Rating oriented!


Beberapa hari yang lalu saya menonton tayangan Hitam Putih di Trans7. Sebuah tayangan yang kadang bagus kadang buruk. Ya, kadang bagus jika topik yang diangkat memang bagus dan buruk karena tak jarang mereka mengupas topik aneh seperti yang berbau dunia hitam (yah, namanya saja hitam putih).

Host dari acara ini adalah seorang (yang mengklaim dirinya) mentalis yang sedang naik daun di Indonesia (dan mungkin juga di luar negeri, entahlah). Entah sejak kapan Deddy Corbuzier yang sebelumnya menanamkan image seram pada dirinya mulai (ingin terlihat) super friendly, duniawi, dan bahkan setengah pelawak.

Salah satu yang identik dengan acara ini adalah air mata. Deddy yang mengklaim dirinya cukup paham pada dunia psikologi terlihat berusaha keras memainkan emosi bintang tamunya dengan memelankan suara, tersenyum kecil dan terlihat peduli. Juga ada cameraman yang bersekongkol denhgannya akan men-zoom bintang tamunya (mungkin jika perlu akan menzoom bagian mata bintang tamu saja yang berkaca-kaca).

Entah apa tujuan acara ini memainkan emosi bintang tamunya. Kemungkinan besar mereka berharap penonton juga akan terbawa emosi dan pada akhirnya akan kecanduan acara ini. Walau mereka juga harus siap dengan resiko sebagian penonton lain yang muak dengan scene tangis-tangisan dalam reality show.

Baik, kembali ke topik…beberapa hari yang lalu, saya menonton tayangan ini di mana bintang tamunya adalah dua orang penyanyi wanita (the Virgin), dan seorang anak tanpa lengan bernama Getun (dalam bahasa Jawa Getun berarti “menyesal” atau “kecewa”)

Getun ini cukup banyak mendapat sorotan dari media cetak. Anda dapat menuliskan namanya di google dan akan mendapatkan beberapa tautan yang membahas tentang kehidupan anak cantik ini.

Saya tidak mengerti ada seorang ibu yang tega memberi nama Getun pada anaknya. Terus menerus mengingatkan anaknya setiap kali namanya dipanggil bahwa kelahirannya mengecewakan.

Dalam acara ini, Sang Ibu ditempatkan di bangku penonton, jelas-jelas bukan merupakan bintang tamu acara ini, namun sering ditanya oleh Deddy Corbuzier.

Salah satu pertanyaan yang membuat saya kaget setengah mati adalah “kenapa ga dibuang aja ke panti asuhan saat tahu kalau anak ibu tidak memiliki lengan”.

Anda boleh mengatakan kalau ini adalah pertanyaan yang ditujukan untuk kepentingan hiburan semata. Anda juga boleh mengatakan bahwa ini merupakan pertanyaan yang menguji iman dan kasih seorang ibu. Namun bagi saya, ini adalah pertanyaan yang tidak berperikemanusiaan.

Jawaban apa memangnya yang diharapkan pembawa acara dengan pertanyaan itu? Apakah mungkin, di hadapan jutaan penonton ibu ini akan menjawab “niatnya sih begitu mas, tapi kasihanlah anaknya” atau “iya mas, harusnya begitu ya” atau “wah, kok gak kepikiran ya mas ya”.

Apakah si mentalis ini berpikir tentang perasaan Getun, “ah, berarti orang-orang berpikir aku ini merepotkan dan pantasnya dibuang saja ke panti asuhan”

(Saya tidak akan membahas lebih jauh tentang kisah Getun di Hitam Putih. Anda dapat mencari saya tayangannya di youtube)

Saya melihat ada perbedaan budaya yang sangat jauh berbeda antara budaya Timur dan budaya Barat. Dalam budaya timur, kita akan melihat seorang yang cacat dengan pandangan kasihan (yang terkadang dibuat-buat, khususnya di media).

Dalam budaya Barat, media yang menayangkan perjuangan seorang yang cacat tidak akan membawakannya dengan nada “kasihan”, tapi support dan kagum.

Selain dalam episode Getun, Deddy juga pernah tersandung masalah “keceplosan bicara” ketika sedang mewawancarai keluarga dari korban tragedi Bintaro.

Saya tidak mengerti kecenderungan dunia hiburan kita akhir-akhir ini. Sepertinya mereka naik ke atas panggung dan beraksi di hadapan kamera hanya dengan berbekal nama beken. Sebagian malah berbekal kebodohan dan kekonyolan (seperti Olga Syahputra).

Sementara belahan dada, kata “bodoh” dan rokok disensor dari film barat, perusakan moral besar-besaran terjadi dalam reality show kita yang entah mengapa lolos sensor (ah, bahkan mereka tayang secara live).

Mereka naik ke atas panggung seperti tanpa script, tanpa briefing dan bermodalkan kata-kata cacian kepada teman mereka sesama artis dan sindiran-sindiran kepada kasus yang sedang disoroti oleh media.

Yah, tapi tak ada yang dapat kita lakukan. Sebagai penonton kita hanyalah pengamat. Toh masih banyak orang yang menyukai tayangan-tayangan tidak bermutu (maaf bagi para fans, saya mengeneralisasi bahwa semua tayangan dengan duo Rafi Ahmad dan Olga Syahputra tidak bermutu).

Tapi sebagai penonton kita bisa menyelamatkan sebagian orang dari pengrusakan moral yang terjadi. Jika Anda orangtua, Anda dapat menyeleksi tayangan yang ditonton anak-anak Anda (bahkan mendampingi). Jika Anda seorang guru, Anda dapat menyelipkan masalah moral dalam materi ajar Anda.

Jika tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mengubah bangsa, setidaknya kita bisa melakukan sedikit untuk mereka yang menjadi tanggungjawab kita.

Advertisements

ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s