I am a bad master…Sorry, Panther…


Baru saja saya mengalami sebuah kejadian yang mengguncangkan jiwa… Berlebihan mungkin, tapi sampai tulisan ini dibuat, saya masih merasa sangat bersalah pada Panther… Oya, saya jarang menceritakan Panther di sini. Panther adalah anjing Pom hitam legam yang baru beberapa bulan saja bersama kami. Seekor anjing Sanguin yang ceria dan sulit mengalami perkembangan secara intelektual (beda dengan sansan). Namun Panther tidak pernah mau lepas dari tuannya, dapat pulang sendiri ke rumah (tidak kabur) dan tidak perlu tali saat berjalan-jalan dengan tuannya.

Karena sulit berkembang secara intelektual dan sering sekali pipis di mana saja (dan kemudian menginjak-injak pipisnya sendiri) kami mengurung Panther di sebuah kurungan yang kami buat berukuran 50 cm x 1,5 meter, sementara Sansan bebas di luar. Di antara Sansan dan Pather terdapat persaingan yang cukup ketat. Sansan tidak mau menghampiri saya kalau Panther ada di luar… Sansan akan mengikuti saya ke mana saja jika Panther dikurung. Sebaliknya, Panther tidak peduli… Ada ataupun tidak ada Sansan dia akan tetap membuntuti saya kemana-mana.

Tadi, sepulang dari rapat dengan klien, saya bermaksud mengajak Panther jalan-jalan malam. Biasanya, dia akan keluar dan menunggu saya di depan pintu. Tadi, teman saya ada di depan pintu dan Panther takut pada teman saya. Jadi pada saat pintu dibuka, dia melesat lari secepat-cepatnya ke tengah jalan. Saat itu ada mobil melintas dengan cepat. Saya tidak bisa menyalahkan mobil itu karena Panther memang hitam pekat dan tidak terlihat di dalam kegelapan.

Saya tidak begitu mengetahui bagaimana persisnya karena posisi saya masih ada di dalam rumah, sementar teman saya di luar. Hal berikutnya yang saya ketahui adalah Panther menguik-nguik di luar sementara teman saya dengan yakin mengatakan “wah, pasti mati itu mah”. Saya sangat ketakutan dan berkata, “ah masa”… Teman saya menjawab lagi, “itu mobil secepet itu, dan Panther lari sekuat-kuatnya…mati pasti sebentar lagi”.

Kami bertiga (saya, teman saya dan murid saya) beberapa detik kemudian hanya terdiam tidak tahu harus berbuat apa, sementara Panther masih menguik-nguik di luar.

Ah Saudara, Anda mungkin tidak dapat membayangkan perasaan saya saat itu. Saya sangat ketakutan dan diliputi perasaan bersalah yang sungguh amat besar. Perasaan bersalah saya semakin besar ketika dari kegelapan saya melihat Panther berjalan tertatih-tatih sambil terus menguik-nguik ke arah saya. Ya, ia berjalan ke arah tuan yang sudah mengabaikannya ini. Saya takut sekali melihatnya, membayangkan akan banyak darah… membayangkan tulangnya patah…

IMG-20130930-01343_旋转

Saya merasa sangat bersalah, namun kemudian jongkok, merentangkan tangan saya dan berkata “Panther sayang…ayo sini” dan dia terus berjalan tertatih-tatih ke arah saya. Betapa leganya saya karena dia tidak apa-apa, namun perasaan bersalah saya semakin besar. Bagaimana kalau tadi ada mobil lagi yang melintas dan menggilas tubuh Panther yang sedang berjalan tertatih-tatih… Dia tidak terlihat di kegelapan. Saya kemudian memeluknya… dan Saudara tahu? Dia berhenti menguik… Dia langsung tenang di pelukan saya… Melihat ke arah saya dengan “wajah seperti tersenyum”nya yang biasa dengan mata berlinang-linang.

Ya…saya tuan yang sangat buruk… sangat amat buruk… Saya sudah mengabaikannya di detik pertama ia membutuhkan saya… I am so sorry dearest Panther…

Panther memang tidak apa-apa… Saya sudah merabanya dan memeriksanya sekilas dan tidak ada tulang yang patah. Dia bisa berjalan walau tertatih-tatih. Besok saya akan membawanya ke dokter untuk diperiksa… mudah-mudahan saja dia bisa melompat-lompat lagi dan berlari seperti seekor Panther…

Berita baiknya untuk Panther… Kami tidak akan mengurungnya lagi… Tadinya kami berencana akan memberikannya pada seorang teman… Entahlah setelah kejadian ini, apakah kami masih akan memberikannya atau tidak. Rasa sayang saya pada Panther bertambah… ditambah pula rasa bersalah dan kagum karena dia sudah berjuang mengatasi shocknya dan berjalan menghampiri kami walau dengan kesakitan dan susah payah.

Tuhan… betapa beruntungnya saya memiliki tuan yang tidak seperti saya. Betapa bersyukurnya saya ketika saya tertabrak masalah kehidupan, Engkau tidak menatap saya ngeri dan menunggu saya menghampiri-Mu sambil berteriak-teriak kesakitan. Betapa bersyukurnya saya karena Engkau yang terlebih dahulu menghampiri saya ketika saya terluka…

Advertisements