sekumpulan orang yang mengasihi sesamanya manusia melebihi harta bendanya dan sekumpulan orang yang memiliki sukacita dan ketulusan hati luar biasa.

Kita sedang berbicara tentang sekumpulan orang yang disukai semua orang dan memiliki sebuah komunitas yang jumlahnya selalu bertambah.

Ya… Kita sedang berbicara tentang jemaat mula-mula…

Banyak orang berkata bahwa gaya hidup jemaat mula-mula tidak dapat digunakan di jaman sekarang.

Hal yang menarik menurut saya adalah ketika “jemaat hari ini” (baca: organisasi gereja) mementingkan perpuluhan melebihi diakonia… Mementingkan mengirim pengerjanya ke Israel daripada jemaatnya yang berkekurangan ke sekolah.

Menarik sekali menyaksikan bagaimana “jemaat hari ini” (baca: organisasi gereja) begitu ingin memperkaya diri dengan cara memberi untuk gereja (kalau ingin diberkati, berilah persembahan) dan melupakan sebagian anggota jemaatnya yang bahkan sengaja berjalan kaki jauh sekali untuk menghemat agar dapat memberi persembahan.

Menarik sekali menyaksikan bagaimana “jemaat hari ini” (baca: organisasi gereja) begitu concern menimbun “emas di (yang katanya) rumah Tuhan” sementara begitu banyak jemaat yang bahkan tidak mampu membeli beras.

Menarik sekali menyaksikan bagaimana “jemaat hari ini” (baca: organisasi gereja) telah diorganisir sedemikian rupa sehingga lebih menyerupai industri kapitalis daripada sekumpulan orang percaya… Manfaatkan jemaat “rendahan” agar “sang penguasa” dapat semakin “diberkati”!

Menarik sekali menyaksikan bagaimana “jemaat hari ini” (baca: organisasi gereja) berlomba-lomba dengan segala macam cara untuk menarik anggota… Mulai dari memperindah gedung gereja, memainkan tata cahaya, hingga menggunakan gaya musik ala diskotik…

Padahal jika saja mereka membaca lebih teliti… Jumlah mereka akan ditambahkan ketika mereka memperbanyak kasih kepada sesama…

Betapa ironis ketika sesuatu yang sangat manusiawi, seperti kecintaan akan uang, dibungkus dengan sesuatu yang sangat rohani seperti berkat dan hukum tabur tuai…

Saya tidak akan memanjangkan tulisan saya kali ini… Kesimpulan saya, jika jemaat mula-mula diberkati dan ditambah jumlahnya karena menganut “politik gereja komunis”, apakah kita saat ini berusaha menganut “politik gereja kapitalis” agar diberkati dan ditambahkan jumlah jemaat?

Ah, mudah-mudahan Anda memahami maksud saya…

Advertisements