Aku sangat mencintai negara ini…
bukan karena apa yang diperbuat pejabat korup tentu saja,
dan bukan juga karena apa yang diperbuat sekelompok orang anarkis yang bertindak atas nama agama.

Aku sangat mencintai negara ini…
bukan karena moral dan etika yang begitu rendah tentu saja,
dan bukan juga karena kesemrawutan hukum dan keegoisan rakyatnya

Aku sangat mencintai negara ini…
bukan karena penegak hukum yang menerima suap tentu saja,
dan bukan juga karena kacaunya sistem birokrasi dan tatanan pemerintahan

Aku mencintai negara ini
Karena aku lahir di dalamnya
Karena aku besar bersamanya
Karena aku menjadi bagian darinya

Aku mencintai negara ini
Karena apa yang Tuhan berikan padanya
Kekayaan alam yang begitu luar biasa
Pemandangan yang begitu indah

Jika ini ada sejak dahulu
Tak heran bangsa-bangsa jatuh hati
Tak perlu melihat moral untuk mencintai alam
Tak perlu melihat etika untuk mencinta Indonesia

Bangsa-bangsa itu pun datang
Berharap menjadi bagian dari Indonesia
Berharap bisa membangun tanah ini
Berharap bisa memperkenalkan…. peradaban

dan nenek moyang kita menjadi berang
Ketika rakyatnya bekerja untuk perusahaan asing
Ketika rakyatnya belajar A B C untuk dapat bekerja
Ketika disiplin dan kerja keras dijadikan budaya

dan nenek moyang kita menjadi berang
Ketika rakyatnya dikenalkan etika
Ketika rakyatnya dikenalkan…
… tak kerja maka tak makan

dan nenek moyang kita menjadi berang
Ketika kain menggantikan goni
Ketika televisi menggantikan wayang
Ketika kertas menggantikan daun lontar

Perusahaan asing diserang…
Bangsa lain diusir…
Dikatakan penjajah

Ah, apa bedanya dengan saat ini
Ketika bangsa lain menanamkan modal
Ketika negara adi kuasa berinvestasi
Ketika perusahaan asing dipenuhi buruh lokal

Dahulu bangsa kita tak berani korup dari bangsa asing
Kini, pejabat korup uang rakyatnya sendiri

Jangan katakan aku tak mencinta negara ini
…membela bangsa asing yang kalian kenal dengan sebutan penjajah
Jangan katakan aku tidak memiliki nasionalisme
…menyerang bangsa sendiri dengan sebutan koruptor dan tak tahu etika

Aku hanya sedang merenung…
Sebenarnya mana yang terbaik untuk bangsa ini
Agar mengenal peradaban

Aku hanya sedang berpikir…
Apakah sebenarnya bangsa kita ini tak pernah dijajah
atau memang…. bangsa kita tak pernah merdeka?

—-

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah artikel yang kurang lebih berisi sesuatu yang mengejutkan saya. Menurut artikel tersebut, sesungguhnya bangsa Indonesia tidak dijajah selama 350 tahun. Buktinya adalah begitu banyak negara-negara yang masih merdeka di tahun 1700-an.

Kenyataan yang sebenarnya adalah, perusahaan Belanda yang bernama VOC datang untuk ‘berinvestasi’ di Indonesia. Mereka membangun infrastruktur, dan mempekerjakan rakyat miskin di perusahaan mereka. Apakah dibayar? Tentu saja! Mereka dibayar sesuai dengan usaha mereka.

Bangsa kita ini merupakan bangsa yang penuh pengabdian kepada penguasa. Itulah kenapa begitu banyak kerajaan-kerajaan kecil sejak jaman dahulu. Rakyat kecil, asalkan dipelihara makan dan minumnya oleh penguasa, akan merasa sangat senang dan cukup berpuas hati. Mengapa? Karena bagi mereka, kebutuhan dasar terpenuhi, cukuplah. Tidak percaya? Lihatlah abdi dalam di keratonan Jogja yang masih menerima gaji di bawah Rp.10.000 sebulan… Mereka tidak protes atau demo seperti para buruh.

Sekali lagi, kenapa? Karena akar budaya bangsa kita ini sebenarnya penuh dengan pengabdian kepada penguasa. Sebagian orang menjadi penguasa dengan arogansi raja, sementara rakyat mengabdi dengan penuh kerendahan hati. Jika saya boleh menilai, pada jaman kerajaan dahulu, terjadi kesenjangan sosial yang begitu tinggi antara penguasa dan rakyat kecil.

Masalah timbul ketika perusahaan asing masuk. Belanda berasal dari dataran Eropa yang maju secara industri pada masa itu, memperkenalkan sistem upah kepada bangsa kita, rakyat kecil yang sebelumnya tidak perlu digaji, hanya cukup dipelihara makan minum dan sedikit diberi julukan ‘abdi kerajaan’. Tidak cukup pengabdian untuk bekerja kepada bangsa asing, mereka harus pintar, mereka harus bisa baca tulis. Pendidikan, aturan dan etika bekerja mulai diperkenalkan.

