Part 1 INTRODUCTION

Kemarin saya melihat sebuah link yang dibagikan oleh om saya mengenai berkembangnya “Atheist Megachurches” yang berkembang di USA (silahkan klik di sini untuk mengetahuinya). Saya tidak akan membahas isi artikel itu di sini, Anda dapat membacanya sendiri di link yang sudah saya berikan tadi.

Di tulisan kali ini saya akan membahas makna ATHEIST secara umum. Atheist berasal dari kata Yunani ‘Atheos’ dengan akar kata A (yang berarti tidak ada) dan Theos (yang berarti Tuhan). Dengan kata lain Atheist adalah seorang yang tidak mempercayai adanya Tuhan. Pertanyaannya sekarang adalah, ‘kenapa mereka tidak mempercayai adanya kuasa yang lebih besar?”

Dalam bukunya yang berjudul ‘Mere Christianity’ CS Lewis mengatakan:

These, then, are the two points I wanted to make. First, that human beings, all over the earth, have this curious idea that they ought to behave in a certain way, and cannot really get rid of it. Secondly, that they do not in fact behave in that way. They know the Law of Nature; they break it. These two facts are the foundation of all clear thinking about ourselves and the universe we live in.

Pada dasarnya manusia memiliki rasa penasaran mengenai apa yang SEHARUSNYA  mereka lakukan. Walaupun telah jatuh dalam dosa, manusia tetaplah mahluk yang paling istimewa yang pernah diciptakan Tuhan, dan karena pelanggaran memakan buah pengetahuan yang baik dan buruk, manusia yang tadinya hanya mengenal apa yang baik, kini juga mengenal apa yang buruk (dan menyukai apa yang buruk tersebut walau mereka tahu itu buruk).

Ya, setiap manusia memiliki insting alamiah untuk mengetahui apa yang benar dan salah, namun secara alamiah juga dosa membuat mereka cenderung melakukan apa yang salah walaupun mereka tahu jika itu buruk. Manusia tahu apa yang seharusnya mereka lakukan tapi mereka memilih untuk tidak melakukannya.

Selanjutnya, adanya kecenderungan moral baik atau buruk ini membuat manusia berpikir bahwa  ada suatu pribadi yang lebih besar yang ada di luar dirinya yang mengatur mana yang  baik atau buruk. Itu sebabnya mengapa di wilayah pedalaman sekalipun manusia mencari sesuatu untuk disembah, entah itu batu, gunung, pohon, apapun.

Mari kita anggap bahwa cerita Adam dan Hawa yang kita ketahui dalam Alkitab itu benar (soalnya, saya pernah mendengar beberapa orang tidak mempercayai cerita ini), maka kita dapat menyimpulkan bahwa suatu masa, manusia terbagi menjadi dua golongan: golongan yang terus mengenal Tuhan dan berhubungan dengan Dia (keturunan Set) dan golongan yang semakin lama semakin menjauh dari Tuhan (keturunan Kain).

Saya tidak mengerti bagaimana kisahnya hingga satu-satunya orang yang mengenal Tuhan di muka bumi hanyalah Nuh. Bukankah ini aneh? Tentunya ada banyak sekali keturunan Set, bukan? Namun mengapa hanya Nuh?? Kemana kakak adik, paman, bibi, dan sepupunya yang lain ketika Nuh mengatakan bahwa TUHAN, yang keturunan Set kenal sejak turun temurun, akan menghukum manusia dengan mengirimkan banjir besar. Siapa yang tidak mereka percayai? Tuhan, atau Nuh?

Jika Tuhan yang tidak mereka percayai, apakah mereka semua Atheist, atau mereka menyembah Tuhan yang lain? (Jika kita mengacu pada kenyataan bahwa seharusnya tiap manusia memiliki kecenderungan mempercayai adanya kuasa yang lebih besar dibanding dirinya?)

Inti dari pertanyaan saya adalah, apakah Atheist telah ada (bahkan) sejak jaman Nuh? Ketika manusia baru diciptakan beberapa ratus tahun saja? Lalu, apa yang membuat seseorang menjadi Atheist dan tidak mempercayai Tuhan? Apakah masalah hidup? Apakah karena Tuhan tidak terlihat? Apakah karena mereka terlalu percaya diri?

