Tulisan saya kali ini (lagi-lagi) cukup rumit. Sulit juga mengeluarkan apa yang ada di otak saya ini (khususnya tentang hal ini) tanpa menyinggung sebagian orang… Tapi baiklah, akan saya coba memaparkannya…

Saya akhirnya percaya, ini jaman post modern… Di mana orang-orang mulai mengedepankan segala sesuatu yang bersifat perasaan dan kemanusiaan sekalipun mengorbankan aturan dan tatanan lain yang ada dalam masyarakat. Dalam pemikiran postmodern, tidak ada yang benar-benar mutlak, setiap teori tidak boleh arogan dengan kebenarannya, karena semua teori memiliki tolak pikir masing-masing, dan bisa berguna.

Kalau jaman dahulu, rumah tangga dimulai dari dua orang berlainan jenis di mana sang pria merupakan kepalanya, pada era post modern (di mana yang dikedepankan adalah perasaan manusia), rumah tangga bisa dimulai dari dua orang yang sejenis (pria-pria atau wanita-wanita) di mana kepalanya bisa siapa saja, bahkan bisa saja kepalanya tidak hanya satu.

Ya… era post modern yang kebablasan akan membuat tatanan sosial dan agama berantakan dengan alasan “setiap manusia berhak untuk bahagia”

Kalau kita kembali pada jaman kitab suci, Alkitab dengan tegas mengatakan

Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku Wahyu 3:16

Tidak ada yang ‘relatif’ jika ukurannya adalah benar atau salah. Jika homoseksual adalah dosa, maka tidak peduli kau menikmatinya atau tidak, itu adalah dosa. Tidak peduli jika engkau bahagia dalam keadaan itu, jika Tuhan membencinya, itu adalah dosa!

Namun jaman postmodern menampiknya dengan mengatakan, ‘toh yang menjalani kehidupan itu adalah manusia sendiri… yang merasakan bahagia atau tidak adalah manusia sendiri” tanpa melihat apakah Sang Pencipta bersedih atau tidak.

Beberapa hari yang lalu saya berbincang-bincang dengan seorang teman mengenai, “apakah Tuhan itu adil kepada orang yang lahir dengan kecenderungan seksual yang berbeda?”. Kesimpulannya adalah, ini tidak ada kaitannya dengan keadilan Tuhan. Ketika manusia pertama berbuat dosa, maka dosa masuk dalam dunia dan itu mengacak-acak sistem yang sudah Tuhan tetapkan bagi manusia. Sama seperti kanker atau penyakit lain yang menimpa manusia, seperti itu juga kecenderungan homoseksual, seharusnya dilihat sebagai suatu penyakit yang harus diobati, bukannya dijadikan bahan perdebatan “apakah Tuhan adil atau tidak” atau saya terlahir seperti ini dan saya berhak bahagia”

Baik, mari tinggalkan topik homoseksualitas karena bukan itu yang ingin saya soroti di sini.  Karena postmodern sifatnya mengedepankan perasaan manusia, maka hal yang mengikutinya sebagai penyeimbang adalah penyimpangan pada kata “toleransi”. Sebelum membahas lebih jauh, kita semua perlu tahu bahwa definisi sederhana dari TOLERANSI adalah “menerima orang lain apa adanya tanpa perlu menjadi sama dengannya” artinya, ketika kita bertoleransi pada orang yang berbeda agama, maka kita harus menerima bahwa agamanya berbeda dengan agama kita tanpa kita harus menjadi seagama dengannya.

Pemikiran post-modern yang mengedepankan “hak setiap orang untuk berbahagia” ditambah toleransi yang “menerima orang lain apa adanya” membuat pembiaran besar-besaran terhadap suatu kesalahan yang sebenarnya sudah jelas-jelas dibenci oleh Tuhan. Belum lagi jika itu ditambah trend “keren” seperti kelakuan Olga, pria yang lemah gemulai. Kalaupun bukan pembiaran, maka mereka yang melakukan tindakan yang jelas-jelas salah akan dengan garang menuntut toleransi sementara otoritas (dalam hal ini orangtua dan guru) mengalami kebingungan akut antara memberi toleransi atau bertindak tegas.

Lawan dari toleransi yang berlebihan adalah anti-sekulerisme dan anti-pluralisme yang diusung oleh pihak agama (khususnya agama mayoritas). Berusaha mengembalikan umat ke jalan yang benar, mereka malah tidak mengenal arti kata toleransi sama sekali. “Turuti jalan yang (menurut kami) benar, atau kami musnahkan Anda” sepertinya merupakan kalimat yang cukup menggambarkan mereka.

