Perasaan


Kemarin, saya dan adik saya membahas sesuatu yang menarik, yaitu tentang miskinnya perasaan orang Indonesia (atau orang di negara Timur pada umumnya). Ketika ditanya mengenai perasaan, umumnya pilihan jawaban yang tersedia di negara timur hanya “Senang” atau “Sedih” atau “Marah”. Hanya itu!!

Jadi kalau misalkan Anda ditanya, apa perasaan Anda dengan kondisi politik Indonesia akhir-akhir ini, maka kebanyakan jawaban yang akan Anda dapatkan adalah “sedih”. Atau ketika Anda ditanya bagaimana perasaan Anda menjelang liburan sebentar lagi, maka jawaban yang akan Anda dapatkan adalah “senang”, dan ini berlaku untuk hampir semua pertanyaan.

Saya lantas teringat dengan anak-anak didik saya dari Dayeuh Kolot (di mana saya tinggal dengan salah satu di antaranya). Saya tahu benar bahwa mereka “miskin perasaan”. Jangan harap mereka mengerti arti “menyayangi milikmu” atau “menginginkan sesuatu”. Bagi mereka “senang”, “sedih” dan “marah” adalah perasaan yang dimiliki manusia, hanya tiga itu! Mereka senang ketika mendapat nilai baik, sedih ketika dimarahi, dan mereka tahu ‘marah’ karena biasanya mereka sering dimarahi oleh guru dan mama mereka.

Karena ‘miskinnya’ perasaan yang mereka miliki, biasanya mereka akan menjalani segala sesuatu seperti kewajiban. Contoh: sekolah dijalani sebagai kewajiban (karena tidak ada perasaan antusias atau penasaran dalam kamus perasaan mereka atau bisa jadi karena sekolah di Indonesia tidak membangkitkan minat dan penasaran anak).

Sepertinya kebudayaan kita (baik, berlebihan kalau menggunakan istilah kebudayaan, tapi saya suka menggunakannya) memang kurang ‘merangsang’ seseorang dalam merasakan sesuatu. Ketika seorang anak merasa bete atau rewel, orangtuanya akan serta merta memarahinya (atau ngomel) tanpa bertanya “baik, apa yang kau rasakan sebenarnya?” dan membantunya untuk memahami perasaannya lebih dalam. Ketika seorang siswa di kelas berbuat ulah dan mengganggu temannya, gurunya akan serta merta menghukumnya tanpa meluangkan waktu untuk siswa ini dan bertanya “baik, ada apa sebenarnya? apa yang sebenarnya kau rasakan?”

Budaya kita tidak membiasakan anak-anak untuk menyelami perasaan manusia yang sebenarnya begitu kaya. Selain senang, sedih dan marah, ada perasaan lain seperti kecewa, terharu, bingung, lega, antusias, bosan, malas, tertipu, sebal, kaget, putus asa, dll.

Hal ini terlihat jelas dari miskinnya ekspresi wajah orang Indonesia ketika sedang bicara. Lihatlah anak-anak Indonesia dan bedakan dengan anak-anak Barat. Anda akan menemukan perbedaan yang luar biasa ketika mereka bicara, khususnya pada ekspresi wajah dan mata.

Ada yang mengatakan bahwa mata adalah jendela hati. Kalau Anda melihat orang Barat bicara, Anda akan melihat kayanya perasaan mereka melalui mata. Bagaimana dengan mata orang Indonesia (atau orang Timur)? Yah, Anda bisa mengamatinya di sekitar Anda.

Orang bilang, perasaan bukan dari otak, tapi dari hati. Tapi sebenarnya tidak ada memori atau perasaan apapun di hati (heart = seharusnya jantung), hanya detak beraturan yang akan semakin cepat ketika kita lelah atau merasakan sesuatu yang menyebabkan adrenalin kita keluar.

Perasaan diatur oleh bagian tengah otak. Saya pernah membahas tentang otak reptil, otak limbik dan otak neo korteks. Otak reptil adalah bagian otak yang dimiliki semua mahluk hidup, yaitu otak yang memampukan seseorang untuk bertahan hidup (termasuk membela diri secara spontan) dan berkembang biak.

Otak limbik, dimiliki oleh mamalia, terletak di bagian tengah otak mengatur emosi. Bahkan gorila pun memiliki emosi marah, senang maupun sedih.

Bagian otak yang membedakan manusia dengan mahluk lain adalah neo korteks, membuat manusia memiliki perasaan terhadap perasaan, dengan kata lain otak neo korteks membuat manusia dapat mengendalikan emosinya.

Tapi ada perbedaan antara tidak memiliki emosi dan mengendalikan emosi. Masalah yang kita bahas di atas tadi adalah ‘tidak memiliki emosi’ atau dengan kata lain, memiliki emosi yang tidak berkembang secara sehat. Kebanyakan anak-anak di Indonesia diredam emosinya sebelum mereka menyadari akan emosi yang mereka memiliki.

Saya sering melihat anak-anak Indonesia yang berteriak-teriak di tempat umum. Mereka mengacau dan memiliki kecenderungan ingin tahu yang merusak. Reaksi orangtua di Indonesia ini hanya dua: pertama, membiarkan saja dan pura-pura tidak tahu, kedua menarik anak ini berkali-kali tanpa menjelaskan apapun. Reaksi anak-anak terhadap dua reaksi itu hanya satu, mereka tetap melakukan apa yang mereka sedang lakukan (berteriak-teriak dan merusak).

Entah pendidikan yang rendah atau kemalasan luar biasa, para orangtua ini tidak berbicara baik-baik dengan anak-anak mereka menjelaskan mengapa mereka tidak boleh melakukan itu atau setidaknya bertanya mengapa mereka melakukan itu (berteriak-teriak dan merusak).

Hal ini membuat saya bingung setengah mati. Ketika seseorang bicara soal membina karakter, maka ia sedang bicara mengenai melatih otak neo korteks untuk mengendalikan emosi dan keinginan buruk. Namun bagaimana jika anak-anak (atau orang dewasa) ini bahkan tidak memiliki pengetahuan akan emosi yang seharusnya dimiliki? Bagaimana mungkin bicara soal pengendalian diri jika mereka tidak tahu apa yang harus dikendalikan. Bagaimana mungkin bicara soal antusias saat bekerja jika mereka tidak memiliki pengetahuan akan perasaan itu?

Well, Anda mungkin menganggap ini tulisan yang ‘tanpa solusi’. Saya memang tidak memiliki solusi untuk permasalahan ‘miskin perasaan’ ini. Tapi jika Anda adalah orangtua, saya memiliki masukan bagi Anda. Ketika anak Anda rewel dan susah diatur, tanyakan kepadanya, “apa yang sebenarnya kau rasakan” dan bantulah ia untuk mengungkapkan perasaannya.

Jika Anda adalah remaja atau orang dewasa yang moody, tanyakan pada diri Anda ketika merasa mood Anda sedang buruk, “apa yang sebenarnya saya rasakan”.

Alkitab kita mengatakan ‘jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan’ (Ams 4:23). Awasi dengan baik dan waspadalah terhadap perasaan Anda, apa yang Anda rasakan dan pikirkan dan inginkan. Karena ketika Anda mengetahui perasaan yang sedang dirasakan, Anda baru dapat belajar bagaimana mengendalikannya…. dari situlah terpancar kehidupan…

Advertisements