Siapa yang bangga?


Begitu banyak berita akhir-akhir ini yang menyebutkan sejumlah prestasi yang dilakukan oleh orang Indonesia. Mereka dikatakan membanggakan tanah air atas apa yang mereka lakukan. Sejumlah nama disebut-sebut sebagai orang-orang yang membanggakan Indonesia.

Tania Gunadi

Mulai dari seorang Jack Brown, anak blasteran Inggris yang memenangkan pertandingan mendrill bola kaki yang mengaku “saya anak Indonesia” (tapi cita-citanya menjadi pemain bola tim luar negeri dan ingin sekali tinggal di Inggris), Joe Taslim yang berperan dalam Fast and Furious 6 hingga Tania Gunadi yang berperan sebagai Emma Lau dalam film Hollywood “Hero Rising”.

Media menyebutkan bahwa orang-orang tersebut (bersama beberapa orang lainnya) telah membanggakan Indonesia dengan hasil karyanya.

Saya ingin menyebutkan bahwa mereka memang berprestasi dan (setidaknya) membanggakan orangtua mereka. Namun yang menjadi pertanyaan besar saya adalah, ‘mengapa Indonesia baru merasa bangga setelah mereka berprestasi?” Maksud saya, ke mana saja pemerintah yang mewakili kata INDONESIA ketika mereka sedang meniti karir? Pantaskah apa yang mereka lakukan dianggap sebagai “prestasi bangsa Indonesia?”, atau pertanyaan yang lebih ekstrim lagi, “apakah mereka memang berniat ‘membanggakan Indonesia’ ketika mengukir prestasi di kancah Internasional bahkan tanpa sepengetahuan Indonesia?”

Indonesia adalah negara yang luar biasa indah, menjadi impian dari bangsa-bangsa asing untuk mendapatkannya. Memiliki gunung yang berisi emas, bawah tanah penuh dengan minyak dan bahan tambang lain, tanah di manapun dapat ditanami dengan mudah, pemandangannya luar biasa, budayanya kaya….LUAR BIASA….dan sungguh saya sangat bangga pada negara ini.

Pertanyaan saya berikutnya adalah “siapa sebenarnya yang mendapat benefit dari kata ‘bangga'”? Baik, pemikiran ini memang agak rumit, tapi akan saya coba jelaskan. Ketika seseorang bangga pada anaknya, mana yang lebih merasa bangga: anaknya, atau orangtua? Apakah seorang anak akan merasa bangga ketika orangtuanya bangga kepada dirinya? Apakah kita akan merasa bangga ketika orangtua kita bangga pada kita? Apakah jika begitu lantas bangga karena orang lain merasa bangga identik dengan kesombongan?

Perasaan bangga (buat saya) adalah perasaan ketika kita merasa bahwa apa yang kita lakukan dalam diri seseorang membuahkan hasil (ralat saya jika salah). Perasaan bangga juga adalah ketika investasi kita dalam diri seseorang membuahkan hasil. Kita tidak dapat merasa bangga pada anak orang lain karena kita tidak berinvestasi pada anak itu. Kita tidak dapat merasa bangga pada murid orang lain karena bukan kita yang mengajarnya.

Ketika ada orang lain yang merasa bangga pada kita, maka kemudian kita pun merasa bangga pada diri kita sendiri, bukankah begitu?

Dalam bahasa Inggris bangga diterjemahkan sebagai proud dan kebanggaan sebagai pride. Uniknya adalah, proud diterjemahkan sebagai kata ‘bangga’ jika itu ditujukan untuk orang lain, dan diterjemahkan sebagai ‘sombong / angkuh’ jika ditunjukkan untuk diri sendiri.

Kembali ke masalah beberapa orang yang (dianggap) membanggakan Indonesia, dan dengan mengacu pada definisi bangga menurut saya tadi (karena kalau lihat di kamus, definisi bangga hanyalah: berbesar hati, yang mana kurang tepat menurut saya, hehe)… maka salahkah saya jika saya kemudian mempertanyakan, “Jika Indonesia merasa bangga dengan anak-anak bangsa ini, investasi apa yang sudah dilakukan Indonesia pada putera bangsa yang berprestasi itu?”

Jika kita mengingat sebuah pertanyaan klasik “jangan tanyakan apa yang sudah dilakukan negaramu padamu, tapi tanyakan apa yang sudah kau lakukan untuk negaramu”, maka kemudian yang akan kita tanyakan adalah, ‘kalau begitu, siapa yang bangga pada siapa?