Para pemuka agama fanatik tersebut ketakutan ketika konsep humanisme yang kembali dibawa oleh post-modern dan toleransi berlebihan justru akan mengaburkan makna keimanan dalam beragama. Mereka tidak bisa membedakan antara “semua agama sama” dengan “kehidupan rukun antara umat beragama”, entah karena mereka paranoid, atau karena mereka tidak mau mengambil resiko.

Ketika mereka yang ‘normal’ berkata soal ‘toleransi antar umat beragama di negara Pancasila’, mereka yang anti sekulerisme berkata ‘jangan jadikan Indonesia menjadi negara sekuler’.

Sebenarnya, apa arti sekuler itu sendiri?

Sekulerisme adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi (atau negara) seharusnya terpisah dari agama. Menurut saya tidak ada yang salah dengan konsep ini. Sekularisme dapat menunjang kebebasan beragama atau kebebasan dari pemaksaan kepercayaan dengan menyediakan sebuah rangka yang netral dalam masalah kepercayaan serta tidak menganakemaskan sebuah agama tertentu.

Ya… menjadi mayoritas tidak berarti bahwa kita adalah anak emas. Dalam kehidupan bernegara, menjadi mayoritas seharusnya hanya masalah jumlah, tidak ada urusannya dengan menjadi penentu kehidupan berpolitik (kecuali di negara agama).

Indonesia merupakan negara Pancasila. Saya tidak setuju bahwa Pancasila merupakan bentuk toleransi dari mayoritas kepada minoritas!! Tidak!! Pancasila adalah sebuah pemikiran jenius yang dikeluarkan oleh pendahulu kita di jaman dahulu. Ketika…

  • toleransi beragama masih dijunjung (tak peduli siapa Tuhanmu, pastikan kau memiliki satu Tuhan)
  • manusia masih dianggap sebagai mahluk mulia yang harus diperlakukan adil dan beradab
  • dan persatuan Indonesia masih dielu-elukan.
  • permasalahan bisa diselesaikan dengan musyawarah untuk mufakat
  • seluruh rakyat berhak mendapat perlakuan adil tanpa pandang apakah dia mayoritas atau minoritas

Pertanyaan yang patut ditanyakan sekarang adalah “sampai di mana batas toleransi yang dapat ditoleransi?” Hahaha…terdengar aneh…? Saya akan coba memberikan beberapa pemikiran saya untuk menjawab pertanyaan itu

  1. Manusia memiliki agama, itu yang membedakannya dengan mamalia lainnya. Tanpa melihat apa agama yang dianut, kita harus mengakui bahwa setiap agama mengajarkan apa yang baik. Pengakuan bahwa setiap agama mengajarkan apa yang baik itulah yang dinamakan toleransi.
  2. Toleransi yang saya maksud pada poin di atas tersebut tidak membuat seseorang mempercayai (atau mengimani) ajaran agama orang lain yang dia anggap baik.
  3. Setiap orang berhak (dan sudah seharusnya) mengimani bahwa agama yang dianutnya merupakan agama yang paling benar, yang dapat mengantarnya ke Surga. Namun ketika iman ini tak dapat lagi meyakinkan mereka tentang konsep “keselamatan kekal”, maka hak setiap orang juga untuk mengubah keyakinannya
  4. Hak asasi manusia harus diketahui dan dipahami oleh setiap warga negara, tercakup di dalamnya hak hidup, hak untuk bebas dari penyiksaan, hak untuk bebas dari perbudakan, hak diperlakukan adil dalam hukum (tidak peduli mayoritas atau minoritas), hak memeluk agama, hak untuk berbicara, hak untuk berpikir, hak untuk beragama, hak untuk bepergian, hak untuk mempertahankan pendapat, hak untuk memiliki privasi (yang di beberapa negara akhirnya berkembang menjadi hak untuk menentukan gender dan orientasi seksual)
  5. Karena terdapat lebih dari satu agama sehingga sulit jika kita memutuskan agama mana yang mau dijadikan patokan dalam norma dan nilai bermasyarakat, maka saya pikir hak asasi manusia dapat dijadikan aturan universal yang merupakan batas dari toleransi antar manusia.
  6. Menjunjung hak asasi manusia dalam sebuah negara tidak menjadikan negara tersebut sekuler, karena hak asasi manusia sifatnya internasional (kecuali jika Anda tidak menganggap diri Anda spesies yang sama dengan mereka yang berada di negara maju).
  7. Sekulerisme merupakan sebuah ideologi yang tidak salah… Ketika negara dan agama dicampuradukkan, maka yang terjadi hanyalah perang dan perang dan perang…   Jika kita tidak mau menggunakan istilah sekulerisme (karena takut disamakan dengan negara barat), bagaimana jika kita gunakan istilah NEGARA BERPANCASILA?

Hmmm…saya berhenti di nomor 7. Apakah Anda ingin menambahkan?? Silahkan…

Advertisements