Krisis Logika dan Hati Nurani, dan Menjadi Orangtua


Kembali dari Batam kemarin, saya menaiki Pesawat Citylink. Sebenarnya pesawat ini cukup nyaman, AC cukup dingin dan pramugari cukup ramah. Penerbangan kami menjadi tidak nyaman karena ada sebuah keluarga yang duduk di depan kami (selisih dua nomor saja).

Keluarga ini memiliki dua orang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun, 3 tahun dan seorang anak perempuan berusia sekitar 1,5 tahun. Entah bagaimana cara mereka mengatur, mereka hanya memesan 4 tempat duduk. Dua orang anak laki-laki yang menurut mereka mungkin “dapat diatur” mereka jadikan satu tempat duduk karena anak perempuan mereka ingin satu tempat duduk untuk dirinya sendiri.

Di sinilah awal mula kekacauan itu berasal. Ketika orangtua menempatkan anaknya sebagai ‘bos kecil’ atas dirinya. Seorang anak berusia di bawah dua tahun seharusnya duduk bersama orangtuanya, seorang anak di atas dua tahun mendapat kursi sendiri. Penukaran ini menjadikan penerbangan yang memuat 120 orang menjadi tidak nyaman.

image

Si anak berusia 1,5 tahunan ini rewel sepanjang perjalanan, berteriak-teriak entah maunya apa. Bukannya buru-buru memangkunya, si ibu malah terus menerus bertanya, “ade mau apa?” yang dijawab oleh si anak dengan teriakan yang semakin keras. Sementara si kakak dengan gemas mulai menganggu adiknya yang berteriak-teriak tidak karuan, membuat adiknya berteriak lebih keras lagi.

Setelah sekitar satu jam, si ibu akhirnya memangku anak perempuannya yang langsung tenang di pangkuannya. Namun beberapa menit kemudian, si ibu kembali menaruh anak perempuannya di bangku sebelahnya (karena dua anak laki-lakinya sibuk melihat ke luar jendela), yang membuat anak ini tak lama kemudian kembali berteriak-teriak.

Hal paling konyol yang dilakukan orangtua menurut saya adalah bertanya, “mau apa?” kepada anaknya yang masih balita. Anak yang masih balita belum mengenal ‘apa yang baik dan buruk’, sehingga mereka belum dapat ditanyai apa yang menjadi keinginan mereka, (kecuali Anda adalah orangtua bijak yang sanggup mengajar pada anak bagaimana menangani penolakan).

Mama saya sering merasa kesal melihat seorang ibu yang membawa anaknya ke warung dan bertanya setengah memaksa pada anaknya, “sok, mau apa atuh”. Ketika anaknya ingin es krim, padahal anaknya sedang batuk, si ibu itu akan menolak dan kemudian anak itu akan menangis dan berteriak-teriak.

image

Menurut mama saya, yang saya percayai sepenuhnya, anak balita tidak perlu ditanya ingin apa (tepatnya jangan diberi pertanyaan terbuka)…mamanya seharusnya tahu apa yang dibutuhkan (dan boleh) untuk anaknya. Jika ingin mengajak anak mengenai “membuat keputusan”, berilah mereka PILIHAN. Pilihan yang sudah Anda, sebagai orangtua, pikirkan baik-baik.

Sebagai contoh, ketika Anda ingin membawa anak Anda ke toko, beri mereka pilihan yang sudah Anda pertimbangkan:susu kotak atau coklat? Sehingga mereka tidak akan merasa patah hati dan mengatakan Anda sebagai pemberi harapan palsu 🙂

Logika dan aturan
Sepuluh menit sebelum pesawat mendarat akhirnya sepasang orangtua ini memiliki ide. Sang ayah yang duduk di bangku seberang akhirnya yang bertugas memangku si anak, dan anak pun tenang selama beberapa menit.

Masalahnya kemudian adalah jika pesawat akan mendarat maka bangku harus ditegakkan, meja dinaikkan dan penumpang menggunakan sabuk.

