Tidak lagi mengkritik: tanda kedewasaan atau apatisme?


Ada yang bertanya pada saya, kenapa saya sudah jarang “mengomel” (sebenarnya tepatnya melontarkan kritikan) melalui tulisan saya, khususnya tentang gereja. Apakah saya bertobat?

Jika Anda perhatikan, setelah tulisan saya berjudul, “gereja bintang lima” dan pembahasannya, intensitas kritik saya terhadap gereja mulai menurun, tidak lagi setajam dulu, khususnya setahun belakangan.

Ada dua alasan yang mungkin, saya telah lebih “dewasa”, atau saya telah “apatis”. Namun, jika kita mau menelaah lebih lanjut dua alasan di atas, maka akan muncul pertanyaan, “memangnya apa bedanya ‘menjadi dewasa’ dan ‘apatis’?”

Bingung? Baik, saya jelaskan. Seiring dengan bertambahnya usia, maka kita akan mulai “terbiasa” dengan sesuatu yang tidak benar yang sedang terjadi di sekitar kita. Untuk sebagian kasus, kita akan mulai merasa bahwa sesuatu yang tidak benar itu adalah hal yang wajar.

Saya beri contoh, ketika Anda muda, dengan segala idealisme Anda akan berpikir bahwa pemimpin yang baik seharusnya bukanlah yang bertangan besi dan merasa benar sendiri. Namun seiring dengan berjalannya waktu, ketika Anda terus menerus berada di bawah kepemimpinan si tangan besi, maka ketika Anda akan terbiasa dengan hal itu. Anda akan menganggap bahwa dalam kenyataanya, seorang pemimpin seharusnya memang seperti itu. Ketika Anda menjadi pemimpin, maka Anda pun akan menjadi seperti itu.

Untuk kasus lainnya, seiring dengan bertambahnya waktu, kita akan merasa apatis dan berpikir bahwa hal yang tidak benar itu memang sudah tidak mungkin lagi diubah. Dan walau hati kecil Anda berkata bahwa itu salah, Anda terpaksa mengikuti sistem, dan melontarkan kritik akan menjadi sesuatu yang sia-sia.

Contohnya adalah bangsa ini. Sebagian besar dari kita membenci orang yang merokok sembarangan. Saat muda, kita mulai protes, menegur orang yang merokok di tempat tertutup (khususnya restoran dan ruangan ber AC), membuat tulisan atau status tentang betapa menyebalkan dan tak tahu etikanya orang yang merokok di ruang tertutup atau berAC.

Namun seiring berjalannya waktu Anda kemudian menemukan, bahwa kritik yang Anda lakukan sama sekali tidak berdampak. Anda akan menemukan bahwa usaha Anda seperti usaha menjaring angin, atau memindahkan lautan, dan kemudian… Anda menjadi apatis.

Kembali ke topik yang saya tulis di awal tulisan tadi, mengapa saya mengurangi kritik lewat tulisan, khususnya pada gereja. Well, jawabannya adalah karena saya rasa saya sedang mengalami suatu tahap kedewasaan seperti yang saya bahas di atas: apatis, eh… Dewasa!!

Saya baru memahami kalimat “memang gue pikirin” yang ngetrend di kalangan anak muda beberapa tahun silam. Lagipula, bukankah itu salah satu tanda akhir jaman? Apa yang dapat kita lakukan untuk mengubahnya. Bukankah hamba yang diberi 5 talenta tidak akan mencuri talenta dari hamba yang diberi 10 ?

Selama itu tidak ada urusannya dengan saya, saya rasa saya tidak akan ambil pusing.

Saya tidak tahu apakah ini sikap yang benar. Saya juga tidak tahu apakah saya akan mengubah keputusan saya di hari-hari mendatang (siapa sih yang tidak tergelitik mengomentari ketidakbenaran yang terjadi di depan mata).

Bahkan ketika tulisan ini dibuat pun saya tergelitik untuk mengomentari mereka yang menggunakan alasan “ini bukan buat komersil” untuk meminta bantuan orang lain.

Beberapa orang yang memiliki “beban pelayanan” berpikir bahwa menceritakan beban mereka dapat membuat orang lain trenyuh dan kemudian berkorban tanpa benefit apapun untuk membantu meringankan beban mereka…

Sebagai contoh: saya dan tim diminta untuk melayani di sebuah acara camp, kemudian kami memberikan tarif kami. Orang tersebut kemudian berkata “wah, gereja kami itu kebetulan tidak membudgetkan camp ini di awal tahun sehingga budget untuk acara ini kecil sekali. Ini pun kita ibu-ibu yang cari dana dengan berjualan bla bla bla”

Sejujurnya, saya ingin jawab “itu masalahmu. Perlukah menceritakan itu pada kami? Take it or leave it.” Sayangnya, di gereja jawaban seperti itu tidak diperkenankan. Mereka lebih suka jawaban yang lebih halus seperti “oh maaf, sebenarnya kami ingiiin sekali membantu. Tapi ternyata kami ada acara lain sehingga kami belum bisa”

Pernah juga satu waktu seorang ibu meminta saya membuatkan lagu-lagu anak untuk album yang diproduserinya.

Saya kemudian memintanya untuk menghubungi bagian marketing kami, dan ibu ini menjawab “tolonglah, ini mah ga ambil untung kok albumnya” (yang mana sangat tidak mungkin mengingat tipe ibu ini yang kemudian akan menjualnya di toko2).

Dia kemudian melanjutkan, “album anak kan jarang pisan, ayolah kita membantu memajukan anak-anak indonesia”. Maksudnya ibu ini sudah jelas, dia minta dibuatkan 10 lagu secara gratis untuk album yang akan dia produseri.

Ketika saya meminta dia (sekali lagi) menghubungi marketing kami, dia kemudian menghapus saya dari kontak bbm nya.

Kejadian-kejadian seperti itu rupanya yang membuat kita lelah… Dewasa, namun lelah… Sehingga kita mulai bersikap apatis dan memakluminya dengan mengeneralisasi “yah, orang Kristen memang gitu” atau “yah, orang Indonesia memang gitu”.

Saya sedang dalam masa-masa “dewasa” itu sekarang. Mudah-mudahan saja nanti akan berubah lagi… Untuk sekarang, ketika menemukan sesuatu yang “menyimpang”, “aneh” atau “tidak wajar”, saya hanya bisa menghela nafas dan berkata (dalam kelelahan dan apatis)… “Hmmm… Memangnya saya pikirin.”

Advertisements

ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s