Ketika Sang Pemancing Emosi Dibela


Masyarakat Indonesia ini adalah masyarakat yang aneh. Menurut saya, sebagian besar masyarakat Indonesia kekurangan sesuatu yang bernama NASIONALISME. Mereka tidak tahu bagaimana caranya membela tanah airnya. Mereka tidak tahu bagaimana caranya menjaga tanah airnya tetap indah. Mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan tanah airnya sejauh itu tidak menyangkut isi dompet mereka. Sorry to say, masyakarat Indonesia adalah masyarakat yang EGOIS!

Baik, sebelum saya malah jadi semakin emosi karena memberikan penilaian akan karakter bangsa ini, mari kita langsung ke pokok permasalahan yang akan saya soroti. Begitu banyak berita hangat sekaligus yang lalu lalang di media sosial belakangan ini. Salah satu yang saya soroti adalah mengenai Ibu Ani Yudhoyono yang bereaksi pada seorang pemilik akun instagram bernama@erie_nya. Sebuah kasus yang menurut saya sangat menarik karena masalah ini sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan namun berkat media sosial, sebuah wibawa kepresidenan dapat runtuh.

Kasus ini dimulai ketika sebuah keluarga presiden dari sebagian umat MANUSIA yang bertugas di sebuah negara bernama Indonesia melakukan kunjungan ke Pacitan. Dalam kunjungannya sepertinya keluarga yang terdiri dari Bapak Presiden, Istri Presiden, dua anak Presiden, dua mantu presiden dan satu cucu presiden tertarik dengan keindahan pantai Klayar. Sebuah keputusan yang manusiawi ketika keluarga ini turun dari mobilnya untuk berfoto sejenak di pantai itu. Sebuah keputusan yang manusiawi juga ketika Ibu Ani mengupload foto tersebut di Instagram.

Hal yang menarik dari foto di atas menurut saya adalah kebahagiaan setiap anggota keluarga yang ada di pantai itu, bagaimana ibu Ani bisa tampak begitu akrab bersama menantunya (hal yang jarang sekali dalam keluarga Indonesia, bukan?). Memang sedikit aneh karena mereka berpakaian batik di pantai. Tapi apakah lebih dapat diterima jika mereka ternyata berbikini dan baju renang? Apakah keluarga Presiden RI tidak boleh berfoto dengan latar belakang pemandangan RI sendiri?

But,… there’s always be haters around us… Selalu ada saja orang yang tidak suka. Lepas dari cara kepemimpinan SBY, seharusnya tidak ada yang salah dengan keputusan berfoto sejenak di Pantai Klayar dan mengupload di instagram. Lebih salah jika mereka berbaju renang dalam kondisi berjemur saat seharusnya tugas kenegaraan. Seorang pria bernama Erie Prasetyo menunjukkan kebodohannya dengan mencari-cari kesalahan dari situasi ini, dan menuangkan pendapatnya yang asal-asalan di Instagram tersebut.

Erie Prasetyo (entah siapa dia itu) merasa di atas angin ketika Ibu Ani, yang adalah Ibu Negara menjawab komentarnya (Ayolah!!! Saya sendiri akan senang sekali jika komentar saya dijawab oleh Ibu negara). Entah apakah komentar aneh si Erie ini sengaja dibuat supaya Ibu negara menjawab, atau memang isi kepalanya memang kurang beberapa gram sehingga dia mengeluarkan komentar tidak penting mengenai keluarga presiden yang berbatik ria di pantai (sekali lagi, saya lebih bisa memaklumi komentar miring si Erie jika yang dia kritisi adalah keluarga presiden berbikini di pantai saat sedang tugas negara).

Buat Anda yang belum tahu, ini reaksi ibu Ani:

@erie_nya Subhanallah, komentar anda yang sangat bodoh. Koq anda tidak berpikir bahwa kami sedang melakukan kunjungan, dan mampir sebentar ke pantai itu, sekalian lewat? Come on, apa tak ada komentar lain yang lebih bisa diterima siapa saja? Baju batik sudah dikenakan dimana2, bukan hanya untuk acara resmi saja, namun juga acara setengah resmi, bahkan santai,

Mari kita analisa dari kacamata saya (Anda bisa menganalisanya dari kacamata Anda, atau ikut dengan jalan pikiran saya…heehehe…)

“Komentar Anda yang sangat bodoh” itu sebenarnya artinya rancu, tergantung bagaimana Anda membacanya. Kalimat itu bisa berarti komentar, dari Anda yang sangat bodoh (yang bodoh adalah si Anda) atau komentar Anda, yang sangat bodoh (yang bodoh adalah komentarnya).

