Ambiguitas Kerendahan Hati


“Saya orang sombong”, kalimat ini yang saya ucapkan kira-kira seminggu yang lalu pada adik saya ketika bercerita tentang suatu hal yang mengganggu saya.

Kemudian saya lanjutkan dengan, “menurut kamu mana yang lebih baik, ‘mengaku sombong’ atau ‘mengaku rendah hati’?” Apakah Anda menangkap maksud saya?

Baik, saya jelaskan dengan pelan-pelan. Kerendahan hati adalah sesuatu yang sangat membingungkan bagi saya. Jika Anda mengaku rendah hati, maka kerendahan hati Andalah yang akan dipertanyakan. Sementara jika Anda mengaku sombong, maka orang akan mempercayainya… Jadi, mana lebih baik? Mengaku sombong, atau rendah hati?

Tentu Anda akan menjawab, ya sudah… Tidak usah mengaku apa-apa… Dengan bercanda saya kemudian bertanya pada adik saya, “apakah kamu rendah hati?” Yang juga dijawab dengan becanda oleh adik saya, “tentu saja, saya ini orang yang paling rendah hati”.

Apakah sekarang Anda menangkap maksud saya?

Demikian juga soal nasihat agar rendah hati. Menasihati orang untuk rendah hati juga akan berdampak sama dengan ketika Anda mengakui bahwa Anda rendah hati. Cobalah nasihati orang sombong agar rendah hati, maka dia akan segera berkata “memangnya kamu rendah hati?”, dan tujuan Anda membuatnya lebih rendah hati tidak akan tercapai.

Kalau Anda pembaca yang teliti, Anda akan bertanya “hal apa yang mengganggu kamu sampai berkata bahwa kamu sombong di awal tulisan”

Sekitar seminggu sampai dua minggu yang lalu (saya lupa tepatnya), seorang senior tiba-tiba memberi saya BBM Private Message yang menurut saya agak ambigu.

Isinya seperti ini:

Mazmur 37:11 Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah.

Ya, hanya ayat, tanpa intro, tanpa cerita apapun, tanpa salam… hanya sepenggal ayat itu.

Saya bukannya tidak mengamini ayat tersebut. Saya mengamini dan mempercayai sepenuhnya bahwa orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah…

Namun sisi kemanusiaan saya bertanya-tanya “apa maksud dia mengirim ini”. Sebenarnya ayat itu jika diberikan pada seseorang akan memberikan dampak perasaan yang aneh. Anda boleh menilai saya sebagai orang yang rumit, tapi ini penjelasan saya:

Jika Anda memiliki cukup otak (maaf, jika otak terlalu kasar, saya ganti dengan “akal”) untuk berpikir, maka ada dua kemungkinan akal Anda bekerja setelah menerima ayat itu
1. Anda mengakui bahwa Anda sombong dan menerima teguran Tuhan… Tapi orang sombong (seperti saya) tidak akan terima ditegur dengan cara tanpa etika seperti ini. Anda akan bertanya-tanya “apa yang salah? Apa perbuatan terakhir saya yang membuat saya ditegur seperti ini”
2. Anda tidak terima dengan nasihat itu dan kemudian Anda akan bertanya-tanya “apa yang salah? Apa perbuatan terakhir saya yang membuat saya ditegur seperti ini”

Jadi hasilnya sama saja! Kecuali Anda bersikap naif dan menjawab “Amin… Saya sombong, mulai sekarang saya akan rendah hati”. Tapi jika ayat ini memang ditujukan untuk orang sombong, maka ayat ini salah alamat.

Pilihan lain adalah ayat ini ditujukan untuk orang rendah hati, menguatkan hatinya… Tapi karena saya sadar bahwa saya memiliki kekurangan dalam hal kerendahan hati… Maka ayat itu saya anggap sebagai teguran tanpa etika, atau jika saya ingin berpikir positif, sebuah ayat dari orang yang pendek akal… yang tidak pernah memikirkan dampak dari perbuatannya…

Anda mungkin berpikir bahwa saya rumit, pikiran saya berbelit-belit. Saya punya alasan untuk ini. Saya agak “trauma” dengan kata “rendah hati”.

Anda yang mengenal saya dengan baik boleh menilai sendiri, apakah saya orang yang rendah hati, atau orang yang sombong.

Beberapa tahun lalu, ketika saya baru meninggalkan dunia remaja dan menginjak dunia orang dewasa, saya pernah membuat suatu karya, katakanlah sebuah karya seni.

Karya seni itu cukup sukses dan dipuji hampir setiap orang sebagai terobosan yang luar biasa. Kemudian, seorang senior saya mengatakan bahwa saya harus belajar rendah hati (tanpa saya tahu kenapa dia mengucapkan itu, toh saya juga tidak berkoar-koar bahwa karya itu saya yang membuatnya).

Nah, agar saya belajar rendah hati, maka senior saya tersebut mengakui bahwa dialah yang membuat karya yang saya buat..

Saya saat itu tidak ambil pusing, toh saya melakukannya demi hobby saya dan untuk Tuhan… Tapi setelah saya makin dewasa dan kepingan otak saya mulai berfungsi normal, saya jadi berpikir, “apa itu kerendahan hati? Apakah kerendahan hati itu sama dengan menyangkali karya sendiri” dan kemudian jadilah blog yang sekarang berganti nama menjadi http://greissia.com … Jadi Saudara, blog itu sebenarnya adalah buah manis dari pengalaman buruk saya hehe…

Tapi saya tetap bertanya-tanya, “apa itu kerendahan hati”?

Character first mendefinisikannya sebagai “mengakui bahwa Tuhan dan orang lain turut ambil bagian dalam setiap pencapaian kita”

Tapi apa definisi Alkitab dari kerendahan hati?

Saya rasa tulisan “Ambiguitas Kerendahan Hati” saya akhiri sampai di sini. Tulisan ini akan bersambung dengan “Rendah hati dan Lemah Lembut” … Karena kalau saya lanjutkan sekarang, saya kuatir saya harus mengganti judulnya…

(Bersambung)

Baca sambungannya di sini

Advertisements

ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s