Si ayah tak lama kemudian sepertinya mendapat masalah kram kaki karena tiba-tiba ia membuka meja dan mendudukkan anaknya di meja itu…. saat pesawat sedang menukik turun. Karena pramugari sudah duduk di tempatnya, tak ada yang menegur bapak ini.

Sejujurnya, saat itu saya mulai apatis dengan bangsa ini. Belum lagi penumpang di samping saya yang menurut saya cukup dableg. Saat pesawat akan lepas landas, saya dengan suara cukup keras mengatakan pada teman saya yang duduk di samping saya bahwa pesawat akan segera lepas landas, sebaiknya dia segera menaikkan meja yang tadi dia turunkan. Bukannya ikut menaikkan meja, dia malah tidak peduli sampai pramugari memintanya yang kedua kalinya (ya…yang kedua kalinya) untuk menaikkan meja.

Tak cukup di situ, ketika pesawat akan mendarat, dia bukannya menaikkan meja segera setelah pengumuman diberikan, dia malah santai saja hingga pramugari menegurnya. Itu pun bukannya segera menaikkannya, ia menunggu pramugari pergi jauh baru menaikkannya (mungkin gengsi jika langsung menurut).

Saya kemudian mengatakan pada teman saya… “Orang Indonesia itu ya…selama aturan tidak masuk logika mereka, mereka pikir tidak ada salahnya jika dilanggar. Sepertinya mengapa menaikkan meja saat landing atau boarding tidak dapat masuk logika mereka yang terbatas”.

image

Anda lihat saja di lampu merah…Ketika logika mereka yang setara dengan simpanse mengatakan bahwa “tak apa melanggar”, maka mereka melanggar… Atau anak SMA yang melempar air keras ke bus,… ketika logika mereka mengatakan “tak apalah” maka mereka lempar.

Masalahnya…Logika mereka dangkal sekali!!

Saya baru saja melakukan kesalahan konyol beberapa hari yang lalu. Seorang teman menghubungi saya di inbox facebook bertanya “ada temen yang jual pulsa?”. Selanjutnya ia mendesak agar pulsa segera dikirim.

Tanpa curiga, dan karena lagi meeting di Batam, saya meneruskan kebutuhannya, pulsa senilai Rp. 100.000 untuk dua nomor (total Rp.200.000) ke papa saya, yang karena percaya pada anaknya mengirimkan langsung ke dua nomor itu.

Letak kesalahan saya terbesar adalah:
1. Saya tahu nomor telepon teman saya, dan saya tidak curiga ketika ia meminta pulsa ke nomor lain.
2. Ketika ia meminta pulsa berikutnya, saya mengatakan ke teman saya (yang segereja dengan peminta pulsa) yang kemudian merekomendasikan ke temannya yang memang jual pulsa. Orang tersebut kemudian memberi hingga Rp. 650.000 ke beberapa nomor karena percaya pada teman saya.

Kemarin malam saya baru tahu bahwa facebook teman saya dihack, dan korbannya tidak hanya satu, banyak sekali… bahkan istrinya sendiri termasuk di dalamnya… dan si hacker berhasil menghack anak korban juga dengan modus yang sama…minta pulsa.

Saudara… bangsa ini sedang dalam krisis logika, akal sehat, dan kebaikan hati… Beda agama membuat lurah ditolak, tidak bisa disogok membuat pejabat tidak disukai…

image

Namun saya agak terhibur ketika melewati Jakarta… Angin segar pada bangsa ini adalah dua pejabat yang bersih dan berintegritas ini. Jika Jokowi dan Ahok sampai bermasalah, entah apa yang akan terjadi pada bangsa ini.

Saudara, kita bisa jadi seperti dua orang ini di lingkungan kita sendiri. Jika Anda merasa tidak memiliki logika, setidaknya gunakan hati nurani. Jika Anda tidak memiliki hati nurani, setidaknya taati aturan tanpa perlu memasukkannya ke dalam logika dan hati nurani Anda… percayalah, ketika Anda taat aturan, Anda sedang mengasah hati nurani Anda…lama kelamaan logika Anda yang terasah..

Mari perangi krisis logika dan hati nurani!

Advertisements