Buat apa diributin… yang penting kan…


Menanggapi gambar seorang teman, saya baru saja memberikan link tulisan saya tentang “Apakah Yesus Lahir di Kandang”. Saya baru saja membaca tulisan itu lagi dan tiba-tiba saja emosi saya (yang begitu mudah terpancing ini) terpancing membaca tanggapan seorang yang tidak saya kenal. Kurang lebih komentarnya seperti ini:

Yah gue rasa sih, mau lahirnya dimana kg masalah toh orang yang bersangkutan udah kg cengo bengong dalam palungan ataupun kandang. Yang penting kan inti ceritanya itu apa! Pesan apa yang hendak disampaikan, saya rasa sih itu. Sama saja dengan jubah Yesus, buatan mana? Merek apa? Kok sanggup beli kan mahal? Ditenun oleh siapa? Basi juga kalau kita tanyain. Yang penting kan pesan yang akan disampaikan. Kalau Dia aja kaga keberatan lahir dan hidup sebagai manusia biasa kenapa kita-kita harus rese dan bertingkah sementara menjalani hidup.

Entah sesabar apa saya dulu hingga saya tidak membalas komentar tersebut (atau mungkin seharusnya, entah ada masalah apa saya sekarang hingga tiba-tiba terpancing dan ingin membalas komentar tersebut. Saudara bisa membaca balasan saya di tulisan tersebut. Atau jika Saudara malas akan saya kutip di sini:

Yang selalu membingungkan saya adalah orang-orang yang berkata… “buat apa diributin….yang penting kan…” pada suatu permasalahan yang sedang dibicarakan oleh orang lain… seperti yang saudara Warren ini lakukan…

Ah ya..saya benci sekali dengan kalimat seperti ini… kalimat arogan yang merasa bahwa segala sesuatu begitu sederhana menurut kacamatanya… kalimat yang terlihat jelas keluar dari orang yang menolak pengetahuan…

“Yang bersangkutan udah ga cengo bengo dalam palungan atau kandang”
Hey…yang dibahas di sini bukanlah apakah Yesus cengo bengo atau dia semakin besar… Yang dibahas di sini adalah perbedaan lahir di ruang keluarga atau lahir di kandang. Jika orangtua Anda mengatakan Anda lahir di becak…apakah bermasalah bagi Anda?

“Yang penting kan inti ceritanya itu apa”
Memangnya apa inti ceritanya menurut Anda? Secara umum intinya memang Yesus lahir ke dunia jadi manusia… Tapi antara lahir di ruang keluarga dan lahir di kandang hewan jelas membuat sebuah inti cerita itu menjadi berbeda

“Sama saja dengan jubah buatan Yesus…dst dst”
Tahukah Anda, jubah itu tidak penting, sampai dikenakan oleh Yesus… Jubah itu tidak penting karena yang penting adalah yang mengenakannya. Namun tahukah Anda….seorang wanita menyentuh jubah itu dan menjadi sembuh… Orang tidak lantas bertanya jubah buatan mana… tapi siapa yang mengenakannya…

Demikian juga soal ruang keluarga….saya tidak membahas ruang keluarganya siapa…saya membahas Yesus lahir di tengah-tengah keluarga…

“Kalau Dia aja kaga keberatan lahir dan hidup sebagai manusia biasa kenapa kita-kita harus rese dan bertingkah sementara menjalani hidup.”
Saya rasa bukan ini makna dari tulisan saya… Saya tidak sedang menghakimi orang lain yang rese dan bertingkah sementara menjalani hidup… Saya sedang menyoroti soal “hal kecil yang disalah artikan” oleh banyak gereja saat ini…

Sekian tanggapan saya… terimakasih banyak!

Saya adalah orang yang suka pada pengetahuan…Suka sekali… Saya suka ketika menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak saya ketahui. Saya akan bersorak dalam hati ketika ada titik terang terhadap sesuatu yang membingungkan saya. Saya akan menyelamati diri saya ketika sesuatu akhirnya terpikirkan dan terbukti kebenarannya setelah saya searching atau mempelajarinya.

Karena sekarang kita hidup didukung oleh teknologi, dan hobby saya diwadahi oleh media sosial, maka biasanya apa yang saya temukan tersebut akan saya share di media sosial. Kalau pun tidak, saya akan menceritakannya pada teman-teman saya mengenai ‘temuan’ tersebut.

Sebagian akan menganggap saya sombong, sebagian akan menganggap saya kurang kerjaan, sebagian akan menganggap saya selalu ingin tahu, sebagian akan menganggap saya (sok) pinter, sebagian akan menerimanya begitu saja, sebagian (ini favorit saya) mengajak saya berdiskusi, sementara sebagian lagi akan melengos dan berkata “buat apa diributin yang kaya gitu… yang penting kan bla bla bla”.

Tidak jarang saya menemukan orang tipe terakhir. Bagi mereka yang saya hormati, saya akan menggigit jari saja sambil manggut-manggut menahan emosi. Buat mereka yang setara dengan saya, saya akan melihat kondisi emosi saya… apakah harus saya tinggalkan dan tidak usah lagi diajak membicarakan hal-hal rumit di kemudian hari, atau harus saya ceramahi mengenai pentingnya pengetahuan.

Setelah menahan emosi beberapa dekade lamanya, maka saya memutuskan untuk menuliskan ini. Bagi Anda yang tidak mau pusing, yang tidak suka mendapat pengetahuan dari orang lain dan yang ingin “semuanya gampang” dalam hidup…

Memang ada beberapa hal dalam hidup yang tidak perlu “diributin”, di antaranya siapa yang salah dan siapa yang benar dalam perkelahian antara anjing si A dan kucing si B, atau bagaimana kejadiannya saat seekor tikus mengambil keju dari perangkap tikus dan tetap selamat. Namun sisanya,… selama ini menyangkut pengetahuan dan urusan umat manusia, segala sesuatu cukup berharga untuk diketahui kebenarannya.

Setelah saya analisa, ada dua tipe orang yang akan mengatakan “buat apa diributin… yang penting…”

Tipe 1: Pemalas dan bebal vs bodoh
Malas mencerna sesuatu yang baru, malas berdiskusi, malas jika harus salah, malas berpikir…
Namun saya juga tidak mengatakan bahwa apa yang saya ‘temukan’ dan bagikan selalu benar. Saya terbuka untuk diskusi, tapi bukan diskusi gampangan yang dimulai dengan ‘buat apa diributin… yang penting…”. Konyol sekali!!

Tipe 2: Arogan dan sombong vs minder
Lebih banyak tipe seperti ini yang mengucapkan kata-kata di atas. Tidak mau kalah, tidak mau jika ternyata orang lain benar, tidak mau malu. Kenapa tipe ini menghindari diskusi? Karena dia takut jika akan keluar sebagai yang kalah. Lucunya biasanya kata buat apa diributin itu akan diakhiri oleh teorinya sendiri yang mengikuti ‘yang penting kan’. Buat apa diributin mengenai istilah mana yang benar, yang penting kan (menurut aku) bla bla bla…

Lalu harus seperti apa dong…

Menurut saya, “baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan–” (Amsal 1:5)

 

Advertisements