Hal ini tentunya merupakan ancaman bagi para raja. Jika rakyat memiliki uang sendiri, akan timbul pemberontakan. Jika rakyat bisa membaca dan menjadi pintar, maka pengabdian mereka pada kerajaan akan berkurang. Berita mengenai ‘penjajahan’ akhirnya mulai disebarkan. VOC yang sebenarnya merk dagang mulai disebut ‘kompeni’ dan dianggap penjajah. Rakyat Indonesia (yang sejak dulu memang mudah terprovokasi) mulai dipengaruhi agar melihat bangsa lain yang berani-berani berinvestasi sebagai penjajah, dan…peperangan pun dimulai.

Bangsa dari Eropa itu tentunya bereaksi, ketika rakyat mulai memberontak dan mengangkat bambu runcing. Karena mereka berasal dari peradaban yang lebih maju, mereka pun menggunakan senjata yang dapat memuntahkan peluru… Rakyat kita banyak yang mati karenanya.

“Merdeka atau mati” menjadi slogan dari rakyat kita sejak dulu, tanpa mereka bertanya balik, ‘merdeka dari apa?’ dan ‘mati kenapa?’

Seandainya saja Indonesia dulu mengenal yang namanya INVESTASI, tentunya VOC tidak akan diserang oleh para raja itu. Seandainya saja Indonesia dulu mengenal yang namanya Penanaman Modal Asing, tentu saat ini Indonesia sudah seperti Singapura atau Hongkong.

Lihatlah saluran air yang dibangun Belanda di Batavia. Lihatlah sungai-sungai kecil yang dibangun Belanda untuk menjadi transportasi di Jakarta. Semuanya langsung rusak ketika negara ini diambil alih oleh bangsa kita sendiri. Lihatlah infrastruktur dan jalan yang dibangun bangsa lain di jaman dahulu, lebih tahan lama dibanding yang dibangun oleh bangsa kita sendiri setelah kemerdekaan. Bukankah Ironis??

Siapa sebenarnya yang menjajah bangsa ini, MENTALITAS TERBELAKANG, atau INVESTASI bangsa asing? Siapa yang menjajah bangsa ini, KEBODOHAN atau PERUSAHAAN ASING?

Jika memang bangsa ini dijajah oleh investasi bangsa asing, lalu mengapa banyak perusahaan asing masih menjamur di Indonesia? Kenapa banyak orang Indonesia (terutama yang kaya) menyekolahkan anak-anak mereka di International School? Apakah negara ini tidak konsisten dengan apa yang mereka perjuangkan?

TIDAK! Bangsa kita ini bukan dijajah oleh bangsa asing, tapi oleh kebodohannya sendiri. Oleh keserakahan penguasa, oleh kemalasan rakyat kecil, oleh keegoisan rakyatnya! Sejak dahulu bangsa ini memilih tidak membagi kejayaan dengan bangsa lain, namun tidak mampu mengelola kejayaannya sendiri.

Saya jelaskan maksud saya. Teman saya pernah bercerita pengalamannya pada saya. Satu kali dia pernah memiliki kios di tempat perbelanjaan. Dia membeli kios itu dan menghubungi beberapa orang untuk bekerjasama .Orang-orang yang dihubungi adalah tukang sate dan tukang tahu baso. Teman saya menawarkan pada mereka sebuah kerjasama yang saling menguntungkan. Orang-orang ini berjualan di kios teman saya, dan teman saya memodali bahan baku (agar kualitas lebih baik). Harga jual dinaikkan dua kali lipat dari harga yang biasa orang-orang ini jual (namun orang-orang ini tidak perlu lagi memodali bahan baku).

Bagaimana pembagiannya? Teman saya membeli tahu baso dan sate itu sesuai harga jual yang biasa dari orang-orang itu. Keuntungan orang-orang itu tentunya lebih besar karena mereka tidak perlu lagi memodali bahan baku. Setiap hari, teman saya duduk di kasir dan menerima uang yang masuk dari pelanggan. Penjualan luar biasa tinggi dan jika dihitung-hitung, keuntungan orang-orang ini dua kali lipat jika dibandingkan saat dua orang ini bekerja dengan gerobak.

Tahukah Anda? Tak perlu setahun untuk kedua tukang ini merasa dirugikan. Menurut mereka, teman saya enak-enakan ongkang-ongkang kaki sementara mereka yang bekerja membuat sate dan tahu baso. Mereka merasa rugi karena membagi keuntungan bersama teman saya. Mereka tidak mengerti konsep INVESTASI dan PENANAM MODAL.

Akhirnya, mereka memilih untuk kembali ke usaha lamanya, keuntungan lebih kecil, namun tak perlu membagi dengan orang lain.

Baik, katakanlah kedua orang itu bukan orang terpelajar,  saya juga pernah bercerita tentang seorang karyawan di perusahaan swasta yang lebih rela jika gajinya diturunkan lagi asal gaji temannya juga turun, daripada temannya -yang dia nilai lebih ringan beban kerjanya- mendapat gaji yang sama dengan dirinya.

Inilah faktanya, kebodohan, mentalitas egois dan serakah masih menguasai bangsa ini, SAMPAI SAAT INI.

Jika melihat semua kenyataan itu.. Apakah bangsa kita ini sebenarnya tidak pernah dijajah, atau tidak pernah merdeka?

Advertisements