Pelayan Mimbar yang “Songong”


Untuk kalangan sendiri.

Tadi siang, saya bertemu pelayan mimbar di salah satu gereja. Bukan gereja tempat saya ibadah, namun saya cukup sering malang melintang di gereja ini. Karena seringnya saya malang melintang di gereja ini, maka saya mengenal cukup banyak orang, baik pelayan maupun bukan.

Setelah saya menyelesaikan urusan saya, saya bertemu dengan seorang pemain musik sedang makan seblak (saya masih berpikir kalau seblak adalah makanan yang aneh) di sebuah meja yang saya lewati sebelum ke tempat parkir mobil.

Karena pemain musik duduk bersama seorang yang saya kenal, maka saya berhenti sebentar untuk sekedar menyapa. Orang yang saya kenal tiba-tiba berdiri untuk masuk ke dalam mengambil barang tertinggal. Meninggalkan saya, teman saya yang lain dan si pemain musik ini.

Teman saya kemudian bertanya berbasa-basi “makan apa nih”, yang dijawab sinis “seblak”. Saya melihat seblak tersebut tidak berwarna seperti biasanya (jujur saja, dia terlihat sedang makan lumpur, sangat menjijikan) menimpali “warnanya beda ya seblaknya” yang kemudian dijawab dengan menaikkan bahu, ujung mata sinis dan sebuah kata yang diucapkan sambil malas “tau tuh”.

Teman saya karena merasa tidak enak dengan saya (teman saya mengenal orang itu dan saya tidak, teman saya jemaat gereja itu dan saya bukan) menimpali “iya, warnanya ga kaya biasa” yang kemudian dijawab dengan nada makin sinis dan sikap malas yang sama “ya ga tau atuh, jangan tanya saya dong”

Kemudian setelah tetap berusaha sopan kami pun meninggalkan dia. Sambil berjalan ke mobil, saya bertanya “itu memang sikapnya songong gitu atau kamu ada masalah sama dia?” (karena saya pikir tidak mungkin saya yang ada masalah dengan orang itu, saya toh tidak kenal dia).

Dijawab teman saya dengan “ga ada masalah. Ah, kebanyakan anak remaja sekarang memang seperti itu” yang saya jawab lagi dengan “remaja? Ayolaah… Dia itu pelayan mimbar”

Kami kemudian membahas bahwa pelayan mimbar adalah orang yang jemaat rasa familiar dengan mereka, terutama jemaat baru. Jemaat merasa melihat mereka dan tidak bisa dipungkiri sebagian jemaat akan merasa perlu menyapa saat berpapasan dengan mereka.

Ketika pelayan mimbar yang disapa ini kemudian bersikap sinis atau songong, siapa yang perlu disalahkan jika jemaat itu kemudian memutuskan untuk meninggalkan gereja itu selamanya?

Silahkan katakan saya sensitif. Hal yang ingin saya sampaikan bukanlah bahwa saya tersinggung dengan sikap anak muda itu. Dengan usia saya yang sudah 32 tahun ini, saya merasa bahwa toleransi saya kepada anak muda semakin besar. Saya hanya merasa ada yang salah dan harus diperbaiki.

Kejadian mengenai pelayan mimbar yang songong ternyata tidak hanya dihadapi oleh saya satu kali ini. Beberapa orang teman dari organisasi gereja yang berbeda mengaku pernah berhadapan dengan jenis pelayan semacam ini. Pelayan yang merasa bahwa dirinya adalah sejenis orang Farisi atau ahli Taurat.

Jika Anda membaca Taurat, Anda akan menemui banyak sekali aturan yang YHWH buat untuk orang Lewi yang melayani di bait suci. Walau aturan dalam taurat tersebut tidak lagi digunakan dalam budaya organisasi gereja sekarang, namun esensinya, menurut saya, harus diambil “ada aturan untuk siapa saja yang Tuhan percayakan melayani Dia di Bait Suci”.

Aturan itu kemudian dibaharui Yesus dengan “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Sorga”

Suatu hal yang merupakan perdebatan saya dan teman saya adalah mengenai “siapa yang bertanggungjawab atas karakter keramahtamahan atau etika dari para pelayan? Gereja sebagai organisasi atau pelayan itu sendiri?”

Di satu sisi saya merasa bahwa setiap orang yang sudah memberanikan dirinya naik ke atas mimbar adalah mereka yang sudah merasa dapat membawa diri sebagai pelayan Tuhan dengan segala aturan mengenai pelayanan yang mereka ketahui dari buah kelahiran baru mereka.

Di sisi lain ada semacam target yang harus dipenuhi oleh organisasi gereja dalam hal skill dari para pelayan mimbar. Sehingga mereka kebanyakan dipilih berdasarkan skill…

Gawatnya, kebanyakan orang yang “karbitan” ini merasa bangga karena terpilih berdasarkan skill. Perlu bukti? Di mana Anda biasa menemukan pemain musik saat sedang kotbah? True.. Di luar ruang ibadah, bukan?

Seorang rekan singer di sebuah gereja pernah bercerita pada saya tentang seorang pemain musik yang merasa bahwa gaya memimpin pujian seorang Worship Leader tertentu “menghambatnya” menunjukkan skill bermain musiknya dengan pemilihan lagu-lagu mudah yang tidak memungkinkan Dia “mengeksplore” kunci-kunci rumit.

Seorang rekan pelayan saya dulu juga mengatakan bahwa untuk pemain musik gereja, kerohanian adalah nomor dua, yang penting adalah skill yang baik, karena itu yang dibutuhkan di panggung, eh… Mimbar!

Hal ini makin diperumit dengan latar belakang keluarga dari para pemain musik yang memiliki skill yang baik. Kebanyakan mereka yang “jago musik” adalah mereka yang berasal dari keturunan Tiong Hoa. Kebanyakan (tidak semua) keluarga Tiong Hoa di Indonesia adalah para pedagang yang memiliki banyak pegawai dan tidak punya waktu untuk mendidik anaknya mengenai etika dan sopan santun.

Anak-anak mereka melihat bagaimana orangtua memperlakukan pegawai dan mereka pikir begitulah cara memperlakukan orang lain.

Pada akhirnya, orang lain yang melihat sikap mereka yang sinis dan songong hanya dapat berkata “yah, maklumi saja, dia orangnya memang begitu”.

Dan inilah mereka…”pemain-pemain musik yang manggung di gereja” dan bukannya PELAYAN Mimbar.

Saya tidak akan memperpanjang tulisan ini… Sebelum nanti beberapa orang akan menghubungi saya untuk marah-marah, hehe… saya hendak bertanya satu hal.. Mana yang lebih penting untuk dimiliki pelayan mimbar (menurut Anda): Skill atau etika / sopan Santun?

Saya paham kebanyakan Anda pasti menjawab “dua-duanya dong”. Baik… Lalu, apa yang perlu dilakukan agar orang-orang ber-skill ini memiliki etika dan sopan santun?

Advertisements

ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s