Menjadi kalkun yang diampuni nyawanya


November adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh warga Amerika Serikat. Bulan di mana mereka akan merayakan sebuah perayaan besar. Hari Raya yang sempat menjadi perdebatan di tahun 1940-an dan perayaannya bahkan dijadikan Undang-undang oleh Presiden Roosevelt. Apakah itu? Ya!! Hari Raya Thanksgiving.

Hari Raya Thanksgiving jtuh di minggu ke-empat bulan November. Saya menuliskannya lebih awal karena siapa tahu saja di antara pembaca ada yang ingin merayakannya bersama warga Amerika Serikat…

Hari Raya Thanksgiving tidak ada kaitannya dengan agama tertentu, namun karena di Amerika Serikat mayoritas penduduknya (tercatat) beragama Kristen, maka untuk sebagian orang “Timur” yang fanatik mungkin akan mengaitkan tradisi ini dengan tradisi perayaan Kristen.

Thanksgiving awalnya perayaan ucapan syukur setelah panen… biasanya dirayakan dengan berkumpulnya seluruh keluarga dan makan besar dengan kalkun sebagai menu utamanya. Sejarah Thanksgiving agak rumit, dimulai dari ketika kaum Pilgrim dari Eropa berhasil makan bersama suku asli Amerika dan seterusnya dan seterusnya… hingga jaman sekarang, ketika thanksgiving menjadi tanda dimulainya masa diskon besar-besaran oleh pusat-pusat belanja..

Tapi bukan itu yang akan menjadi inti tulisan saya kali ini….

Hal yang menarik perhatian saya dari Hari Raya Thanksgiving ini adalah kebiasaan yang berkembang sejak tahun 1947. Entah bagaimana ceritanya, Amerika memiliki suatu badan yang dinamakan Federasi Kalkun Nasional (saya tidak tahu apa mereka juga memiliki Federasi Gajah Nasional, Federasi Semut Nasional dan Federasi-federasi lainnya) . Nah, Federasi Kalkun Nasional ini sejak tahun 1947 memberikan dua kalkun kepada Presiden USA. Satu kalkun yang sudah diproses, dan satu kalkun hidup.

Entah melambangkan apa prosesi ini, Presiden USA kemudian akan secara simbolis memberikan “pengampunan nyawa” kepada kalkun yang masih hidup. Kalkun yang menerima grasi presiden ini kemudian akan dipelihara dengan baik di peternakan, mendapatkan kesempatan hidup satu tahun lagi. Kalkun itu bisa dinamakan sebagai kalkun yang beruntung. Saat semua kalkun seharusnya berakhir di oven panggangan, kalkun ini bisa bersantai di peternakan menjadi kalkun yang bebas.

Apakah Anda pernah berada di posisi seperti kalkun ini? Seharusnya Anda dipotong hidup-hidup, namun tiba-tiba sesuatu terjadi dan PLOP!! Anda lolos begitu saja keluar dari maut. Seharusnya Anda dihukum namun tiba-tiba saja sesuatu terjadi dan Anda bebas!!

Kisah kalkun yang diampuni nyawanya ini mengingatkan saya pada kisah Ishak. Apa rasanya berada di atas mezbah yang disiapkan oleh ayahnya sendiri. Apa rasanya diikat dan dalam keadaan tak berdaya dibaringkat di atas mezbah itu? Apa rasanya menanti nyawamu akan dicabut dari tubuhmu? Apa rasanya ketika tinggal hitungan detik tiba-tiba saja kau dibebaskan dan digantikan oleh seekor domba?

Kalau kalkun itu bisa berpikir, kira-kira apa yang dirasakannya? Seekor kalkun diselamatkan oleh presiden? Seekor presiden mengurusi hak hidup seekor kalkun? Wohhooo….. (ini memang hanya tradisi, tapi kalkun itu memang benar-benar dibiarkan hidup)

Tahukah Anda bahwa kita semua manusia juga berada di sisi jurang kematian. Ketika waktunya tiba, seharusnya kita terjun bebas ke dalam kematian kekal itu sementara kesenangan ada di seberang jurang itu. Beberapa orang bilang bahwa untuk menyeberangi jurang itu diperlukan banyak usaha baik, lebih banyak dari dosa yang dilakukan. Tapi kenyataannya kebaikan kita tak akan pernah cukup untuk mengimbangi keburukan yang melekat dalam karakter manusia kita.

Dibutuhkan lebih dari sekedar kebaikan, diperlukan penggantian… Ya!! Tidak ada yang gratis di dunia ini, bahkan keselamatan pun tidak!! Hanya saja kebaikan kita tidak akan pernah cukup untuk membayar harganya. Diperlukan bayaran yang lebih besar untuk menebus kita dari kematian kekal. Harus ada kalkun yang dijadikan santapan thanksgiving, harus ada anak domba yang dikorbankan untuk Paskah, harus ada darah yang dicurahkan untuk penebusan dosa!

Untuk penebusan dosa dunia, diperlukan darah Anak Domba Kudus, agar kita manusia diberikan Grasi oleh Yang Maha Kuasa. Ya, tidak ada yang gratis. Kita selamat bukan karena Tuhan memberikannya cuma-cuma kepada kita, tapi Tuhan membayarnya bagi kita. Menenjadikan kita seperti “kalkun yang diampuni nyawanya”. Setelah itu,… hmmm, kita bisa menjalani hidup tanpa beban, seperti orang-orang yang mendapat diskon besar-besaran  di pusat belanja itu (maksa disambung-sambungin)

Ngomong-ngomong soal thanksgiving (ucapan syukur), saya rasa kalkun yang diampuni nyawanya itu lebih dapat memaknainya dibanding mereka yang makan di meja dan bersiap-siap untuk belanja Natal dengan diskon besar-besaran…. Dan, jika dibanding dengan kalkun itu, apakah kita dapat lebih memaknai arti UCAPAN SYUKUR?

Advertisements