tidak tahu bahaya vs tidak takut bahaya


Pernahkah Anda menyetir mobil di jalan sempit yang hanya dapat dilalui dua mobil berdempetan? Jalan itu demikian sempit hingga jika becak melewatinya kita harus menunggunya sampai di ujung jalan?

Pernahkah Anda ketika melewati jalan sempit tersebut melihat anak-anak sedang bermain saling dorong satu dengan yang lain. Kemudian saking takutnya Anda anak itu akan tertabrak, Anda pun membunyikan klakson berharap anak tersebut akan menghentikan kegiatannya dan lebih hati-hati.

Kemudian, bukannya berterimakasih karena diingatkan, anak-anak kampung itu malah kemudian meneriaki Anda sambil memaki… Apakah Anda pernah mengalami ini?

Bagi Anda yang tinggal di kota Bandung seperti saya mungkin pernah mengalami hal menyebalkan seperti ini.

Ketika mengalaminya (lagi) tadi siang, saya lalu berpikir, “anak-anak ini tidak tahu bahaya”, dan alangkah terkejutnya saya (baik, ‘terkejut’ memang berlebihan) ketika menemukan bahwa “tidak tahu bahaya” terdengar menyerupai “tidak takut bahaya”.

Anda pasti belum menangkap maksud saya. Selain fakta bahwa anak-anak memang mahluk yang belum mengetahui dan tidak takut pada bahaya, saya mengaitkan kalimat “tidak takut bahaya” dengan apa yang dikatakan Daud dalam Mazmur 23:4, “…aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku”

Dalam bahasa Inggris, ayat ini diterjemahkan sebagai “I fear no evil; for You are with me”.

Tunggu dulu… Ayat itu tidak berawal di situ, kalimat lengkapnya adalah “Yea, though I walk through the valley of the shadow of death, I will fear no evil; for You are with me” (KJV) dalam terjemahan NET dituliskan sebagai berikut “even when I must walk through the darkest valley, I fear no danger, for you are with me”.

Pernahkah Anda berada dalam situasi “lembah kekelaman”? Saat saya kecil, papa saya sering mengajak saya pergi ke Surabaya dengan mobil. Jika Anda pernah melaluinya, Anda akan tahu bahwa perjalanan Bandung – Surabaya tidak sama dengan Bandung – Jakarta. Sewaktu-waktu Anda akan melewati gunung, mungkin juga lembah…

Suatu waktu, kami melewati gunung dengan jalan berkelok-kelok, tidak ada lampu penerangan di jalan, hujan lebat dan malam hari… Mama dan adik saya tertidur pulas dalam mobil, papa saya bernyanyi dengan tenang (walau saya tahu papa berdoa dalam hatinya), dan saya memiliki ketenangan luar biasa, menganggap bahwa yang kami alami adalah pengalaman luar biasa…

Saya yang belum dewasa dapat melihat itu sebagai bahaya, tapi tidak menganggapnya mengancam jiwa karena saya tahu papa saya pengemudi handal (entah apakah papa saya mempercayai dirinya sebagai pengemudi handal atau tidak, tapi, tiap anak perempuan memang memiliki iman luar biasa pada papanya, bukan?)

Ada perbedaan cukup besar antara “tidak tahu bahaya” dan “tidak takut bahaya”

Anak-anak yang saya ceritakan di awal tulisan saya bukannya tidak takut bahaya, mereka tidak tahu (atau tidak menyadari) adanya kemungkinan bahaya. Mereka tidak tahu kalau main di jalan berbahaya bagi mereka.

Perbedaan pertama, orang yang tidak tahu bahaya bermain-main di area berbahaya tanpa menyadari adanya bahaya.

Bahaya merupakan suatu area yang dihindari setiap orang, apalagi jika bahaya tersebut beresiko besar menyebabkan kematian.

