Mahkota dan Kehormatan


Seminggu belakangan kita benar-benar dikejutkan oleh sebuah peristiwa luar biasa. Suatu peristiwa yang lebih pantas berada di novel detektif remaja. Di mana pelakunya adalah sepasang remaja yang sudah hampir dewasa, berusia 18 – 19 tahun. Sementara korbannya pun remaja sepantaran mereka.

Entah apa yang ada di pikiran si pelaku ketika ia merencanakan kematian korban. Apakah dia berpikir “gua abisin dia, abis perkara”. Apa yang di pikiran mereka ketika korban kesakitan terkena kejut listrik? Apakah mereka berpikir “rasain lo”

Menanggapi kejadian di atas, begitu banyak analisa yang dikemukakan oleh tiap orang. Ada yang mengatakan kalau ini adalah korban sinetron, ada juga yang mengatakan ini korban orangtua yang juga kriminal (ayah dari salah satu pelaku juga pernah berurusan dengan hukum perihal kasus aborsi)

Banyak orang, termasuk saya, menaruhkan simpati, bahkan empati pada orangtua dari korban. Namun saya juga sangat bersimpati pada orangtua pelaku. Jika Anda seorang ibu, dapatkah Anda membayangkan ketika suatu saat anak wanita saudara menjadi pelaku pembunuhan sadis pada temannya. Sebuah pembunuhan yang direncanakan sebelumnya. Kemudian setelah membunuh, melemparkan begitu saja mayat korban di jalanan dan membuat alibi.

Dapatkah Anda bayangkan jika wajah anak Anda terpampang di seluruh stasiun TV sebagai pelaku pembunuhan yang dapat tersenyum saat diinterogasi polisi?

Anda mungkin berpikir “apakah saya telah membesarkan seorang pembunuh?”

Sebagian orangtua yang mengalami ini kemungkinan besar akan menyalahkan dirinya sebagai “orangtua yang tidak becus mendidik anak”, entah karena alasan kesibukan atau alasan lainnya.

Sebagian lainnya mungkin akan menyalahkan pasangannya dengan “terlalu memanjakan anak hingga hasilnya seperti ini”.

Sementara sebagian lainnya mungkin hanya akan menangis, meratap dan bertanya-tanya “aku salah apa oh Tuhaaaannn”, dan kemudian berlanjut dengan mencari siapa yang harus disalahkan.

Minggu kemarin kami merayakan ulangtahun nenek yang ke 80. Saya kebagian tugas mengumpulkan dokumentasi baik foto maupun video untuk kemudian didistribusikan kepada yang lain.

Saya merasa beruntung kebagian tugas ini karena saya yang pertama melihat wajah nenek saya yang terlihat begitu bahagia. Namun nenek saya tidak sendiri, anak-anak dan cucunya pun terlihat begitu bahagia. Kami tidak sedang berakting karena kenyataannya kami memang sedang bahagia.

Nenek saya sama seperti nenek-nenek lainnya. Kalau orangtua kita terkadang berpikir panjang jika ingin membanggakan kita di depan orang lain, para nenek tidak akan segan-segan membanggakan cucunya di depan orang-orang yang ditemuinya, “lihat cucu saya… Dia begini begini begitu…”

Setiap keluarga pasti memiliki sesuatu untuk dibanggakan. Saya bangga pada papa saya seperti (mudah-mudahan) papa saya juga bangga pada saya. Mama saya bangga pada saya seperti saya juga bangga pada mama saya.

Saya tidak akan dapat menahan kesedihan saya jika suatu saat orangtua saya berkata “saya malu punya anak seperti kamu”.

Saya teringat sebuah ayat yang dituliskan oleh seorang bijak : “mahkota orangtua adalah anak cucu, dan kehormatan anak-anak adalah nenek moyang mereka” (Amsal 17:6)

Bicara soal mahkota adalah bicara soal kedudukan dan keagungan. Raja mengenakan mahkota untuk menunjukkan kedudukan dan keagungannya. Bicara soal mahkota juga bicara soal kepala dan kebanggaan…

Ngomong-ngomong soal kepala… Sekitar 8 tahun yang lalu, dalam upacara wisuda S2 saya, papa dan mama saya diminta untuk berdiri sebagai pahlawan-pahlawan karena telah membesarkan anak yang berhasil meraih gelar Cum Laude dalam Magister Management.

Ketika mereka berdiri, kepala mereka tegak dan bibir mereka menyunggingkan senyuman bangga… Saya rasa berbeda jauh dengan apa yang dilakukan orangtua kedua remaja yang saya ceritakan di awal tadi. Sehari setelah mereka mengetahui apa yang dilakukan anak mereka, mereka segera meninggalkan rumah… Saya rasa dengan kepala tertunduk… Malu…

Bagian kedua ayat ini mengatakan “dan kehormatan anak-anak adalah nenek moyang mereka”.

Bicara soal kehormatan adalah bicara soal nama baik. Anak-anak menyandang nama orangtuanya, dan nama inilah yang melekat dalam diri mereka seumur hidup.

Pernahkah mendengar orang berkata “like father, like son”? Anak-anak biasanya akan dinilai dengan apa yang dilakukan orangtuanya.

Terlepas dari benar-tidaknya sejarah, suatu saat di era orde baru, anak-anak dari orangtua yang tergabung dalam Gerakan 30 September PKI mengalami kesulitan dalam segala aspek… Apa yang dilakukan orangtua berdampak pada anak-anak mereka…

Seorang anak dapat dinilai baik atau tidak, memiliki nama baik atau buruk, memiliki kehormatan atau tidak, berdasarkan apa yang dilakukan nenek moyang mereka.

Ironisnya, walau dua hal ini terkesan “saling”, namun mereka yang bertanggungjawab agar hal ini terwujud hanya satu pihak: orangtua!

Anda tidak ingin dipermalukan anak-anak Anda? Didik mereka sejak kecil menurut jalan yang patut baginya, agar pada masa tuanya ia tidak menyimpang ke kanan dan kiri… Dan pada akhirnya menjadi mahkota Anda…

Anda ingin menjadi kehormatan bagi anak-anak Anda dan mereka bangga menyandang nama Anda? Saya rasa kita semua tahu apa yang harus dilakukan… Bukan soal reputasi atau titel, tapi karakter dan apa yang Anda lakukan kuncinya…

Advertisements

ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s