Bukankah manusia memiliki kecenderungan mempertanyakan asal muasal mereka? Jika mereka tidak mempercayai Tuhan, lalu mereka pikir dari mana mereka berasal? Kalaupun dari evolusi, bukankah tetap harus ada yang menciptakan kehidupan bagi protozoa yang kemudian lama kelamaan berkembang menjadi monyet dan kemudian manusia…

Kalau kita baca Alkitab kita, kita akan menemukan bahwa alasan utama orang-orang jaman Nuh menjauhi Tuhan  karena mereka salah bergaul. Pengenalan akan Tuhan yang seharusnya diturunkan turun temurun dari ayah kepada anak terputus ketika mereka mulai menikahi orang-orang yang tidak mengenal Tuhan dan tidak membangun kebiasaan baik dalam keluarga. Selanjutnya, walaupun mereka tahu apa yang benar, mereka memilih untuk tidak melakukannya. Mereka memilih untuk melakukan apa yang jahat di hadapan Tuhan.

Bukankah pertanyaannya kemudian adalah: dari mana kita tahu bahwa itu jahat sedangkan jaman Nuh belum diturunkan Hukum Taurat? Sekali lagi, manusia bukanlah produk gagal, karena memiliki benih Ilahi (ditambah buah pengetahuan baik dan buruk) manusia memiliki insting untuk mengetahui apa yang baik dan buruk. Dosa adalah ketika manusia memilih untuk melakukan yang salah di saat mereka tahu bahwa itu tidak seharusnya mereka lakukan.

Pelajaran dari jaman Nuh? Seseorang dapat melupakan Tuhan ketika ia melakukan apa yang jahat dan mulai menyukainya. Penyebabnya? Pergaulan yang buruk dan keluarga yang tidak dibina!

 

Part 2: ATHEIST JAMAN SEKARANG – TIDAK PERLU TUHAN UNTUK BERBUAT BAIK?

Tapi masalahenya jaman sekarang adalah, seseorang menyebut dirinya Atheist bukan karena mereka tidak memiliki standar moral yang baik. Di link yang diberikan om saya, dalam Gereja Atheist itu juga terdapat ‘kotbah’ mengenai moral yang benar. Ini membuat kita bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang yang memiliki standar moral yang tinggi bisa mengaku menjadi atheis jika kita mengingat bahwa standar moral yang baik berasal dari Tuhan?

Mereka menjalankan ibadah sebagaimana layaknya gereja, tapi tidak ada Tuhan di dalamnya. Mereka mendengarkan kotbah, tapi bukan Tuhan yang menjadi topik kotbah mereka. Mereka menyembah, tapi bukan Tuhan yang disembah. Mereka mendengar inspirasi yang baik tapi bukan Tuhan sumbernya. Lalu apa???

Saya akan mengutip kata-kata salah seorang dari anggota gereja atheist tersebut di sini:

“When we think about religion in America, we talk about oh, belief in God, belief in Jesus, but for a lot of people, it’s the community. It’s the Sunday school, it’s the seeing people afterwards in the foyer or in the courtyard, it’s the having coffee,” said Phil Zuckerman of Pitzer College.

“They want that kind of moral community that is about connecting with others and is about celebrating life, celebrating morals and ethics in a non-supernatural context,” he added.

(Berbicara mengenai agama di Amerika adalah berbicara tentang, Percaya pada Tuhan, percaya pada Yesus. Tapi untuk banyak orang, itu hanyalah sebuah komunitas. Itu hanya Sekolah Minggu, hanya melihat orang berkumpul di halaman sesudahnya sambil minum kopi” kata Phil Zuckerman dari Pitzer College.

“Mereka menginginkan suatu komunitas moral di mana mereka dapat saling terhubung satu dengan yang lain, merayakan kehidupan, merayakan moral dan etika di luar konteks supernatural,” tambahnya)

Bukankah ini menyedihkan? Seseorang menjadi atheis ketika mereka tidak dapat menemukan jawaban akan moral dan etika yang baik di gereja. Seseorang menjadi atheis ketika yang mereka lihat dari gereja hanya sebuah komunitas yang membicarakan masalah-masalah supernatural yang bahkan tidak saling terhubung satu sama yang lain.

Bukankah ini menyedihkan, ketika seseorang menjadi atheis karena ingin bersikap lebih baik daripada mereka yang bertuhan?

Saya tahu, saya tahu… Jawaban Anda tentunya adalah “jangan lihat orangnya dong kalau ke gereja”. Tapi bukankah gereja adalah kumpulan orang-orang?

Sebagian dari Anda juga mungkin berkata, “moral dan etika yang mana yang orang-orang Atheis itu maksudkan?” Masih ingat pembahasan saya di bagian satu? Manusia, terlepas dari dia beragama atau tidak, memiliki apa yang dinamakan moral! Moral inilah yang membuat mereka dapat membedakan mana yang benar dan salah. Dapatkah seseorang berbuat baik di luar Tuhan? Silahkan Anda jawab!

Jadi, apa yang membedakan gereja, dalam hal ini kumpulan orang percaya, dengan komunitas Atheis itu? Benar sekali…STANDAR HIDUP!