Pemazmur mengatakan “sekalipun aku berada di lembah kekelaman”, penerjemah lain menuliskan “lembah bayang-bayang maut” atau “lembah kematian”. Tidak ada yang suka melewati jalanan yang begitu berbahaya hingga disebut “lembah bayang-bayang maut”. Sayangnya dalam hidup, kita bukannya tidak mungkin melewati lembah bayang-bayang maut.

Lembah bayang-bayang maut adalah suatu kondisi ketika kita tidak lagi mampu mengendalikan apa yang mungkin terjadi di sekitar kita. Ketiga kegelapan melingkupi kita dan bahaya bisa muncul sewaktu-waktu.

Orang yang tidak takut bahaya berpegangan erat pada gembalanya, sementara orang yang tidak tahu bahaya bermain-main di lembah itu. Pertanyaannya, mana yang lebih kelihatan beriman?

Perbedaan kedua, orang yang tidak tahu bahaya menganggap bahwa hidup hanya lelucon…

Ya, mereka bermain-main di sekitar daerah berbahaya, diberitahu… Lalu memaki… Bagi mereka hidup ini hanya lelucon… Sederhana dan sebuah lelucon. Mereka memaki tanpa mengetahui bahayanya makian mereka pada orang yang dimaki (dan pada diri mereka sendiri). Mereka menenggak obat-obatan keras tanpa memperhitungkan bahayanya, mereka melakukan sesuatu seolah-olah kehidupan hanyalah lelucon konyol dari Pencipta.

Perbedaan ketiga, orang yang tidak tahu bahaya tidak memiliki kewaspadaan.

Bagi saya, orang yang tidak tahu bahaya adalah seperti orang bebal. Alkitab mencatatnya sebagai “orang yang tidak berpengalaman” kebalikan dari “orang bijak”.

Penulis kitab Amsal menuliskannya dengan tepat

“orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang bijak memperhatikan langkahnya. Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman” (Amsal 14:15-16)

Kemudian

“kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka” (Amsal 27:12)

Kalau saya simpulkan, orang yang tidak tahu bahaya adalah dia yang tidak memperhatikan langkahnya. Ia melangkah sembarangan, ia bersikap sembarangan, ia berkata sembarangan.

Berikutnya area berbahaya apa yang dimaksud oleh pemazmur?
Jaman dahulu, gembala yang sedang menggembalakan ternaknya harus melewati lembah bersama dengan ternak-ternaknya untuk dapat mencapai padang yang berumput hijau.

Domba bukanlah binatang yang bisa pergi sendiri, mereka adalah binatang yang bodoh. Tentu sangat mungkin bagi mereka untuk tergelincir jika mereka tidak bersama dengan gembala. Mereka adalah inferior yang harus diatur dan dibimbing oleh gembalanya. Mereka akan mengikuti ke mana gembalanya pergi.

Saya simpulkan, lembah yang dimaksud pemazmur adalah lembah ke mana pencipta memang membawa kita, bukan lembah di mana kita bisa bermain-main dan menantang maut sendirian.

Tidak takut bahaya tidak berarti menantang gembala kita dengan pergi sendiri ke lembah yang berbahaya itu. Tidak takut bahaya berarti merasa aman karena melewati lembah itu BERSAMA dengan gembala kita.

Tidak takut bahaya tidak berarti kita berjalan seenaknya sendiri di lembah itu. Tidak takut bahaya berarti tetap berjalan sesuai aturan yang dibuat oleh Sang Gembala.

Tidak takut bahaya tidak berarti menutup mata ketika melewati lembah berbahaya itu dan pasrah mengikuti arus domba lainnya. Tidak takut bahaya berarti tetap waspada dengan pandangan pada gembala, dilindungi oleh gada dan tongkatnya yang adalah firmanNya yang hidup.

Tidak takut bahaya berbeda dengan tidak tahu bahaya. Yang pertama merasa aman karena Tuhan beserta dengannya, yang kedua adalah tidak berpengalaman, bebal dan menganggap bahwa kehidupan hanyalah lelucon saja…

Advertisements

ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s