Jika kita melakukan sesuatu untuk bangsa ini, maka logikanya adalah kita yang akan berbangga ketika bangsa ini maju. Jika kita tidak boleh bertanya apa yang sudah negara lakukan pada rakyatnya, maka masih pantaskah negara ini bangga pada prestasi warganya di kancah Internasional?

Mari kita angkat sedikit kisah Tania Gunadi. Wanita ini mengisi aplikasi green card untuk tinggal di Amerika Serikat? Mengapa? Karena ia merasa bahwa Amerika Serikat lebih menjanjikan dibanding negaranya. Nah, kemudian… di Amerika, dia bekerja di Pizza Hut… jabatannya turun terus dari Pramusaji menjadi  tukang masak, menjadi tukang cuci piring, menjadi pembersih WC. Walau begitu, ia tetap merasa bahwa hidupnya lebih baik daripada jika ia tinggal di Indonesia.

Kemudian, ia mencoba mengikuti audisi untuk iklan dan karirnya meningkat terus hingga menjadi peran utama dalam film karya FOX dan Disney… dengan buah kerja kerasnya sendiri…

Lalu, apakah pantas jika Indonesia bangga terhadap anak muda ini?

Jangankan anak muda yang namanya tidak dikenal oleh Indonesia, mari kita lihat kisah menyedihkan yang pernah dialami oleh Tong Sin Fu… Bagi yang belum pernah mendengar namanya, saya akan bercerita sedikit. Saya selalu berpikir bahwa seseorang seharusnya tidak mencintai rasnya, tapi tanah kelahirannya. Tong Sin Fu lahir di Lampung, Indonesia, seorang pria keturunan China, bukan Warga Negara Indonesia karena orangtuanya pun bukan.

Tong Sin Fu adalah seorang pelatih bulu tangkis yang akan Anda lihat di pinggir lapangan jika Lin Dan, Sang Juara Dunia bertanding. Ya, ia yang mengantarkan Negeri Tiongkok menjadi raksasa bulu tangkis. Sejak tahun 1980-1986 ia melatih di Tiongkok kemudian memutuskan untuk pulang ke Indonesia, tanah kelahirannya dan menjadi pelatih di Indonesia.

Tahukah Anda, sebenarnya dia juga dulu yang mengantar Indonesia menjadi salah satu raksasa bulutangkis ketika Alan Budikusuma dan Susi Susanti memenangkan emas di Olimpiade… Pernahkah Anda mendengar Heryanto Arbi, Ardi B. Wiranata? Saya suka sekali menonton Bulutangkis ketika mereka bermain karena mereka berpeluang memberi kemenangan pada Indonesia. Ya, pemilik nama-nama itu dilatih oleh Tong Sin Fu … atau yang di Indonesia dikenal dengan sebutan Fuad Nurhadi…

Pemain Indonesia terakhir yang ditanganinya adalah Hendrawan, yang meraih gelar Juara Dunia di tangannya.

Apa yang terjadi padanya kemudian? Pecinta Indonesia ini mati-matian ingin menjadi Warga Negara Indonesia, tanah kelahirannya. Namun hasilnya, DITOLAK, dan tahun 1998 dia memutuskan untuk kembali ke negaranya, Tiongkok. Sejak saat itu, Tiongkok kembali menjadi raksasa bulutangkis sementara Indonesia mengalami kemunduran dalam dunia bulu tangkis.

Lalu bagaimana kisah Hendrawan yang juga kesulitan mendapatkan kewarganegaraan?

Jika Indonesia tidak bisa menghargai kecintaan rakyatnya, lalu pantaskah jika Indonesia berbangga ketika ada orang ‘kelahiran Indonesia’ yang berprestasi di negeri orang.

Jika bahkan orang-orang yang berprestasi itu pun tidak mau tinggal di Indonesia setelah mereka berprestasi (bahkan sama sekali tidak terpikir untuk membanggakan Indonesia ketika berprestasi), apakah Indonesia masih perlu berbangga pada mereka?

Dan jika definisi bangga pada diri sendiri adalah suatu keangkuhan, bukankah sikap bangganya Indonesia merupakan suatu bentuk kesombongan?

Saya tidak sedang memojokkan atau mengata-ngatai bangsa ini… Sebaliknya, saya sangat mencintai negara ini… Ini hanya sedikit pemikiran saya (yang rumit), dan hmm….setiap orang di Indonesia masih berhak untuk berpikir dan berpendapat, bukan?

Advertisements