Memberi, tidak harus eksis


Pemberian adalah suatu hal yang indah. Sebagian dari kita akan tersenyum setiap kali menerima pemberian dari seseorang… Seperti saat ulangtahun saya kemarin, murid saya berhasil menyisihkan uang jajannya untuk membelikan saya tart kecil… Pemberian yang begitu manis, membuat kita tersenyum…

image

Terkadang pemberian juga membuat kita menangis. Korban bencana alam mengetahui hal ini dengan baik… Setiap pemberian adalah anugerah bagi mereka.

Atau tidak jarang pemberian merupakan syarat agar seseorang melakukan sesuatu yang kita inginkan, seperti uang suap atau sogok. Beruntung jika Anda memiliki uang, Anda bisa membuat orang lain merasa tidak enak dengan pemberian-pemberian Anda dan kemudian mau tidak mau melakukan apa yang Anda inginkan…

Pemberian juga bisa dilakukan dengan maksud agar suatu saat, ketika dibutuhkan, orang ini akan membantu kita… ini adalah seperti yang dilakukan oleh bendahara yang tidak jujur dalam perumpamaan Tuhan Yesus.

Terakhir, sebagian pemberian dimaksudkan agar pemberinya dapat eksis. Saya menamakan para pemberi seperti ini sebagai “sponsor”.

Apakah Anda tahu bedanya sponsor dan donatur?

Dalam acara kami di Menara Ministries, biasanya kami akan mencari donatur, mereka yang memberi dengan rela dan atas “dorongan hati nurani”. Mereka memberi tanpa menuntut imbalan (sebagian bahkan memberi tanpa perlu mengecek apakah acara tersebut jadi berjalan atau tidak)

Saat sedang berkeliling mengumpulkan dana untuk acara bulan September yang lalu, saya memahami yang Yesus maksud ketika ia melihat seorang janda yang memberi di Bait Suci… Ketika ia membandingkannya dengan orang kaya…

Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada mereka yang memberi banyak (saya sungguh berterimakasih… Anda telah memberi yang terbaik juga untuk Tuhan, bukan?), saya sangat tersentuh dengan mereka yang berada di gereja pinggiran kota Bandung…

Saat itu sebenarnya kami ke gereja pinggiran itu untuk mengumumkan soal acara itu, karena di gereja tersebut banyak anak-anak yang Sekolah di SD Negeri. Jadi kami ikut mengundang mereka untuk hadir di acara tsb.

Namun karena beberapa juga ada yang cukup mampu, maka setelah mengumumkan acara tsb, saya memberitahu mereka bahwa mereka dapat berpartisipasi: dengan hanya 20 ribu rupiah saja mereka sudah mengongkosi satu orang anak ke tempat kami.

Saya sangat sadar bahwa 20 ribu rupiah bukanlah jumlah yang kecil untuk beberapa orang. Namun kepentingan propaganda pengetukan hati jemaat membuat saya berkata “dengan 20 ribu rupiah SAJA…”

Setelah acara tersebut, saya sangat terharu ketika ada seorang ibu yang patungan dengan temannya memberi untuk kami…
Ah, sesungguhnya kedua ibu ini memberi lebih besar dari mereka yang lain…

Juga ada seorang ibu yang menghampiri saya dan berkata, “saya tidak bisa memberi banyak. Tapi saya punya satu anak di SD Negeri. Saya tahu bahwa acara seperti ini bagus bagi mereka. Ini 20 ribu, anggap saja saya mengongkosi anak saya sendiri”

Pemberian-pemberian seperti ini membuat kita tersenyum sekaligus menangis, bukan?

Itulah para donatur…

Tapi ada juga mereka yang saya namakan sponsor. Dalam beberapa acara, sponsor biasanya,memberi sebagai balasan dicantumkannya logo perusahaan mereka dalam media publikasi penerima sponsor. Jadi mereka memberi dengan sebuah pengembalian setimpal… itung-itung promosi.

Para pemberi sponsor yang saya maksud di sini adalah mereka yang memberi dengan pemikiran “saya memberi asalkan…”. Contoh “saya memberi asalkan nama saya dicantumkan” atau “saya memberi asalkan saya disebutkan di acara tersebut dan saya bisa jadi terkenal” atau “saya memberi asalkan saya bisa eksis”

Ya… Mereka tidak dapat dikategorikan menyuap atau menyogok… Tapi mereka saya kategorikan sebagai “sponsor”. Memberi supaya eksis.

Jangan salah sangka. Saya tidak mencela Anda, para sponsor acara-acara kerohanian. Terkadang memang beberapa organisasi memberlakukan “sponsorship” untuk acaranya. Saya hanya menggunakan istilah ini untuk menamakan mereka yang memberi dengan agenda terselubung yang dinamakan “biar eksis”.

Saya cukup terhibur dengan sebuah gambar yang memperlihatkan aksi para donatur PKS yang membagikan masker saat peristiwa Gunung Kelud dengan tangan kiri memegang bendera partai.
image

Ternyata, para “pemberi biar eksis” seperti ini sudah ada lho sejak jaman Tuhan Yesus. Itu mengapa Tuhan Yesus berkata
“Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang.”

Apa Anda tahu arti dari “mencanangkan”? Mencanangkan adalah dengan sengaja membuat sebuah pengumuman atau simbol atau apapun agar orang mengetahui pemberian mereka.

Lalu apa saran, eh…. Perintah Yesus dalam hal memberi?

“Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu”

Memberilah dengan sopan… Tapi tak perlu mengumumkannya!

Tapi sulit melakukannya bukan? Apalagi ketika kita sudah memberi banyak. Kita ingin orang lain tahu bahwa kita sudah memberi… Mungkin ada yang berkata “saya tak perlu imbalan, saya hanya ingin nama saya dikenal atau orang-orang tahu saya yang memberi”

Pertanyaannya, lalu untuk apa? “Supaya dipuji orang”

Pertanyaan berikutnya “bagaimana jika memberi pada teman, apakah itu bisa dikategorikan sedekah?”

Kalau menurut saya, Anda sendiri yang bisa membedakan, bukan?

Jika Anda, misalkan, memberi souvenir untuk pernikahan seorang teman dengan nama Anda tertera di atasnya, apakah itu suatu pemberian, atau sponsor? Ketika Anda membeli hadiah dengan banderol masih menempel, apa itu pemberian tulus atau berharap sesuatu?

Wah, sesuatu yang begitu sulit dilakukan, ya?! Tapi mari kita belajar melakukannya… Oya, satu hal lagi… Kita semua bisa membedakan antara sedekah dan profesional / bisnis, bukan? Hehehe…

Advertisements

One thought on “Memberi, tidak harus eksis

ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s