Menjelang Natal, isu mengenai ketidaktoleransian umat beragama di Indonesia kembali berkembang. Begitu banyak perdebatan seputar “bolehkah umat muslim mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristen”. Sebagian umat muslim mengatakan bahwa mengucapkan Selamat Natal sama saja dengan mempercayai (walau saya pikir toh dalam Alquran mereka memang ada peristiwa kelahiran nabi Isa dari perawan Maria), sebagian umat muslim lain yang lebih liberal mengatakan bahwa tak apa sekedar mengucapkan selamat saja, dan sebagian lainnya yang mengambil jalan tengah mengatakan bahwa lebih baik mengucapkan “selamat merayakan Natal” sebagai ganti dari “selamat Natal”.

Salah satu anjuran mengenai “tidak mengucapkan selamat Natal” datang dari seorang ustad berketurunan Tiong Hoa Felix Siaw yang dengan konyolnya mengatakan bahwa mengucapkan Selamat Natal dapat mengakibatkan ‘pergeseran aqidah’ (entah apa maksudnya). Menurutnya, jika hari ini mengucapkan Selamat Natal, besok ikut menghias pohon Natal, besoknya lagi ikut makan-makan Natal, maka lama kelamaan akan berpindah keyakinan (sebuah paranoid yang unik).

Isu mengenai ketidaktoleransian ini juga semakin diperkeruh dengan gosip tentang Asmirandah yang berpindah keyakinan (entah benar atau tidaknya berita ini) dan telah menjadi murtadin (lucunya, masyarakat lebih dapat menerima mereka yang Kristen dari awal daripada mereka yang ‘pindah keyakinan’ menjadi Kristen).

Oya, ngomong-ngomong mengenai istilah ‘murtad’, di Indonesia ini ‘murtad’ yang sebenarnya berarti “menjadi kafir”, “berkhianat” dan “membuang iman” telah bergeser arti menjadi “meninggalkan agama Islam”. Tanpa memandang bahwa agama lain berhak untuk mengklaim dirinya ‘benar’ dan menganut agama lain juga berarti memiliki iman, semua orang yang berpindah keyakinan dari agama Islam akan dikatakan sebagai murtadin.

Saya tidak mengatakan bahwa semua orang di Indonesia ini tidak memiliki toleransi beragama. Saya memiliki banyak teman yang memiliki toleransi agama yang luar biasa (apapun agama mereka). Namun hal yang mengganggu saya adalah ketika orang yang memiliki toleransi ini dicap sebagai sesat, pluralis atau bahkan kafir oleh mereka yang tidak memiliki toleransi beragama.

Hal yang paling banyak ditentang oleh umat beragama  (saya rasa umat beragama manapun yang serius dengan agamanya) adalah istilah “semua agama sama”. Semua orang yang memilih agamanya dengan benar, pastilah meyakini bahwa dia telah memeluk agama yang paling benar. Jika tidak, tentu saja dia tidak akan memilih agama tersebut.

Kalau kita bermain persamaan dan perbedaan, maka persamaan setiap agama adalah ‘mereka mengajarkan kebaikan’, dan ‘mereka memiliki tokoh Tuhan’ di dalamnya. Hal yang membedakannya adalah, mereka percaya kepada Tuhan yang berbeda. Setiap agama memiliki tokoh Tuhannya masing-masing yang tentunya berbeda satu dengan yang lainnya. Saya pernah menulis bahwa ‘sama-sama mempercayai satu Tuhan tidak berarti bahwa kita mempercayai Tuhan yang sama’, walau kita tidak boleh melupakan kenyataan bahwa hanya ada satu Tuhan yang benar (nah, jadi bingung kan?)

Saya sendiri bukan orang yang menganut kepercayaan bahwa “semua agama sama”, namun saya sekali lagi ingin mengingatkan, bahwa memiliki toleransi bukan berarti bahwa kita menganggap semua agama sama. Memiliki toleransi artinya kita dapat menerima perbedaan orang lain dan menghormatinya. Memiliki toleransi artinya kita tidak mencampuri urusan kepercayaan orang lain.

Pertanyaan berikutnya, berkaitan dengan isu yang kita bicarakan di awal tulisan, adalah ‘apakah mengucapkan Selamat kepada umat beragama lain merupakan bentuk toleransi, atau pemurtadan?’

