Setelah dua minggu yang padat…saya merasa sangat terhibur dengan liburan kilat hari ini dan besok. Berangkat dengan papa, mama, adik dan dua tante favorit saya, saya benar-benar merasa menikmati liburan kali ini (saya bahkan lebih pilih ini dibanding Singapura… geezzz i love Indonesia)

Kami berangkat pk. 6 pagi dan tiba di taman Cibodas gn. Pangrango sekitar pk. setengah 9.

image

Taman Cibodas ini menurut saya adalah semacam reklame keindahan Indonesia… Tempat yang begitu indah ini menggambarkan skitar 0,5 persen keindahan Indonesia…fantastic place…

Ketika masuk, kita akan menemukan beberapa air terjun kecil dengan air yang sangat jernih, really love this kind of place…

image

Setelah berkeliling, kita akan punya pilihan untuk keluar, atau menuju air terjun utama Ciimus dengan jarak 800 meter. Jalanan menuju air terjun Ciimus ini terbuat dari batu dan naik turun. Kami sudah takut mama tidak akan kuat sampai ke tujuan mengingat asma dan stamina.

image

Namun, mama ternyata berhasil… di tengah jalan saya dan adik saya menyemangati mama, “ayo ma, anggap aja olahraga, bukan liburan” (kalimat penyemangat yang aneh, bukan?)

Di tengah jalan, saya melihat sesuatu yang mengesalkan…benar-benar memuakkan… suatu perbuatan yang pasti dilakukan salah seorang bangsa kita…lihat ini…

image

Ya…sampah!!!! Benar-benar mengesalkan… ada saja orang idiot yang merasa lebih mudah melempar sampah dan membuat sungai itu kotor daripada memegangnya dan membuangnya di tempat sampah… bodoh!

Curug Ciimus adalah air terjun cukup tinggi yang ada di ujung perjalanan kami… Menurut saya, kelelahan kami sepadan dengan pemandangan yang ditawarkannya…

image

Setelah kami puas foto-foto, kami keluar melalui jalan tadi dan baru menemukan sesudahnya bahwa jika kami tadi ke arah rumah kaca dahulu, maka kami hanya cukup berjalan 500 meter saja… well, tidak mungkin kami menempuh 500 meter itu untuk mencari tahu jaraknya, bukan?

Kami cukup kecewa karena rumah kaca tempat tanaman baru dibibit ternyata dikunci dan kami hanya dapat melihat dari luar, tapi cukup terhibur dengan lapangan rumput di sekitarnya tempat saya dan adik saya yang gila bisa bertindak gila-gilaan.

image

image

image

image

Dari situ, kami melakukan kesalahan dengan belok ke arah puncak dan bukannya kembali ke Cipanas. Kami baru menyadarinya setelah papa menelepon hotel, padahal kami sudah 1,5 jam bermacet-macet menuju arah Taman Mini… but,..it is oke to be wrong…sometimes, right? Toh…kami hanya tinggal balik arah…

Vila kami cukup baik dengan dua kamar, dua kamar mandi, dapur, ruang makan dan ruang tamu.

Sebuah pelajaran cukup penting menyusul tak lama setelah kami tiba. Mama saya bertanya pada bapak yang mengantar kami, “ga ada rice cooker pak?” yang dijawab “ga ada bu” oleh bapak itu…, sementara adik saya menjawab, “oh, tinggal beli nasi” dan saya menjawab asal “oh, gapapa pak, kami biasa makan beras kok”, papa saya menanya ulang, “ga ada rice cooker pak?” yang dijawab dengan getir oleh bapak itu.

Adik saya masih membesarkan hati bapak yang nyengir, sementara saya sudah tidak peduli, papa saya sedikit ngomel, “padahal saya tanya bisa masak nasi atau ngga..,mbaknya jawab ‘ada’… kalau tau kan saya bawa”, kedua tante dan mama saya segera menemukan jalan keluarnya… ada panci di dapur… dan dengan tenang mama berkata pada saya, “bisa masak nasi kok…tapi pake ini”

Seperti biasa, sebagai kompor dalam keluarga, saya langsung ke papa saya sambil berkata dengan nada bercanda, “Pa…papa salah tanya kemarin…harusnya papa tanyanya ‘ada rice cooker engga’, bukannya ‘bisa masak nasi ngga’… ” yang dijawab papa dengan muka bingung, “kenapa gitu?”… “kata mama nasi bisa dimasak tuh pake panci”

Saat berkumpul di meja makan kami berdiskusi… Bahwa solusi untuk masalah tidak ada rice cooker bisa berbeda untuk tiap generasi (dengan melupakan ide saya untuk makan beras haha)… Generasi saya dan adik saya akan langsung memutuskan untuk membeli nasi, (sementara generasi di bawah kami mungkin memutuskan makan indomie saja), generasi mama memiliki solusi paling tepat… bikin nasi liwet aja,..

Saudara, dalam kasus ini, mama dan kedua tante saya pemenangnya… mereka yang dapat menemukan solusi paling cerdas untuk masalah “bagaimana mendapat nasi tanpa rice cooker” yang kami hadapi…

Saya pikir, generasi saya dan di bawah saya butuh pendidikan life skill lebih banyak… apa yang terjadi saat sambungan telepon terputus? aoa yang kita lakukan tanpa cell phone? bagaimana jika tidak ada listrik? bagaimana masak tanpa listrik dan gas?

Ya, bukankah itu salah satu cara mensyukuri hidup?

Well, saya belajar cukup banyak hari ini…dari hal sepele seperti, “tidak ada rice cooker di villa”

Advertisements