Saya percaya bahwa yang Ibu Ani maksudkan adalah yang kedua, bahwa yang bodoh adalah komentar dari si Anda. Karena jika yang dia maksud adalah si Erie yang bodoh maka dia mungkin akan menulis, “Anda bodoh sekali!”

Publik kemudian diarahkan pemikirannya karena jawaban si Erie bodoh ini yang karena kebodohannya salah mengartikan maksud Sang Ibu Negara

@aniyudhoyono iya Ibu, saya barangkali memang masuk dalam golongan orang Indonesia yang masih bodoh. semoga Ibu berkenan memberi saya pencerahan agar kelak saya bisa pintar seperti Ibu. tapi memang, jika tak ada orang bodoh, mereka yang pintar jadi tak begitu memiliki arti.. *saya ngga cari ngetop. saya cuma kasih komen yang tak memuji. Jika Tuhan saja bisa mengampuni dosa-dosa saya, saya percaya Ibu pun akan memberi maaf kepada saya, kepada salah satu warga negara Indonesia yang masih bodoh.. Doa saya selalu, agar Ibu dan Bapak Presiden sekeluarga terus sehat dan senantiasa mampu untuk membuat negara ini maju dan membuat pintar warga negara yang masih bodoh seperti saya. Maafkan jika komentar2 saya sebelumnya membuat Ibu tidak berkenan

Berkali-kali si Erie ini mengutuki dirinya sebagai orang yang masih bodoh (saya bingung kenapa dia tidak menggunakan saja sekalian istilah “sangat bodoh”…kenapa menggunakan kata “masih”).

Karena jawaban inilah maka media masa seperti mendapat ‘berita hangat’ yang laris dipublikasikan, memberi stempel ibu Ani sebagai: emosional, tidak mau dikritik, stress…

Saya setuju dengan kalimat dari Reza Indragiri Amriel, Psikolog Forensik dari Universitas Bina Nusantara (Binus) :

“Media sosial juga punya etika. Kalau tak bisa pegang etika, tak usah bermedia sosial,”

Hanya saja seharusnya kalimat itu lebih ditujukan bagi si Erie. Siapa yang mencari gara-gara duluan dengan sok menghakimi dan berpendapat seenaknya terhadap keluarga kepala negara? Saya berdoa semoga saja dia bukan seorang yang di dalam kitab sucinya terdapat perintah untuk menghormati pemimpin. Erie ini tipe orang yang memancing emosi orang lain dan kemudian melaporkan dirinya sebagai korban dari orang yang emosinya terpancing. Lucunya, bangsa ini (melalui media sosial) termakan oleh tipe orang semacam ini.

Saya tidak mengatakan bahwa Ibu Ani sepenuhnya benar. Memang sebagai Ibu Negara pun ia seharusnya tidak perlu mempedulikan seluruh komentar yang ditujukan kepadanya. Bukankah semakin tinggi kita berada semakin banyak orang yang berusaha ingin menjatuhkan kita. Ketika kita mengomentari orang-orang seperti ini, kita seperti sedang mengijinkan mereka (yang berada di bawah) memegang tangan kita dan menariknya ke bawah.

Seorang yang berada di bawah tidak dapat membantu kita yang berada di atas, mereka hanya dapat menarik kita turun. Seorang yang berada di atas dapat meminta tolong pada mereka yang ada di atasnya lagi, dan bertugas membantu orang yang ada di bawah.

Tanpa Ibu Ani menjawab komentar ini pun seharusnya publik dapat menilai bahwa Erie ini orang yang melontarkan komentar bodoh (entah karena dia bodoh atau memang mencari sensasi). Seharusnya ibu Ani membiarkan publik yang menilai. Menunggu mana lebih banyak…rakyat yang membelanya atau yang sepakat dengan kebodohan Erie.

Orang semacam Erie ini banyak di sekeliling kita. Kita memiliki pilihan untuk menjawabnya dengan emosi dan akhirnya menjadi sasaran empuk orang-orang bodoh, atau mendiamkannya dan mendapatkan wibawa yang memang seharusnya kita dapatkan. Yah, semoga kita belajar sesuatu dari kasus Ibu Ani ini.

Advertisements