Saya baru saja pulang dari sebuah acara besar di keluarga saya, yaitu ulangtahun ke 80 nenek saya ketika saya menemukan sebuah komentar dari seseorang yang tidak saya kenal di sebuah jejaring sosial. Beliau mengomentari artikel saya mengenai “pelayan mimbar yang songong”

Entah apakah orang tersebut hanya membaca judulnya saja, atau karena kurang paham dengan apa yang saya tulis, dia bertanya apakah saya sudah menegur empat mata, mendoakan, dll… Dan menasihati saya agar tidak mengekspose kejelekan Hamba-Nya di blog yang notabene adalah diary saya sendiri, karena menurutnya orang itu memiliki banyak kesalahan.

Saya kemudian menjawab bahwa ada kemungkinan dia tidak membaca dengan baik, atau membaca judulnya saja dari artikel yang saya tulis. Karena mereka yang membaca dengan baik akan paham bahwa saya sedang bicara tentang suatu sistem.

Ada perbedaan besar antara mengikut Kristus dan melayani Dia, khususnya di mimbar. Seorang yang memutuskan untuk melayani Tuhan di depan jemaat seharusnya mengetahui setiap konsekuensi yang ada, bahwa dirinya memiliki standar yang lebih tinggi…

Namun karena (seperti kata teman satu ini) manusia banyak kekurangan, maka dibuatlah suatu sistem… Nah, jika sistem ini mengalami kebocoran… Anda dapat bayangkan apa yang terjadi? Pelayanan pada jemaat tidak akan efektif.

Ketika seseorang melayani Tuhan dalam organisasi gereja, mereka sedang masuk dalam sistem tersebut. Ada aturan yang harus ditaati, standar hidup yang harus ditepati…

Pertanyaan terbesar saya: Jika sistem ini bocor, dan Anda tahu celahnya, apa yang harus Anda lakukan? Diam saja, atau berbuat sesuatu?

Jika Anda seorang pemimpin, Anda dapat melakukan perubahan. Bagaimana jika bukan? Apakah kemudian diam adalah pilihan yang tepat?

Sebagian orang mungkin akan berkata “ya…doakan saja”. Namun untuk sebagian orang lainnya (yang memiliki hati dan tingkat kepedulian yang tinggi), mungkin doa harus diimbangi dengan perbuatan. Sebagian melakukannya dengan kata-kata sebagian dengan tulisan. Berharap sang pemimpin membaca dan turun tangan (Hey! Bahkan Paulus pun menggunakan surat-suratnya, bukan?)

Teman kita ini kemudian menjawab bahwa saya hanya melihat balok di mata orang lain dan tidak melihat selumbar di mata sendiri.

Menurut saya ini tidak pada konteksnya. Entah apakah dia tidak paham dengan balasan saya sebelumnya, atau bagaimana, dia kemudian melanjutkan bahwa dia berharap agar usaha saya menjelek-jelekan sistem dapat efektif.

Menurut saya ada sedikit kontradiktif dari komentar ini, tapi sekaligus menggambarkan setiap kita. Bukankah mudah menghakimi orang lain yang menghakimi orang? (“Apakah balok di matamu sudah kau singkirkan?”)

Banyak orang yang tidak melakukan apa-apa mengkritik orang yang berusaha melakukan sesuatu untuk kemajuan sistem.
Banyak orang yang diam saja dan menonton mencemooh mereka yang sedang berusaha memberikan pemikirannya untuk sebuah kemajuan.

Ah, tapi seperti yang pernah saya katakan. Bukankah kita tidak dapat berusaha disenangkan atau menyenangkan semua orang. Bahkan Tuhan pun tidak dapat disenangkan atau menyenangkan setiap orang…

Beberapa meminta saya terus menulis, beberapa meminta saya berhenti menulis… Beberapa mengamini tulisan saya, beberapa mengatakan tulisan saya terlalu keras…

Well, saya akan menjadi orang yang tidak bertanggung jawab jika saya mengatakan “suka-suka aku dong, ini kan diary aku”.

Tapi semoga saya bisa dikatakan bijak jika mengatakan “saya hanya orang yang berpikir bahwa suatu ketidakberesan harus diperbaiki. Setidaknya saya melakukan sesuatu untuk memperbaikinya…walaupun hanya lewat tulisan saja. Jika apa yang saya tulis tidak benar, anggap saja itu fiktif…jika benar, mari kita share, agar suatu saat ada perubahan”

Bagi Anda yang menganggap bahwa orang lain memiliki balok di matanya,… Apakah Anda sudah mengecek balok di mata Anda??

Note:
Saya menghapus komentar yang saya maksud di atas untuk konsistensi “etika penulisan” hehe…

Advertisements