Untuk kalangan sendiri…

Saya baru saja terlibat diskusi menarik dengan adik saya (selalu menarik berdiskusi dengan lawan diskusi yang cerdas dan sepadan, betul tidak sib?) mengenai alasan orang jaman sekarang “pergi ke gereja”.

Pertanyaan ini sering saya tanyakan kepada teman-teman saya (khususnya mereka yang fanatik terhadap ‘pergi ke greja’) belakangan ini “untuk apa kita harus ke gereja?”

Karena sepertinya saya pernah membahas mengenai hal ini, maka saya akan melihatnya dari sudut pandang lain… Silahkan jika ingin menyimak… feel free to close this page πŸ™‚

Manusia jaman sekarang memiliki kesibukan yang luar biasa banyak sehingga tidak memiliki waktu berdoa …ehm.. tidak, salah besar… tidak ada bedanya antara kesibukan manusia jaman dahulu dengan jaman sekarang…

Baik, saya ralat… manusia jaman sekarang memiliki banyak “distraction” (gangguan) yang mengalihkan mereka dari sebuah kegiatan yang bernama D.O.A.

Smartphone yang diisi dengan Alkitab merupakan sebuah alasan bagus untuk kita mengatakan “saya punya alkitab” dan kemudian menutup Alkitab kita selamanya (baik, harus saya akui, saya pun sudah tidak lagi menggunakan Alkitab hard cover).

Daripada mengisi waktu berdoa sebelum tidur, kita merasa bahwa waktu kita akan lebih berharga jika digunakan untuk relax sebentar (sambil nunggu mengantuk) dan bermain games di smartphone kita… atau sekedar chatting dengan teman yang jauh… atau menonton TV / DVD.

Daripada mengisi waktu berdoa di pagi hari, kita merasa bahwa 30 menit lagi sebelum bangun merupakan masa-masa yang sangat berharga untuk digunakan tidur lagi.

Saya menulis ini bukan karena saya tidak melakukannya. Justru saya menulis ini karena saya pun termasuk dari salah satu manusia modern yang terjebak dalam “life full of distraction” ini (dan saya benar-benar sedang berusaha keras untuk memulihkan diri…oh God please help)

Namun, ada bagian dalam diri manusia yang mengakui bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan supra natural, sesuatu untuk disembah, sesuatu kepada-Nya kita harus tunduk (seperti yang pernah saya bahas). Karena itulah, manusia merasa sangat bersalah ketika waktu doanya ini terhilang dari jadwalnya. Saya menamakan ini “perasaan rindu Tuhan”.

Sayangnya, bukannya menyingkirkan segala distraction, manusia jaman sekarang mengobati “perasaan rindu Tuhan”nya dengan menghibur diri “saya tetap ketemu Tuhan kok hari Minggu”.

Lucunya, pemikiran “bertemu Tuhan” ini tidak membuat manusia sungguh-sungguh selama ibadah minggu. Malah mereka menganggap bahwa datang hari Minggu adalah merupakan “bayar utang” atau “kewajiban” karena sepanjang seminggu melewatkan jam-jam doa.

Seolah mengetahui kecenderungan ini, maka gereja-gereja yang “menyesuaikan diri dengan jaman post-modern” mulai menyesuaikan pola ibadah mereka.

Seorang pendeta berkata “jaman post modern ini, manusia ingin dipuaskan panca inderanya. Ibadah harus bisa menyuguhkan ‘tontonan’ untuk mata, ‘musik indah’ untuk telinga, ‘nyaman dan sejuk’ untuk kulit, ‘harum’ untuk hidung dan kesempatan untuk ‘bercakap-cakap’ dengan temannya” (baik, kalimat terakhir saya sesuaikan.. maaf ya, pak pendeta).

Lalu, pendeta besar tersebut merancang ibadah yang khusus untuk manusia jaman post modern ini. Jam ibadah punmulai dipersingkat dengan pertimbangan “manusia jaman sekarang sibuk”.

Lucunya, gereja yang bisa “menjawab” kebutuhan orang jaman post-modern inilah yang dipadati jemaat. Tidak perlu dikunjungi, tidak akan ditanya-tanya (karena jumlah orang banyak, siapa yang akan ingat?)…

Oya, saya bahkan pernah mendengar, salah satu gereja di salah satu kota (anonim banget ya, tapi ini sungguhan kok) membuat cabang gereja dengan konsep “bebek hanyut”. Mereka menyewa sebuah ruangan di mall (katakanlah ‘n’ jam), kemudian mengadakan ‘n’ kali ibadah. Targetnya adalah:
1. Mereka yang sedang menunggu anak main di mall
2. Mereka yang sedang menunggu jam makan siang
3. Mereka yang merasa harus bayar utang ke gereja
4. Mereka yang kebetulan lewat dan ingat “oya, saya belum ibadah”

Akibatnya? Gereja itu tidak memiliki jemaat, hanya visitor yang berganti-ganti setiap kali. Atau mereka yang nyaman dengan konsep “bayar utang”, yang penting cepat selesai.

Mungkin sebagian Anda berkata “apa salahnya memiliki konsep bebek hanyut, toh Tuhan bisa bekerja lewat apa saja, tidak ada sesuatu yang sia-sia”.

Atau, apa salahnya membuat gereja yang menjawab kebutuhan orang jaman post-modern dengan memuaskan indera mereka?

Jemaat (dalam arti sekumpulan orang percaya) bukanlah masalah jumlah, tapi hubungan… Bukan masalah waktu, tapi kualitas dari waktu tersebut… Bukan masalah program penjangkauan (jumlah) jiwa semata, tapi masalah pertumbuhan rohani…

Gereja bukanlah tempat seorang Kristen membayar hutang “ketemu Tuhan” atau menjawab “perasaan rindu Tuhan” karena seharusnya mereka memiliki relasi dengan Tuhan setiap hari. Gereja (dalam arti gedung) adalah tempat seorang Kristen berbagi, saling melayani dan bersekutu satu dengan yang lain.

Gereja (dalam arti gedung) bukanlah tempat seorang Kristen mendapat hiburan seperti bioskop 21, boleh datang ke cabang mana saja karena toh kotbahnya sama saja. Gereja adalah tempat seorang Kristen digembalakan, dikuatkan dan belajar sesuatu…

Baiklah, saya tidak bisa memperpanjang lagi tulisan kali ini…Saya memiliki “perasaan rindu Tuhan” yang sangat besar… tapi itu salah saya karena tidak memanfaatkan waktu saya dan hak yang diberikan kepada saya untuk berelasi dengan-Nya… sama sekali tidak ada hubungannya dengan apakah saya ke gedung gereja atau tidak… semoga Anda mengerti maksud saya πŸ™‚

Baca juga:
– I Petrus 4:7-11 –

Advertisements