Dijual: Rumah tetangga saya


Kemarin, saya mendapat cerita yang lucu-lucu-aneh dari seorang sahabat. Ceritanya dia mendapat laporan dari anaknya kalau tetangganya memasang papan bertuliskan rumah dijual dan nomor kontak yang dapat dihubungi untuk penjualan tersebut. Ketika teman saya mengatakan “oh, gapapa kalau tante itu mau jual rumah sih”, anaknya menjawab “tapi yang mau dijual rumah kita”. Sontak saja teman saya ini terkejut bukan main.

Rupanya tetangganya memasang papan seperti ini di rumahnya:

IMG_20140216_175934

Ket: Tanda panah dalam papan itu mengarah ke rumah teman saya.

Teman saya yang merasa tidak berniat menjual rumah langsung mendatangi tetangganya untuk meminta konfirmasi,  apa maksud dari papan iklan yang dipasang di rumahnya tersebut. Dengan tanpa memiliki perasaan bersalah, si empunya rumah menjawab, “oh, itu…. ya saya pasang supaya banyak yang telepon aja”.

Rupanya ibu yang tinggal di sebelah rumah saya adalah salah satu agen penjualan rumah. Ia memiliki beberapa rumah yang harus dia jual. Supaya mengoptimalisasi penjualannya, maka dia memasang papan itu di rumahnya. Tapi tidak mungkin dia memasang tanda dijual pada rumahnya karena nanti orang akan bertanya dan berminat untuk membeli rumahnya padahal dialah si empunya rumah.

Maka, dia (merasa) memiliki akal yang brilian. Dipasangnya papan iklan penjualan rumah, dengan rumah tetangga yang dijadikan sasarannya. Toh jika ada yang menelepon dia tinggal menjawab, “oh, rumah sebelah sih sudah ada yang beli, bagaimana jika rumah yang lain saja? luasnya sama dan lingkungannya pun kurang lebih sama”

Menurut Anda, apakah si tetangga ini cerdik, atau bodoh, atau keduanya? Entahlah, yang jelas yang bersangkutan tidak berpikir panjang ketika memutuskan ingin melakukan sesuatu. Tiba-tiba saja ia merasa mendapatkan sebuah ide yang brilian, dan tanpa memprosesnya di kepalanya, ia segera melaksanakan ide tersebut. Tak terpikirkan olehnya bahwa mungkin saja ada orang lain yang dirugikan, atau terjadi sesuatu yang di luar skenarionya.

Beberapa orang melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya. Kemarin, di blog saya yang lain, http://greissia.com saya mendapat sebuah komentar di halaman ku istimewa. Komentar dari seseorang yang tidak menyebutkan namanya, mengatakan bahwa setahu dia Ku Istimewa diciptakan oleh pendetanya.

Saya sangat sadar bahwa kata “Ku Istimewa” bukanlah milik saya. Tapi datang ke blog saya, halaman yang berisi lagu saya kemudian berkomentar seperti itu membuat saya bertanya-tanya sendiri. Karena yang bersangkutan tidak menyertakan namanya, maka yang saya tangkap hanyalah nama pendeta yang bersangkutan, yaitu Pdt. Galuh Ruku.

Saya memang tahu bahwa ada seorang ibu yang menciptakan lagu yang sangat indah berjudul “Aku Istimewa”, Anda dapat mencarinya di youtube. Tapi nama ibu ini tidak ada di youtube tersebut, yang ada hanya nama pelayanan mereka J4C. Karena saya pikir Pdt. Galuh Ruku adalah seorang pria, maka saya mulai berpikir yang tidak-tidak mengenai hal ini.

Saya sangat sadar bahwa talenta merupakan pemberian Tuhan, dan bahwa menyombong untuk masalah ini bukanlah hak manusia manapun. Tapi kemudian saya berpikir ulang, apakah mengakui sesuatu yang memang kita lakukan adalah sebuah kesombongan? Jika suatu kesalahan harus kita akui, apakah sebuah karya tidak boleh kita akui?

Seperti yang saya tuliskan di tulisan saya sebelumnya tadi pagi, saya agak trauma dengan istilah rendah hati setelah seorang senior menanamkan pemikiran pada saya bahwa seorang yang rendah hati tidak mengakui karya miliknya (entah apakah dia terinspirasi dengan ayat yang menyebutkan bahwa Kristus mengosongkan diri-Nya sendiri, entahlah).

Jadi, daripada ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya, dimulailah pencarian saya terhadap sosok Pdt. Galuh Ruku di internet. Hingga akhirnya saya menemukan bahwa Pdt. Galuh Ruku adalah seorang wanita, dan memang beliau pencipta lagu Aku Istimewa. Kemudian setelah mengetahui hal ini saya pun mengklarifikasikannya melalui wall saya (juga melalui tulisan ini) dan meminta maaf secara pribadi kepada Ibu Galuh yang sudah saya temukan di facebook 😀

Jemaat ibu Galuh Ruku ini rupanya tidak berpikir panjang sebelum dia mempostkan komentarnya. Dia tidak berpikir bahwa komentarnya bisa saja merusak nama baik Ibu Galuh Ruku, ataupun saya. Dia membaca, tiba-tiba berpikir dan tanpa mengolah pikiran itu dia melakukan apa yang dia pikirkan.

Perbedaan manusia dan mamalia lain adalah (sering sekali ya saya menuliskan ini), manusia memiliki sebuah bagian otak yang bernama Neo Korteks. Bagian otak yang berfungsi menaruhkan pikiran atas jiwa (pikiran, perasaan, kehendak). Karena otak neo-korteks ini maka manusia memiliki kendali atas jiwanya, dan bukan sebaliknya. Sayangnya, sebagian orang tidak melatih otak ini dengan baik. Ketika ia merasa marah, ia akan langsung mengamuk… tanpa memikirkan dampak dari amukannya. Ketika ia memikirkan sesuatu, ia langsung bertindak.

Otak Neo-korteks memampukan manusia memikirkan ulang segala hal yang ia rasakan, inginkan maupun pikirkan. Tanpa penggunaan otak ini, manusia hanyalah mahluk mamalia yang memiliki peradaban… tidak lebih.

Baiklah, tulisan saya kali ini pendek saja… Tapi saya harap bermanfaat untuk pembaca (maupun untuk saya). Tuhan memberkati!

Advertisements