Pertama, komunitas Atheis itu membahas tentang moral dan etika, tapi dengan menggunakan standar manusia mengenai moral dan etika. Seharusnya,… sekali lagi SEHARUSNYA,… gereja membahas moral dan etika bukan dengan standar manusia… tapi STANDAR TUHAN.

Bukankah lucu kalau orang Atheis itu melakukan kebaikan bukan supaya mendapat upah (masuk Surga) sedangkan banyak orang beragama berpikir mereka melakukan kebaikan supaya mendapat imbalan (surga)? Jadi, seandainya tidak ada surga dan neraka, akankah orang beragama tetap memiliki standar moral yang baik?

Standar Tuhan bukanlah KITA MELAKUKAN KEBAIKAN SUPAYA MASUK SURGA. Standar Tuhan adalah “kita melakukan segala sesuatu untuk Tuhan“. Standar Tuhan bukanlah KITA MELAKUKAN KEBAIKAN SUPAYA TIDAK MASUK NERAKA. Standar Tuhan adalah “kita melakukan segala sesuatu SUPAYA NAMA TUHAN DIMULIAKAN“.

Bedanya adalah… Tuhan yang menjadi pusat dari kebaikan yang kita lakukan, bukan diri kita sendiri!

Kedua,komunitas Atheis ini saling terhubung satu dengan yang lain karena mereka memahami bahwa manusia adalah mahluk sosial, tidak dapat hidup seorang diri. Bagi mereka komunitas bukanlah sekedar duduk bersama-sama mendengar kotbah yang sama dan menyembah Tuhan yang sama. Komunitas adalah mereka yang saling terhubung, berbagi, empati dan membantu satu dengan yang lain.

Mereka saling terhubung karena mereka sadar dirinya membutuhkan orang lain. Dengan kata lain “saya membantu dia agar dia membantu saya suatu saat saya membutuhkannya. Mari kita sama-sama menjadikan dunia lebih baik dengan saling membantu“. Apa standar Tuhan untuk ini “KASIHILAH SESAMAMU MANUSIA SEPERTI DIRIMU SENDIRI” dan “KASIHILAH MUSUHMU DAN BERDOALAH BAGI MEREKA YANG MENGANIAYA KAMU”. Yup, the missing wordnya SEHARUSNYA adalah KASIH!

Tapi, bukankah lucu kalau orang-orang atheis ini (terlihat) mengembangkan kebiasaan jemaat mula-mula untuk saling berbagi sementara gereja hanya sibuk dengan mengumpulkan jemaat dalam satu gedung, berbicara tentang kasih tanpa menunjukkannya?

 

PART 3:  GEREJA TANPA TUHAN vs GEREJA YANG TIDAK BERPUSAT PADA TUHAN

Terakhir, mari kita memikirkan sebuah topik menarik. Apa bedanya antara gereja tanpa Tuhan dengan gereja yang tidak berpusat pada Tuhan (atau yang kelihatannya seolah-olah berpusat pada Tuhan padahal tidak).

Anda mungkin bertanya, memangnya ada gereja yang tidak berpusat pada Tuhan. Saya akan mengajak Anda untuk mengingat saat ketika Tuhan Yesus marah di Bait Suci. Kenapa Yesus marah? Karena Rumah Bapanya dijadikan tempat berjual beli… Karena kehadiran Tuhan tidak dianggap di sana…

Saya pernah menuliskan ini dalam rangkaian Gereja Bintang Lima. Mudah saja mengecek apakah Gereja Anda berpusat pada Tuhan atau tidak…, mana yang menjadi fokus ibadah? Kehadiran Tuhan, atau tata lampu yang dibeli dengan harga mahal? Mana yang menjadi fokus ibadah, persekutuan dengan saudara seiman atau gedung yang megah dan bangku yang empuk? Mana yang pendapatnya lebih penting, Tuhan atau pendeta? Mana yang lebih membuat pendeta Anda marah… kesalahan pemain musik dalam membuat intro, atau jemaat yang tidak menghargai Tuhan saat ibadah?

Mana yang lebih mudah, berbicara standar moral berdasarkan Firman Tuhan, atau memuaskan telinga jemaat dengan motivasi dan kata-kata yang ingin mereka dengar seperti, ‘bagaimana caranya agar menjadi kaya di bumi dan masuk surga?”

Saudara, saya tidak sedang berusaha menghakimi… Ampuni saya jika terkesan begitu… Saya hanya ingin mengajak kita semua melihat ke dalam hati kita… Ketika kita mengunjungi gedung megah itu… Ketika kita memikirkan tentang ‘ke gereja setiap minggu’, apakah kita sama seperti  komunitas Atheis itu, lebih baik, atau malah lebih buruk?

Advertisements