Mari kita bahas secara logis dan ilmiah, dengan membahasnya sesuai dengan struktur bahasa yang digunakan.

Kita akan membahasnya dari konteksnya dalam bahasa Inggris dulu ya… Kata “Selamat Natal” dalam bahasa Inggris adalah “Merry Christmas”. Merry berarti happy atau ucapan berbahagia. Sebagian orang Kristen ada yang memperdebatkan arti dari Christmas dan menganjurkan untuk tidak menggunakannya lagi. Disebutkan bahwa Christmas berasal dari kata “Mass of Christ” yang berarti “pengorbanan Kristus”. Mereka mengklaim bahwa ini seharusnya tidak digunakan karena dianggap pelecehan terhadap pengorbanan Kristus dengan kata “Merry” di depannya. Kata mereka “Kenapa seseorang harus berbahagia dengan sebuah pengorbanan”. Sementara orang lain justru memaknainya dengan positif, “kita berbahagia karena Kristus bersedia merendahkan dirinya dan menjadi sama dengan manusia”

Sekarang dalam bahasa Indonesia. Selamat adalah ucapan untuk seseorang yang merayakan sesuatu dan Natal berarti ‘lahir’, sehingga selamat Natal berarti “Selamat, Tuhan telah lahir untukmu”.

Jika kita melihatnya dari sudut pandang ini, maka (seolah-olah) siapapun yang mengucapkan Selamat Natal atau Merry Christmas memiliki pemahaman mendalam mengenai maknanya. Untuk itu, merupakan hak asasi tiap agama untuk memutuskan apakah perlu atau tidak mengucapkan Selamat Natal (Merry Christmas) kepada umat Kristen yang merayakan kelahiran Kristus. Tapi, jika memang mengucapkan Selamat Natal dilarang oleh Tuhan Anda, maka yang harus Anda lakukan adalah taat. Pilihlah perintah Tuhan dibanding sekedar kata ‘toleransi’.

Sekarang kita melihatnya dari sudut pandang lain. Setiap manusia berhak memiliki keyakinan berbeda, dan untuk keyakinan itu, mereka berhak mendapatkan apresiasi dari pihak lain. Saya beri contoh, ketika seseorang berulangtahun, maka kita akan mengucapkan selamat ulang tahun, lalu apakah berarti bahwa Anda yang mengucapkan juga berulangtahun? Bukankah kata yang mengikuti ‘selamat’ adalah dimaksudkan untuk orang yang merayakannya?

Ketika seorang muslim merayakan Idul Fitri, maka umat agama lain akan mengucapkan Selamat Idul Fitri tanpa perlu mengakui bahwa itu adalah hari raya yang suci untuknya. Maksud saya, apakah dengan mengucapkan Selamat Idul Fitri maka umat dari agama lain itu lantas menjadi ‘suci’ dalam konteks seperti apa yang dipercayai umat muslim setelah mereka menjalankan puasa selama sebulan penuh? Apakah umat muslim yang terhormat rela jika umat beragama lain tiba-tiba menjadi ‘suci’ seperti mereka tanpa repot-repot berpuasa? Tentu tidak bukan? Karena ketika Anda diberi ucapan Selamat Idul Fitri, maka sebenarnya yang diucapkan oleh orang itu adalah “Selamat, Anda telah menjadi suci kembali…”

Begitu juga dengan ucapan Selamat Natal, yang berarti “Selamat, kau percaya Tuhan lahir untukmu, selamat untuk itu” tanpa mengharuskan orang yang mengucapkannya untuk mempercayai bahwa Tuhan telah lahir untuknya. Bukankah setiap agama pun mempercayai Tuhan yang berbeda? Jika Anda bukan beragama Kristen, apakah masalah bagi Anda jika Tuhan orang Kristen lahir untuk mereka? Itu masalah mereka bukan?

Namun sekali lagi, jika memang ada Tuhan (entah yang mana) yang melarang umatNya bertoleransi dan memberi ucapan selamat kepada penganut agama lainnya, maka yang harus Anda lakukan adalah taat. Hal ini sekaligus membatalkan teori saya bahwa “setiap agama mengajarkan kebaikan”. Mudah-mudahan Anda memahami maksud saya.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengucapkan Selamat Natal bagi Anda yang beragama Kristen… Selamat, bagi kita Tuhan kita telah merendahkan dirinya dan menjadi sama dengan kita. Tuhan memberkati!

Advertisements